Oleh : Annisa Putriyana
(Mahasiswi STEI Hamfara Yogyakarta)

Menurut FAO pada tahun 2015 terdapat negri surga yang mampu menghasilkan beras sebanyak 70,8 juta ton. Menempati posisi ke tiga setelah China dan India. Baru beras saja sudah luar biasa! Belum lagi SDA berupa tambang emas, minyak, lautan dan berbagai SDA besar lainnya. Sungguh, benar benar negeri surga.

Namun ironis, negri bak surga memiliki keadaan dengan mayoritas jumlah penduduk dalam garis kemiskinan. Ya, inilah negri zamrud khaltulistiwa yakni Indonesia.
Keadaan Indonesia dari tahun ketahun sangatlah memprihatinkan. Berawal dari garis kemiskinan, terjadi banyak kasus yang dilahirkan. Seperti kasus mencuri, pembunuhan, begal, dan berbagai tindak kriminalitas lainnya.

Banyaknya kasus diatas, terjadi akibat sistem ekonomi politik kapitalisme yang diterapkan. Sistem ekonomi politik ideologi kapitalisme dengan konsep pasar bebasnya mampu membuat negeri surga menjadi sengsara. Bagaimana tidak?! Salah satu faktor gagalnya konsep pasar bebas adalah adanya perbedaan kepemilikan asal dalam kekayaan SDA.

Pasar bebas memiliki mekanisme yang tidak adil, pasalnya siapa saja yang memiliki kemauan dan kemampuan dalam mengolah SDA, maka dia berhak memiliki SDA tersebut. Padahal, perlu kita ingat bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan yang berbeda, ada yang terlahir miskin, ada yang terlahir dengan kegelimangan harta.

Sehingga konsekuensinya, mereka yang memiliki akses ekonomi akan semakin kaya bahagia, sedangkan merwka yang tidak memiliki akses ekonomi akan semakin miskin sengsara.
Berbeda dengan sistem ekonomi ideologi Islam. Islam sebagai sebuah ideologi, punya solusi paripurna untuk masalah kemiskinan.

Pertama, islam menetapkan akar problem kemiskinan adalah buruknya masalah distribusi.

Kedua, Islam memiliki seperangkat aturan yang sistematis untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.

Jika dalam ekonomi kapitalis kepemilikan diserahkan kepada pasar bebas, Islam memberikan hak kepemilikan yang tegas.

Konsep kepemilikan dalam Islam ada 3, yakni kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara.

Misal pada konsep kepemilikan umum. Harta yang boleh dimiliki siapapun adalah harta yang dibutuhkan oleh semua orang, yakni padang rumput, api dan air. Sehingga segala zat yang mengandung unsur demikian haram hukumnya jika di privatisasi baik kepada pribadi maupun oleh negara.

Maka betapa luar biasanya sistem Islam, yang dibangun tanpa ada kepentingan, karna sistem aturan yang turun dari Maha Pemilik Kekuasaan yakni Allah Azza wa Jalla. Saatnya para elit politik beserta umat berpaling kepada Islam.

Memanfaatkan isu kemiskinan untuk membuka mata umat agar memahami islam sebagai solusinya dengan menerapkan dalam sistem pemerintahan Islam. Kemiskinan akan tuntas berganti dengan kesejahteraan yang diberkahi Allah Rabb Semesta Alam.[MO/sr]

Posting Komentar