Oleh : Durrotun Inayati

Mediaoposisi.com-  Uang adalah salah satu alat tukar menukar untuk melakukan proses transaksi muamalah, hutang piutang dan sebagainya. Di Indonesia sekarang ini, mata uang menggunakan mata uang kertas yang nilainya bersifat tidak permanen.

Terkadang nilai mata uang kertas itu naik dan terkadang turun, tetapi memang tidak jarang kalau uang kertas nilainya naik.

Islam memandang bahwa uang kertas itu terdapat unsur Riba Fadhl dan Riba Nasi’ah. karena ketika uang kertas Asing itu nilainya naik dan Indonesia nilai mata uangnya turun akan adanya ketidakseimbangan dalam bertransaksi dan ketika Indonesia berhutang, hutang yang harus di bayarpun akan semakin menaik. Itu mengapa di dalam Islam hanya ada 2 mata uang yakni Dinar dan Dirham.

Mata uang Dinar dan Dirham ini bersifat permanen dan akan terus stabil nilainya yang bertumpu pada zatnya karena terbuat dari emas dan perak. Sifat ini cocok untuk kriteria mata uang sebagai ukuran barang dan jasa, standar ukuran haruslah stabil dan tidak berubah ubah.

Nilai emas akan terus menerus terpelihara dari inflasi, dengan begitu masyarakat akan lebih mudah dalam melakukan transaksi.[MO/sr]

Posting Komentar