Oleh : Hilda Banjar, S.Si.

Mediaoposisi.com-  Sekiranya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan yang terdapat di bulan Ramadhan, tentulah mereka mengharapkan agar seluruh bulan adalah bulan Ramadhan” [HR. Ibnu Huzaima]

Sesungguhnya shaum bulan Ramadhan merupakan salah satu syiar yang menyatukan kaum Muslim untuk mengingatkan mereka bahwa Rabb mereka adalah satu, agama mereka pun satu, kiblat mereka sama dan tujuan mereka juga satu. Lebih dari itu, Ramadhan semakin mengokohkan bahwa mereka adalah umat yang satu, berbeda dengan umat manusia lainnya.

Juga, mengingatkan mereka bahwa umat yang berakar ini tidak boleh tetap dalam keterpecahbelahan menjadi lebih dari lima puluh negara boneka kecil-kecil. Tidak boleh juga tetap tanpa Khilafah yang menyatukan mereka, serta tidak boleh terus menerus tanpa penerapan syariat Islam yang menjadikan mereka mulia dan bahagia.

Dengan datangnya bulan Ramadhan yang diberkati maka lebih pantas bagi kaum Muslim sejenak berdiam diri sebagaimana dilakukan di setiap bulan Ramadhan, untuk melakukan koreksi (muhasabah) dan pengkajian. Koreksilah diri kita sendiri sebelum kita dihisab oleh Allah SWT.

Apa andil masing-masing kita yang sudah diberikan terhadap Islam hingga saat ini? Apakah telah berupaya menghidupkan hukum-hukum Islam yang telah hilang? Apakah mematikan bid’ah dan menghidupkan Sunnah? Apakah telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana para sahabat yang mulia?

Apakah turut mengemban dakwah Islam serta bergabung dalam aktivitas untuk mengembalikan kehidupan Islam kaffah ? Atau kita ridha dengan kondisi dan aktivitas yang sebaliknya?

Ramadhan sesungguhnya adalah momentum untuk melakukan muhasabah tersebut karena di dalamnya Allah berikan berbagai keberkahan bagi hamba-hamba yang beriman agar dapat kembali melangkah lebih baik dalam setiap amalnya.Allah jadikan Ramadhan sebagai bulan penuh rahmat, ampunan dan berkah.

Di dalam bulan yang mulia ini diturunkan al-Qur’an sehingga disebut juga bulan Al-Qur’an. Lailatul Qadar menjadi bonus tak terkalahkan, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, perisai hawa nafsu, menjadi penebus untuk setiap dosa yang telah lalu ketika khusyu memohon ampun dan meraih lailatul qadar, mendapat syafaat , wajah dijauhkan dari api neraka  dan masih banyak lagi keberkahan yang dapat kita raih.

Namun untuk meraih apa yang telah Allah berikan di dalam bulan tersebut, akan melewati berbagai ujian di antaranya adalah terlenanya manusia dengan keberkahan Ramadhan sehingga tidak optimal dalam bersungguh-sungguh meraihnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampuni semua dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR. Bukhari no. 38, Muslim no. 760)

Hadis ini menyampaikan bahwa jika seseorang berpuasa dengan iman dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, namun harus dilihat lagi makna dari iman dan pengharapan, apakah ada dalil yang mengkhususkannya atau tidak.

Sebagaimana sabda Nabi SAW :
Shalat lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at dan (dari) Ramadhan ke Ramadhan, adalah penggugur dosa (seseorang pada masa) di antara waktu tersebut sepanjang ia menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim)

Bahwa diampuninya dosa jika seseorang tidak melakukan dosa besar, sebagaimana kaidah syara yang mengatakan bahwa:
دليل العام يبقى في عمومه ما لم يرد دليل التخصيص
 “Dalil yang umum tetap berada pada keumumannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya”.

Ramadhan Bulan Para Pahlawan Islam

Allah telah mewajibkan kita shaum agar kita menjadi hamba-hamba yang bertakwa. Firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Qs. al-Baqarah[2]: 183).

Allah telah menentukan hikmah bagi orang yang berpuasa, yaitu takwa. Takwa seperti yang didefinisikan oleh sebagian Salafus Shâlih adalah: Takut kepada Allah Yang Maha Agung (al Jalîl), menerapkan wahyu yang diturunkan (at Tanzîl) dan mempersiapkan diri terhadap hari keberangkatan/kematian (ar Rahîl).

Takut kepada Allah mampu menjadikan seorang individu dekat dengan Allah dan tunduk kepada-Nya. Ia diselimuti oleh suasana penuh keimanan kuat. Ketahuilah, bahwa peperangan terbesar yang pertama di dalam Islam adalah perang Badar yang dilakukan kaum Muslim pada bulan Ramadhan, ketika perasaan mereka diliputi oleh taqarrub kepada Allah.

