Oleh : Puspita Satyawati

Mediaoposisi.com- Kebiri berseri. Dalam ungkapan konotatif, kebiri bermakna memandulkan atau mematikan sesuatu. Pengebirian terhadap tokoh-tokoh yang dipandang kritis-sering mengkritik kebijakan rezim-bak serial film televisi. Serial pertama terlampaui dengan berbagai tehnik kebiri terhadap ulama. Dari pemberian jabatan, stigmatisasi, fitnah, penangkapan, hingga dijebloskan ke balik terali besi.

Filterisasi ulama pun dilakukan. Berdalih memenuhi permintaan masyarakat, dirilislah daftar 200 mubalig rekomendasi Menteri Agama. Meski faktanya, banyak nama ustaz pujaan umat justru tak tercantum di dalamnya.

Tak cukup mengebiri daya kritis ulama. Serial kebiri kedua dijalankan terhadap kaum intelektual, utamanya di perguruan tinggi. Tersebab meme viral di media sosial yang menyiratkan keberpihakan pada HTI dan ajaran Islam khilafah, beberapa dosen dan guru besar dipanggil, disidang dan dibebastugaskan. Dosen lainnya  diminta menandatangani surat pernyataan dan ancaman dipecat.

Apa yang disebut keberpihakan di sini tak lebih dari kepedulian kaum terpelajar pada nasib kebenaran dan keadilan di negeri ini. Mereka bersuara pun bukan karena berposisi sebagai anggota HTI. Keadilan mungkin tengah mati suri. Tapi nurani yang cenderung pada rasa benar dan adil akan selalu menyertai.

Aroma Islamofobia Melanda

Aroma islamophobia kini melanda negeri. Sosok, simbol dan istilah islami dikesankan sebagai monster menakutkan. Intoleran, radikal, teroris adalah stigmatisasi yang disematkan. Jadilah para pejuang Islam kaaffah terlekat pada dirinya cap negatif tersebut.

Anti Pancasila dan anti NKRI dijadikan senjata menghantam siapapun yang berseberangan pemahaman dan kepentingan dengan rezim. Padahal, betulkah yang selama ini mengklaim dirinya sebagai “Saya Pancasila” sejatinya juga seorang Pancasialis ?

Kita ingat, kampanye Tolak Pemimpin Kafir  yang berujung pada Aksi Bela Islam 212 telah menjadi sinyal bagi rezim akan bangkitnya kekuatan politik umat Islam di Indonesia. Setelahnya, berbagai upaya dilakukan untuk menghajar berbagai komponen umat yang dianggap menjadi penghalang meraih target-target kekuasaan.

Meski menolak disebut rezim anti Islam, serentetan kebijakan dan perlakuan tak mengenakkan diberlakukan. Secara prematur Perppu Ormas dilahirkan untuk membubarkan Ormas yang ditarget. Tak lama, Perppu ini sah menjadi UU Ormas. Jika yang dianggap penghalang itu ormas, maka dibubarkan. Bila perorangan seperti ulama yang kritis, ditangkap dan dibui. 

Sebuah keniscayaan. Jika kebenaran dibendung maka dengan sendirinya akan mencari jalan. Korban kezaliman yang kian telanjang dipertontonkan telah menuai simpati dan dukungan masyarakat. HTI sebagai Ormas yang dibubarkan, kini menjadi fenomenal. Khilafah sebagai ajaran yang dilarang untuk disebarkan, kian dikenal. Opini umum tentang khilafah dan kian kuatnya eksistensi HTI adalah fakta yang tak terbantahkan.

Dukungan tak hanya berasal dari kalangan ulama dan pondok pesantren. Suara kepedulian pun bergaung dari kalangan civitas akademika. Para intelektual Muslim nan kritis dan berani turut menentang ketidakadilan yang ditimpakan kepada HTI.

Berbalut islamofobia, kini bola salju deradikalisasi terus digulirkan khususnya di kalangan ulama dan intelektual. Kedua komunitas dibidik dengan asumsi bahwa paham radikalisme ( baca : Islam politik ) telah menyusup ke sendi-sendi jaringan ini. Atas nama perang melawan radikalisme yang ditengarai menjadi bibit terorisme, dana terus dikucurkan untuk membiayai berbagai proyek deradikalisasi.

Ulama dan Intelektual, Amplifier Kebenaran

Menurut wikipedia, ulama adalah pemuka agama yang bertugas mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah agama maupun sosial kemasyarakatan. Adapun intelektual ialah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, menggagas dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan.

Kepada kedua sosok inilah masyarakat menaruh harapan. Salah satunya, mengharap kontribusi mereka dalam merubah masyarakat menuju kondisi yang lebih membahagiakan dan menyejahterakan. Karena mereka memiliki kapasitas di atas rata-rata yang dimampui masyarakat kebanyakan, seperti : ketinggian ilmu, kebiasaan berpikir dan analisa, penguasaan terhadap masalah kemasyarakatan dan solusinya.

Sebagaimana hamba Allah yang lain, ulama dan intelektual Muslim dibebani berbagai kewajiban oleh Allah SWT. Salah satunya adalah amar ma’ruf nahi munkar atau dakwah. Apalagi ulama sebagai waratsatul anbiya ( pewaris para nabi ). Tugas ini mutlak harus dilakukan. Dengan posisi strategisnya, ulama dan intelektual menjadi ampilfier umat dalam menyerukan kebenaran.

Amar ma’ruf nahi munkar yang mereka lakukan, meski berbentuk kritikan, jangan dipandang sebagai ujaran kebencian atau penghinaan. Selain hukumnya wajib, mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan merupakan wujud kasih sayang. Agar saudara sesama Muslim tidak terperangkap kemaksiatan. Pun menyelamatkan kapal negeri ini agar tak kian karam.

Rasulullah SAW menuturkan,

Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dengan orang yang melanggarnya seperti suatu kaum yang melakukan undian dalam sebuah kapal. Maka sebagian penumpang berada di atas dan sebagian lainnya di bawah. Penumpang bagian bawah jika akan mengambil air melewati penumpang di atas. Dan suatu saat berkata, ‘Kalau kita lubangi kapal ini ( untuk mengambil air ), mungkin tidak mengganggu orang yang di atas’. Jika mereka membiarkan orang yang melubangi kapal maka semuanya akan hancur. Tetapi jika dilarang, mereka semua selamat”. ( H.R. Bukhari )

Hadits di atas menggambarkan esensi amar ma’ruf nahi munkar. Jika dalam masyarakat terjadi kemunkaran dan dibiarkan maka imbas buruknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku. Juga oleh semua orang yang ada di sekitarnya. Apalagi jika penguasalah pelaku kemunkaran. Tentu menjadi kewajiban rakyat khususnya tokoh umat untuk memberikan muhasabah dan nasehat.

Hari ini, pelaku dan konten dakwah dikriminalisasi. Tapi yakinlah. Setiap upaya pembungkaman terhadap dakwah, akan memunculkan pembelaan dari umat Muslim. Pembelaan tersebut akan terus menguat. Hingga atas izin Allah SWT, akan mampu memenangkan yang haq atas yang bathil.[MO/sr]





Posting Komentar