Oleh: Lian Lian

Mediaoposisi.com- Nah, tulisan apalagi ini? Judulnya kok nyleneh! Tenang, terusin aja baca, ntar juga tahu maksudnya.Saya sengaja menulis ini agar kita semua melek apa yang tengah terjadi akhir-akhir ini.Banyak di antara kita yang masa bodoh dengan kenaikan kurs dolar. Bahkan ada celotehan yang bilang, ah gue kan sehari-hari pakai rupiah, ngga ngaruh juga dolar nembus 14 ribu, 20 ribu sekalipun juga ngga ngaruh!

Eit...bener nih?

Ada lagi celotehan pejabat yang bilang kurs dolar bagus buat ekspor, kita dapat pemasukan lebih..
Cuma, masalahnya, kalau dilihat secara utuh apa bener seperti itu?
Ok, kita mulai pembahasan dari gorengan dulu ya. Haha, jujur ini gara-gara tulisan ini dibuat menjelang buka puasa, jd terbayang gorengan haha.

Apa hubungannya dengan gorengan?

Ok, kalau kita liat gorengan, paling tidak ada 3 hal yang dominan, yaitu tempe atau tahu, tepung dan gas elpiji.
Nah, tempe/tahu bahan bakunya adalah kedele yang kita tahu, kita masih impor. Sedangkan tepung terigu bahan bakunya adalah gandum yang ternyata ini impor juga. Sedangkan elpiji kita ternyata impor juga.

Yang, namanya import, pastilah bayarnya pakai dolar. Dan jika dolar makin tinggi, sudah pasti siap-siap, kita harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk bisa menikmati gorengan.

Jadi, sekalipun sehari-hari kita pakai rupiah, ternyata kita makan gorengan itu juga memerlukan dolar. Pabrik pengolah tempe, perlu dolar untuk mengimpor kedele. Bulog perlu dolar untuk mengimpor gandum sebagai bahan baku terigu. Pertamina perlu dolar untuk mengimpor elpiji.

Ketika harga dolar meninggi, maka lebih banyak rupiah yang diperlukan untuk mendapatkan 1 dolar. Nah, maka perlu ada uang rupiah tambahan. Katakan kalau dulu 1 dolar itu Rp 10.000, dan sekarang jadi Rp 14.000, maka pabrik perlu tambahan Rp 4000 untuk mendapatkan 1 dolar. Nah, dari mana tambahan selisih Rp 4000 itu? Tentu saja dari harga jual yang dinaikkan.

Nah, siapa yang menanggung kenaikan harga jual itu? Ya konsumen, kita ini yang bayar. Bisa jadi kalau sepotong gorengan sekarang harganya sekitar Rp 1000, sebentar lagi jadi Rp 1500.

Ini baru ngomongin pengaruh dolar ke gorengan. Belum ngomongin barang konsumsi kita sehari-hari yang lain seperti beras bahkan sampai garam yang masih impor.

Kalau kita terusin  balik lagi ke pabrik terigunya. Kenaikan harga gandum impor itu pastilah menggerus modal mereka karena mengharuskan mereka mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk mendapatkan gandum dalam jumlah yang sama. Pilihan buat pabrik ada 2 sebagai solusinya. Menaikkan harga jual atau melakukan efisiensi.

Jika mereka menaikkan harga jual terigu, maka tukang gorengan pasti akan menaikkan harga dagangannya. Jika ini yang terjadi, maka konsumsi gorengan pasti akan turun. Atau jika pun tidak turun, dengan gaji yang tetap sama, masyarakat  akan lebih selektif berbelanja.

Akibatnya mulai muncul dagangan-dagangan lain yang mulai tidak dibeli masyarakat karena uang nya sudah tidak cukup, sudah tergerus untuk beli gorengan haha. Bisa jadi pedagang gayung atau kemoceng mulai sepi pembeli huhu.

Nah, inilah yang namanya efek domino. Dari urusan dolar sudah merembet ke gorengan. penjual gayung hingga kemoceng hehe. Ini cuma contoh, yang bener-bener terpengaruh lebih banyak pastinya.