Akan tetapi para sahabat ra telah memikul beban yang berat itu dengan rasa senang dan gembira. Dalam hal ini para sahabat ra merupakan sosok terbaik yang patut diteladani. Mereka adalah generasi terbaik dari umat terbaik yang diturunkan untuk seluruh manusia ini.

Puasanya mereka tidak menghalanginya untuk menjalankan kewajiban-kewajiban yang amat berat, seperti berperang dan jenis-jenis perbuatan berat lagi mulia lainnya. Bahkan hal tersebut makin mendekatkan diri mereka kepada Allah dan menambah dorongan pada mereka untuk berkorban, baik harta ataupun yang lain. Demikianlah sejarah telah mencatat perang Badar Kubra terjadi pada bulan Ramadhan, begitu juga penaklukkan kota Makkah al-Mukarramah terjadi di bulan yang diberkati ini.

Sa’ad bin Abi Waqash (perang qodisiyah), nAmru Bin Ash (pembuka mesir/babilonia), Thariq Bin Ziyad (pembuka Andalusia) hingga Muhammad Al-Fatih (penaklukan konstantiniyah)  adalah para pahlawan yang mengikuti jejak Rasulullah SAW, memimpin perang pada bulan Ramadhan dan memenangkannya, Allahu Akbar

Para sahabat ra memaknai  bahwa Allah telah mewajibkan shaum Ramadhan atas kaum Muslim, serta menjadikannya sebagai bulan untuk berlomba-lomba melakukan amal kebaikan dan amal shaleh. Mereka sangat memegang teguh sabda Rasulullah SAW,
Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkati. Allah membukakan (dan menurunkan) untuk kalian rahmat, mengosongkan (menghapuskan) kesalahan-kesalahan, mengabulkan doa. Allah SWT melihat persaingan kalian  dan para Malaikat menyenangi kalian. Allah akan menyirami kalian dengan kebaikan. Dan sungguh celaka siapa saja yang telah diharamkan atasnya rahmat Allah ‘azza wa jalla." [HR. Thabrani dari Ubadah bin Shamit].

Belajar dari para sahabat memaknai bulan Ramadhan dan amal-amal yang mereka lakukan, maka kita dapat menjadikan Ramadhan sebagai titik awal untuk mendakwahkan Islam, berjuang untuk Islam dan tak ragu mengerahkan segenap kemampuan untuk kemuliaan Islam. Sebagaimana firman Allah SWT,

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Tidaklah suatu kaum, yang diperbuat kemaksiatan-kemaksiatan di antara mereka, kemudian mereka sanggup mengubah hal itu; lantas mereka tidak mengubah hal tersebut, kecuali dikhawatirkan bahwa Allah akan menimpakan siksaan terhadap mereka semua secara umum.” (HR. Abu Dawud)

Demikian juga sabda Beliau,

Perumpaan orang yang menjaga dan menerapkan batas (peraturan) Allah swt adalah laksana kelompok penumpang kapal yang mengundi tempat duduk mereka. Sebagian mereka mendapat tempat di bagian atas, dan sebagian lain di bagian bawah. Jika mereka (yang ada di bagian bawah) membutuhkan air, mereka harus berjalan melewati bagian atas kapal. Mereka berujar, ‘Bagaimana jika kami melubangi saja bagian bawah kapal ini (untuk mendapatkan air) sehingga kami tidak perlu sampai mengganggu orang yang berada di bagian atas.’ Jika kalian membiarkan mereka berbuat menuruti keinginan mereka itu, maka binasalah mereka, dan seluruh penumpang kapal itu. Namun, jika kalian mencegah mereka, selamatlah mereka dan seluruh penumpang yang lain.” (HR. Bukhari)

 “Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, hendaklah mengubahnya dengan lisannya; jika tidak mampu, hendaklah mengubahnya dengan kalbu. Sesungguhnya hal itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Majah)

Itulah yang seharusnya kita lakukan agar kita bias menjadi ‘hero’ bagi umat dan meraih takwa sebagaimana yang diraih oleh  generasi salaf umat ini berupa keagungan dan kemuliaan dari Allah atas amal mereka.

Dan hal itu termaktub di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Ketahuilah bahwa pertolongan/kemenangan yang Allah janjikan terhadap mereka terjadi di bulan Ramadhan, berupa kemenangan/pertolongan yang amat besar, yaitu penaklukkan Kota Makkah. Itulah yang diceritakan Allah di dalam Kitab-Nya yang mulia, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong." (Qs. an-Nashr [110]: 1-2).

Semoga kita termasuk bagian dari generasi yang mampu meraih kemuliaan bulan Ramadhan dengan menjadikan dakwah sebagai amal-amal yang utama dalam bulan yang mulia ini.[MO/sr]

Posting Komentar