Oleh: Farah Diba Ainul Mardiah
(Mahsisiwi STEI HAMFARA Yogyakarta)

Mediaoposisi.com-  Jumlah penduduk Indonesia luar biasa banyak, membuat Indonesia menempati urutan ke 4 dalam daftar negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, dimana China menempati posisi pertama diikuti India dan Amerika Serikat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total jumlah penduduk di Indonesia saat ini adalah 266.927.712 orang, yang terdiri dari 49,9% laki-laki dan 50.1% perempuan.  BPS juga mencatat jumlah pertumbuhan penduduk tiap tahunnya, dimana pertanggal 15 -3 - 18 penduduk Indonesia bertambah 976.811 jiwa.

Menurut beberapa pakar menyebutkan banyaknya penduduk di sebuah negara menyebabkan terjadinya banyak masalah di negara itu. Terlalu banyak penduduk, menyebabkan timbulnya kemiskinan, pertentangan antar etnik, meningkatnya kriminalitas, banyak pemukiman rumah kumuh, politik jadi tidak stabil, terjadi pencemaran lingkungan karena sampah, asap kendaraan dan polusi air bersih.

Selain itu, banyaknya penduduk juga dapat menyebabkan meningkatnya angka pengangguran.
Oleh karenanya, sejak beberapa tahun terakhir pemerintah terus menggenjot program keluarga berencana membatasi tiap keluarga hanya boleh memiliki dua anak saja dengan slogan "dua anak lebih baik", dengan mematahkan presepsi "banyak anak banyak rezeki".

Dalam hal ini, islam tidaklah melarang dalam memakai KB untuk mengatasi ledakan penduduk, namun setidaknya ada tiga hukum yang perlu diputuskan, yaitu KB yang menjadi program pemerintah, KB yang dilakukan individu secara permanen dan KB yang dilakukan individu secara temporer.

Untuk KB yang menjadi program pemerintah yang menerapkan KB untuk mengatasi kekurangan pangan dan ketimpangan ekonomi,  maka hukumnya haram, dan tidak dibenarkan secara syara’ karena bertentangan dengan aqidah Islam, yakni ayat-ayat yang menjelaskan jaminan rezeqi dari Allah untuk seluruh mahluknya.

Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi ini kecuali Allah-lah yang menanggung rizkinya.” (QS. Hud: 6)

Berapa banyak hewan yang tidak dapat membawa (mengurus) sendiri rizkinya tapi Allah lah yang memberikan rizkinya dan juga memberikan rizki kepada kalian.” (QS. Al-Ankabut: 60)
Dalam usaha untuk mencegah kehamilan secara individu, setidaknya ada dua cara untuk melakukannya, yakni :

Pertama: Mencegah kehamilan secara permanen (sterilisasi), seperti vasektomi atau tubektomi hukumnya haram. Hal ini tidak diperbolehkan karena akan memutus kehamilan sehingga mempersedikit keturunan. Ini bertentangan dengan tujuan syariat memperbanyak jumlah umat Islam.
Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu berkata: Seseorang datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata:

 “Sesungguhnya aku mendapatkan seorang wanita cantik dan memiliki kedudukan, namun ia tidak dapat melahirkan anak, apakah boleh aku menikahinya?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak boleh.”

Orang itu datang lagi kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutarakan keinginan yang sama, namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarangnya. Kemudian ketika ia datang untuk ketiga kalinya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur (dapat melahirkan anak yang banyak) karena sesungguhnya aku berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat yang lain.” (HR. Abu Dawud no. 2050, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad 2/211)

Kedua: Mencegah kehamilan dalam jangka waktu tertentu (temporer). Seperti bila si wanita banyak hamil sedangkan hamil akan melemahkannya, dan dia ingin mengatur kehamilan setiap dua tahun sekali atau semacamnya.

Hal yang seperti ini diperbolehkan, dengan syarat tidak memadharatkan si wanita. Dalilnya, para shahabat dahulu melakukan azal ( coitus intereptus ) terhadap istri-istri mereka pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan agar istri-istri mereka tidak hamil. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang hal itu.” (Risalah fid Dima’ Ath-Thibi’iyyah lin Nisa`, hal. 44)[MO/sr]





Posting Komentar