Oleh : Winda Sari 
(Mahasiswi)

Mediaoposisi.com-  Bagai matahari terbit yang tak bisa dihalangi kedatangannya, mungkin itu salah satu kiasan yang sering diucapkan oleh para pejuang syariah dan khilafah akan kebangkitan Islam yang kedua dan tegaknya khilafah ala mihanj an nubuwwah di muka bumi ini. Khilafah adalah ajaran Islam.

Memperjuangkan tegaknya khilafah merupakan sebagian dari iman. Memang , kata khilafah tidak tercantum dalam rukun iman, tetapi jika kita pahami betul rukun iman itu, untuk bisa menggapai kesempurnaan iman yang ada pada rukun iman maka tidak bisa dilakukan secara individu atau kelompok tertentu. Benteng keimanan kuncinya ada dalam pembinaan.

Pembinaan yang dilakukan oleh Negara. Bukan Negara biasa, tetapi Negara dengan kesempurnaan hukum dan aturan karena hukum dan aturan yang diterapkan langsung bersumber dari Allah dan Rasul Nya. Dan Negara itu tidak lain dan tidak bukan ialah Khilafah Islamiyah, Khilafah ala minhaj an nubuwwah.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Begitulah arti dari QS. Al Anbiya’ ayat 107. Islam datang untuk membawa rahmat bagi seluruh alam. Dengan demikian, rahmat Islam bagi seluruh alam akan tercapai dengan kesempurnaan iman apabila Syariah Islam diterapkan dalam kehidupan, yakni di bawah naungan Khilafah Islamiyah.

Dulu, Islam pernah berada dalam puncak kejayaan, kurang lebihnya selama 14 abad lamanya. Waktu yang tidak singkat. Akan tetapi setelah itu Islam runtuh karena perpecahan dan mulai masuknya pemikiran sekular di kalangan kaum muslim.

Dulu, sewaktu Islam berada dalam puncak kejayaan dengan wilayah kekuasaan Khilafah yaitu 2/3 dunia. Bukan hanya kaum muslim yang tinggal dalam naungan Khilafah, ada non muslim juga. Mereka, kaum muslim dan non muslim, hidup berdampingan. Tidak ada adu domba atau saling menjatuhkan antar umat beragama. Justru di bawah naungan Khilafah, umat bersatu dan tunduk pada Negara.

Sewaktu Khilafah dahulu masih berjaya, tidak pernah terdengar kabar istilah Khilafah anti keberagaman atau Khilafah tak cocok untuk keberagaman karena Islam memuliakan kaum muslim dan menghormati non muslim. Jika dulu ada wilayah yang belum terjamah oleh Islam, penduduk di wilayah tersebut justru ingin wilayahnya itu ditaklukan oleh Islam sehingga mereka bisa hidup dalam naungan Islam. Banyak yang berebut ingin hidup dalam naungan Khilafah.

Lalu, bagaimana dengan kondisi Islam saat ini? Apakah umat rindu akan Khilafah? Apakah umat rindu akan kebangkitan Islam? Mari simak baik-baik beberapa statement berikut ini.

Dilansir dari media milik salah satu organisasi besar Islam di Indonesia, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amin Mudzakkir mengatakan, konservatisme Islam dalam jangka panjang mengancam keberagaman di Indonesia. Hal itu terjadi karena konservatisme Islam menjadi salah satu faktor yang mengarah pada radikalisme.

Kelompok yang dalam pemahaman keagamaannya radikal, di antaranya sering mengampanyekan pembentukan negara agama dengan menjalankan formalisasi hukum agama Islam.
Dari pernyataan di atas sudah terlihat sangat jelas bahwa ada yang menganggap bahwa Islam itu berbahaya, utamanya bagi keberagaman.

Mereka yang berkata demikian menganggap bahwa Islam dan pemeluknya yang sangat gigih memperjuangkan Islam itu radikal dan membahayakan bagi Negara.

Jika ditinjau lagi dari sejarah bagaimana dulu Khilafah membina umat dengan menggunakan sistem Islam. Sewaktu Khilafah masih berjaya, di dalamnya juga ada keberagaman. Banyak suku, ras, dan agama tetapi mereka hidup aman-aman saja, tidak ada yang mengatakan bahwa Islam itu radikal dan kelompok yang ingin Negara Islam itu berbahaya.

Tidak seperti sekarang yang banyak berpikir salah mengenai Islam. Menganggap Islam itu membahayakan, utamanya bagi pemeluk Islam yang menginginkan tegaknya syariah dan khilafah. Syariah dan khilafah itu dua hal yang tidak dapat dipisahkan, di mana ketika syariah Islam itu diterapkan maka harus ada yang mendekap syariah Islam tersebut dan institusi yang dapat mendekap syariah Islam itu ialah Khilafah Islamiyah.

Memang seperti itu, apabila Khilafah tegak secara otomatis penerapan syariah Islam akan terlaksana.

Dalam sistem khilafah, tidak ada yang tidak mendapat keadilan. Semua umat yang berada di bawah naungan khilafah pasti akan mendapat jaminan keamanan dan keadilan, hal ini berlaku juga bagi non muslim.

Syariah Islam yang dalam penerapannya di bawah nanungan Khilafah berlaku adil bagi semua kaum. Khilafah tidak akan seburuk atau sebahaya yang dipikirkan kebanyakan orang saat ini. orang-orang saat ini menganggap bahwa Khilafah itu anti keberagaman, terlebih lagi di Indonesia. Indonesia Negara yang kaya akan keberagaman tidak cocok dengan Khilafah karena Khilafah identik dengan Islam.

Itu sangat salah, justru dengan adanya keberagman itu umat diperintahkan untuk saling mengenal dan bersatu. Bersatu bukan berarti menolak syariah dan menuhankan kebhinekaan.

Bersatu dalam artian yakin bahwa Khilafah itu menaungi keberagaman. Khilafah tidak kejam, Khilafah tidak anti keberagaman, justru dengan adanya Khilafah, keberagaman akan terjaga karena memang dalam Al Quran sudah dijelaskan bahwasannya manusia diciptakan berbangsa-bangsa, bersuku-suku agar saling mengenal. Disini yang dimaksud berbangsa-bangsa adalah bukan terpecah seperti sekarang, tetapi tetap satu di bawah kekhilafahan.

"Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Al Maidah ayat 50)[MO/sr]

Posting Komentar