Kembali ke pabrik terigu tadi. Jika pabrik terigu memilih menaikkan harga terigu, tetap saja ada batasnya. Kalau dolar terus naik, tidak mungkin harga terigu terus dinaikkan juga. Maka jalan berikutnya adalah efisiensi. Dan yang paling rawan dalam masalah ini adalah efisiensi tenaga kerja. Mulai dari pengurangan jam kerja, sampai opsi PHK adalah sesuatu yang mungkin diambil.

Nah, inilah contoh kecil dari efek naiknya dolar. Efeknya kemana-mana karena negara kita masih terlalu banyak impor sehingga sangat rentan terhadap kenaikan dolar. Jangan samakan negara kita dengan Cina yang memiliki nilai export lebih besar daripada import.

Buat negara dengan nilai export lebih besar daripada import, penguatan dolar adalah berkah. Sedangkan bagi negara kita, dimana import lebih besar daripada export, penguatan dolar adalah azab.

Jangan bodohi rakyat dengan bilang lemahnya rupiah terhadap dolar baik buat export. Masalahnya karena export kita lebih kecil drpd import kita. Tambahan pemasukan dari export tidak bisa mengimbangi keluarnya uang yang lebih besar untuk membayar import. Artinya secara total kita mesti mengeluarkan dolar untuk membayar defisit perdagangan (ups maaf bahasa langit).

Kalau menilik data defisit bulan April 2018 kita yang mencapai USD 1.6 Milyar, itu artinya dengan kurs Rp 14.000, negara harus mengeluarkan sekitar Rp 23 Trilyun untuk membayar pihak luar (negara lain). Itu baru 1 bulan April kemarin. Nah, darimana uang Rp 13 T itu didapatkan? Ya dari pajak, kenaikan BBM dan kenaikan harga2 barang kebutuhan yang semua kita harus tanggung. Ini di posisi dolar Rp 14.000. Bagaimana jika dolar menyentuh Rp 17.000 atau bahkan Rp 20.000?

Sst... angka Rp 23 Trilyun di atas bukan angka main-main. Itu hampir 4 x lipat angka korupsi e KTP yang 6 Trilyun yang hebohnya ngga ketulungan kemarin. Dan ini juga bukan hanya sekali, tapi terus tiap bulan sampai April 2019 jika terus dibiarkan. Kalau dibiarkan setahun lagi bisa nembus Rp 200 Trilyun. Apalagi mau diterusin 5 tahun lagi, bisa nembus Rp 1200 Trilyun, melebihi korupsi BLBI  yang Rp 600 Trilyun yang bikin Indonesia bangkrut di tahun 1998.

Jadi, jangan bilang ini kondisi aman-aman saja. Orde Baru dulu runtuh gara-gara dolar menyentuh Rp 17.000 karena banyak perusahaan tidak kuat menahan biaya dan harga bahan baku yang melonjak tinggi akibat hampir semua bahan baku dan biaya itu tergantung dolar. Maka PHK dimana-mana, harga susu melambung tinggi, harga sembako menggila. Akankah ini terulang lagi?

Mudah-mudahan kita segera sadar. Jangan jadi kodok rebus. Loh kok kodok rebus?

Ya, kodok adalah binatang yang bisa beradaptasi dengan suhu lingkungan. Ketika dia dimasukkan ke panci berisi air dingin, dia tenang. Begitu api di bawah panci dinyalakan pun dia tenang. Begitu suhu air makin meninggi pun dia tenang karena tubuhnya bisa beradaptasi dengan panas air di sekitarnya. Hingga ketika air mendidih pun, dia tenang bahkan damai karena sudah tak bernyawa.

Yuk, segera sadar, segera ubah keadaan, sebelum semuanya terlambat Jangan merasa aman di tengah kondisi bangsa yang memprihatinkan. Pilihan kita ada 2, bergerak meneriakan perubahan, atau tetap tenang dan menipu diri dengan bilang semau baik-baik saja hingga akhirnya bangsa ini tumbang karena kebodohan tak bisa membaca situasi.[MO/sr]

Posting Komentar