Oleh : Netty Faqih

Mediaoposisi.com- Jared Diamond, ilmuwan asal Amerika Serikat yang juga peraih penghargaan bergengsi Pulitzer 1997, dalam sebuah pidatonya pernah mengatakan bahwa negara seperti, Indonesia, Columbia dan Philipina, adalah contoh termasuk peradaban yang sebentar lagi akan punah.

Berbicara tentang kepunahan, hal ini membuat kita bisa belajar dari masa lalu.

Ketika bangsa Cina ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar. Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali.Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali perperangan besar.

Pada setiap kali perperangan itu, pasukan musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang.

Cina di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia. Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.
Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa apabila ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, ada tiga cara untuk melakukannya, yaitu:
1. Hancurkan tatanan keluarga
2. Hancurkan pendidikan
3. Hancurkan keteladanan dari para tokoh dan rohaniawan (ulama, ustadz, habaib, pendeta dsb).

Begitulah dengan kondisi saat ini, untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan ibu-ibu agar sibuk dengan dunia luar, menyerahkan urusan rumah tangga kepada pembantu. Para ibu akan lebih bangga menjadi wanita karir ketimbang ibu rumah tangga dengan dalih hak asasi dan emansipasi.

Kedua, pendidikan bisa dihancurkan dengan cara mengabaikan peran guru. Kurangi penghargaan terhadap mereka, alihkan perhatian mereka sebagai pendidik dengan berbagai macam kewajiban administratif, dengan tujuan materi semata, hingga mereka abai terhadap fungsi utama sebagai pendidik, sehingga semua siswa meremehkannya.

Hal ini semakin dibantu oleh sistem pendidikan yang sekuler sistem pendidikan yang jauh bahkan meniadakan fungsi agama didalamnya.  Jika hal ini sudah berhasil tertanam didalam benak murid dan guru maka keduanya akan saling meremehkan dan menindas hak satu sama lain.  Untuk lebih realnya mari kita lihat potret pendidikan hari ini.

Dunia pendidikan yang menjadi ladang memperbaiki moral meningkatkan akhlaq dan iman serta mencerdaskan sudah beralih fungsi menjadi dunia yang sekuler, diskriminatif,  anti aktivitas pengajian islami dan setia pada ide-ide sekuler. Akibatnya,  output pendidikan yang dihasilkan jauh dari harapan untuk perubahan yang hakiki.

Ketiga, untuk menghancurkan keteladanan para tokoh masyarakat dan ulama atau rohaniawan adalah dengan cara melibatkan mereka kedalam politik praktis yang berorientasi materi dan jabatan semata, hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai. Tidak ada lagi orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatannya.

Apabila ibu rumah tangga sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap dan para rohaniawan dan tokoh panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi ini dengan nilai-nilai luhur? Tidak ada.

Itulah awal kehancuran yang sesungguhnya. Saat itulah kehancuran bangsa akan terjadi, sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bangunan fisik yang megah, dan dibawa dengan kendaraan yang mewah. Akan tetapi Semua tak akan berarti apa apa, rapuh dan lemah tanpa jiwa yang tangguh. Inilah indonesia hari ini.[MO]

Posting Komentar