Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com- Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)  alias Partai Banteng mengalami fase yang buruk dalam Pilkada Serentak 2018. Dari 15 provinsi yang memiliki hasil quick count, PDIP kalah telak di 11 provinsi. PDIP sendiri hanya menang di 4 daerah klasiknya, seperti Jawa Tengah, Bali, Sulsel, Maluku.

Berbagai pandangan muncul akibat kekalahan partai yang mendukung penuh penista agama Ahok dalam pilkada Jakarta 2017 lalu.
Dikutip dari tirto.id, pengamat politik dari Unair, Airlangga Pribadi menilai PDIP membutuhkan pembenahan total.

“Ya, apa pun mekanismenya, harus ada evaluasi total terhadap kesiapan kader partai, dalam proses elektoral politik, strategi politik,” kata Airlangga kepada Tirto.

Airlangga  juga mengatakan bahwa kegagalan ini menilai kegagalan berturut-turut dalam dua pilkada serentak ini buah dari ketergantungan terhadap Megawati.

Bukan rahasia lagi bila, semua pengambilan keputusan terkait dengan kader-kader yang akan maju dalam Pilkada ditentukan langsung DPP PDIP yang masih dipimpin sosok wanita kontroversial tersebut.

“Ini kegagalan DPP sekarang dalam menentukan calon kepala daerah yang bisa mengangkat PDIP dan itu berlangsung selama putaran ini dan kemarin. Ini harus ada evaluasi total di internal. Tentu ini akan jadi kebijaksanaan ketua partai,”ujarnya.

Chain Reaction
Analisis menarik diutarakan oleh Direktur Eksekutif Center Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi, ia menilai kekalahan kali ini merupakan chain reaction/reaksi berantai dari kekalahan sebelumnya. PDIP sendiri mengalami kekalahan di 44 daerah pada Pilkada serentak 2017 lalu.

Ia membenarkan salah satu penyebab kekalahan tersebut salah satunya adalah Ahok Effect.

"Bukan hanya persoalan lalu terkait Ahok Effect yang menjadi beban Politik PDIP dalam konteks banyak kalah calon kepala daerahnya yang diusung oleh PDIP. Kekalahan tersebut bisa juga karena salah satu faktornya karena ngototnya PDIP," katanya di Jakarta, Rabu (27/6).

Selain itu, imbuhnya, faktor kekalahan lain adalah f 'Jokowi Effect'. Tidak sedikit rakyat yang menilai sosok tersebut telah gagal dalam memimpin Indonesia.

"Selama ini, kenaikan harga daging, cabai, bahan pokok lainnya, bahkan nilai dollar, tidak ditangani dengan cepat. Tapi ada kesan, kenaikan harga ini dibiarkan saja, diserahkan ke mekanisme pasar, dan mencekik rakyat miskin," pungkasnya.

Bersyukurlah Umat Islam
Dikutip dari harianterbit.com, fenomena ini menjadi bukti bahwa umat Islam sudah sadar mana kawan dan mana lawan.

“Ya betul umat mulai sadar, sudah meninggalkan PDIP," kata Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Anton Tabah Digdoyo kepada Harian Terbit, Kamis (28/6).

Menurut Anton, PDIP telah ditinggalkan umat Islam karena partai berlambang kepala banteng tersebut d telah mendukung dan pro penista agama.

"Orang yang pro penista agama bahkan mudah terima faham-faham yang kontra Pancasila seperti LGBT, komunisme, liberal, sekuler dan lainnya yang sangat bertentangan dengan agama," tegasnya.

Hal inilah yang patut disyukuri oleh umat Islam, pasalnya partai kontroversial ini kerap melukai hati umat Islam. Dimulai dari dukungannya terhadap Ahok , pembubaran ormas Islam, kriminalisasi ulama dan diizinkannya pendakwah ajaran menyimpang bergabung dalam partainya.

Bila umat Islam terus menjauhi partai ini, tak heran Jokowi Sang Petugas Partai akan mudah untuk turun pada 2019 kelak. Alhasil perubahan yang selama ini didambakan oleh umat Islam akan semakin mudah terwujudkan, mengingat sosok sentral penghalang dakwah Islam telah diruntuhkan.[MO]

Referensi
http://nasional.harianterbit.com/nasional/2018/06/28/99246/0/25/Ditinggalkan-Umat-Islam-PDIP-Kedodoran-di-Jawa

Posting Komentar