Oleh: Eriga Agustiningsasi, S.KM

Mediaoposisi.com- Dunia hari ini sedang menghadapi Revolusi Industri 4.0. Menurut Ketua Umum Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI), Rieke Diah Pitaloka, Revolusi Industri 4.0 merupakan sistem yang mengintegrasikan dunia online dengan produksi industri.

Efek revolusi tersebut adalah meningkatnya efisiensi produksi karena menggunakan teknologi digital dan otomatisasi, serta perubahan komposisi lapangan kerja. Untuk itulah beliau mendesak Presiden Jokowi untuk segera membentuk badan riset nasional (dilansir dalam kompas.com).

Salah satu wujud persiapan Indonesia untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0 menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto adalah mendorong kompetensi sumber daya manusia (SDM), salah satunya adalah dengan menggenjot vokasi atau pendidikan tinggi serta politeknik yang menunjang pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Menurut beliau, saat Revolusi Industri 4.0 ini, kebutuhan skill baru sangat berperan.

Khusus perguruan tinggi, beliau menyampaikan akan dibentukmata kuliah baru untuk mendukung program tersebut. Harapannya tenaga terdidik (intelektual muda) jebolan kampus mampu menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 dengan kecanggihan teknologinya.
Kemajuan Teknologi era Revolusi Industri 4.0: Berkah atau Bencana?

Kemajuan teknologi hari ini terbukti mampu meringankan kerja manusia. Betapa  tidak, dengan kecanggihan teknologi saat ini, manusia tidak perlu bertatap muka untuk menyampaikan pesan, mereka cukup mengambil handphone, mengetik pesan, langsung kirim dengan waktu sepersekian detik pesan bisa sampai kepada orang yang dituju. Begitupula dengan mesin produksi.

Perusahaan sangat terbantu dengan adanya kemajuan mesin mesin produksi. Dengan demikian, semakin mudah, murah dan cepat jika menggunakan mesin. Jelas, menguntungkan bagi manusia scara kasat mata.

Atas nama kemajuan teknologi, Barat dengan mudah mengkampanyekan Revolusi Industri 4.0 ke semua negeri termasuk negeri kita, Indonesia dengan maksud tertentu. Perlu ditekankan disini adalah membahas Revolusi Industri 4.0 bukan mengkritisi kemajuan teknologinya, melainkan nilai yang terkandung dalam Revolusi Industri itu sendiri.

Teknologi yang maju mengharuskan manusia mengikuti dan menggunakannya. Tuntutan tersebut jelas dan pasti akan berlaku secara otomatis selama manusia/warga tinggal dalam wilayah tersebut. Mau tidak mau akan mengikutinya. Itulah yang dialami Indonesia saat ini. Singkatnya akan ada beberapa dampak yang butuh perhatian khusus akibat nilai yang terkandung dalam Revolusi Industri ini.

Pertama, peran manusia akan tergantikan dengan mesin mengakibatkan angka pengangguran tetap tinggi. Jika suatu perusahaan hanya memerlukan sedikit SDM untuk menggerakkan mesin mesin produksi yang menggantikan tenaga manusia maka akan dimungkinkan banyak masyarakat yang  menganggur dan otomatis angka pengangguran akan semakin tinggi.

Sebuah studi yang dilakukan oleh McKinsey Global Institute menyatakan bahwa sebanyak 375 juta pekerjaan akan digantikan oleh mesin pada tahun 2030. Chairman CT Corp Chairul Tanjung mengatakan perkembangan teknologi tersebut bisa menghilangkan 5 juta pekerjaan hingga 2020 dan mengakibatkan pengangguran.

Bahkan, sebelum benar-benar diterapkan Revolusi Industri ini, tahun lalu, 2017 Badan Pusat Statistik (BPS) justru penyumbang terbesar angka pengangguran di Indonesia berasal dari lulusan SMK yakni sebanyak 11,41 persen yang pendidikannya melahirkan SDM siap kerja.

Orang Indonesia hanya akan menjadi pekerja bukan pemikir, terlebih memikirkan solusi masalah yang terjadi di masyarakat.  Data BPS 2017 bulan September 2017, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 26,58 juta orang, padahal potensi SDA Indonesia melimpah ruah.

Kedua, dalam bidang sosial, manusia kehilangan karakternya sebagai makhluk sosial yang butuh dengan sesamanya, tidak bisa hidup sendiri dan peduli kepada lingkungan sekitar. Kemajuan teknologi hari ini membuat manusia sibuk menatap handphonenya dan sedikit sekali berinteraksi dengan orang di sekitarnya.

Dan dapat dimungkinkan apatisme, individualisme akan semakin marak dan meningkat. Belum lagi budaya hedonis, dengan tuntutan yang serba modern, manusia dituntut untuk memiliki barangbarang yang lagi trend di masyarakat. Lantas pertanyaannya adalah kemajuan teknologi membantu manusia atau?

Kolonialisme  Gaya Baru

Revolusi Industri 4.0 ini sebenarnya syarat akan kolonialisme gaya baru. Nilai yang terkandung dalam Revolusi ini adalah semata mata hanya nilai materi yang menguntungkan Barat sebagai pengusung Kapitalisme dengan mengganti peran manusia (membuat angka pengangguran pribumi tinggi) dan menghilangkan karakter manusia sebagai makhluk sosial.

Hal ini senada dengan ungkapan Chairul Tanjung terkait ancaman kolonialisme era baru. Aliran modal asing yang ramai masuk ke para startup dan perusahaan Indonesia lainnya. Masuknya modal asing menggerus kepemilikan saham lokal dalam sebuah perusahaan. Kemajuan teknologi era Revolusi Industri 4.0. Lantas untuk siapakah Revolusi Industri 4.0 ini sebenarnya? Kemajuan teknologi untuk memudahkan kerja manusia atau malah mengkerdilkan peran manusia?

Islam jelas memandang kemajuan tekmnologi adalah suatu hal yang boleh dimanfaatkan untuk memudahkan aktivitas manusia bukan justru menjadikan manusia kehilangan perannya sebagai manusia, makhluk sosial dan hamba Allah.[MO/sr]

Posting Komentar