Oleh: Nur Lailatul L

Mediaoposisi.com- Hari ini, pendidikan dan akademisi dijadikan dalih untuk berpikiran logis dan terbuka. Tidak boleh, jika seorang muslim pakem oleh aturan agamanya. Tidak boleh kalau seorang muslim menerapkan islam kaaffahnya, dan menjadikan islam sebagai the way of life.

Tapi pendidikan dan akademisi juga menjadikan pemikiran seseorang kerdil dan sempit dalam berpikir. Karena dalil yang dibawa adalah logis dan masuk akal, maka apapun yang meraka pikirkan harus sesuai nalar (manusia). Padahal kita sama-sama tau kecerdasan manusia terbatas.
Lalu mana yang benar? Berpikir kritis tanpa batas dan berdalih kebebasan berpendapat atau berpikir kritis dan cemerlang dan dikaitkan dengan aturan-aturan islam.

Bicara tentang pemikiran memanglah sesuatu yang paling fundamental, karena dari pemikiranlah melahirkan tindakan dan ucapan.

Banyak dari kalangan akademisi yang kemudian melahirkan banyak temuan-temuan atas penelitiannya. Dan tidak sedikit dari mereka yang kemudian merasa bebas untuk berkreasi, tanpa mengaitkan islam dalam kehidupan. Sehingga yang mereka emban adalah budaya barat yang liberal.
Selalu sesuatu disolusi dengan pemikiran dan kecerdasan manusia, tanpa berpe
doman pada agama.
Maka apa yang terjadi jika seseorang mengemban pemikiran yang liberal?
Jika pemikiran liberal tersebut di emban oleh Guru dan Dosen, pemikiran tersebut akan menciderai para murid dan mahasiswanya. Akibatnya murid ataupun mahasiswa juga akan berpikir senada sehingga mereka kehilangan jati diri mereka sebagai seorang muslim.

Jika kelak mereka lulus dan kerja lalu hidup dalam lingkungan masyarakat maka sudah pasti, mereka akan memisahkan kehidupan mereka dari urusan agama, artinya ibadah mereka hanya sampai pada sajadah-sajadah mereka saja. Dan hal itu akan berlanjut hingga generasi berikutnya dan berikutnya.
Na’udzubillah..

Lalu bagaimana pemikiran yang seharusnya diemban seorang umat muslim? Yaitu dengan menerapkan islam dalam hidupnya, dan menjadikan islam sebagai jalan hidupnya. Itulah penerapan islam Kaffah yang sempurna.

Lalu apakah hanya cukup dengan begitu? Ternyata tidak. Karena pemikiran juga muncul dari bagaimana kebijakan yang terapkan oleh pemerintah. Karena lagi-lagi hanya pemerintahlah yang menjadi tameng dan penyaring serta pembuat kebijakan.

Maka satu-satunya jalan, menghentikan pemikiran yang Liberalis adalah dengan menegakkan Khilafah Islamiyah. Karena dari situlah segala urusan diatur sesuai dengan peraturan islam yang Kaffah. Karena Khilafah Islamiyah-lah yang menjadi poros solusi dari segala permasalahan umat di negeri ini.

Dengan tegaknya Khilafah Islamiyah maka kurikulum pendidikan akan berkiblat pada aturan sang pencipta.[MO/sr]



Posting Komentar