Oleh : Mesi Tri Jayanti 

Mediaoposisi.com- Sangat disayangkan ketika banyak orang yang mengaku muslim karena tercatat sebagai pemeluk agama Islam, namun justru ketakutan pada ajaran beserta atribut Islam itu sendiri. 

Ada yang berkecimpung didunia akademisi, praktisi, hingga politisi  yang memiliki kekuasaan dalam mengatur urusan umat. Namun dibenak mereka sudah menginternal persepsi-persepsi negatif terhadap Islam. Terlepas dari apakah itu disebabkan oleh ketidaktahuannya sehingga menjadi anti atau karena mereka memang antek-antek asing yang  tidak ingin melihat kebangkitan Islam melalui penerapan ajaran Islam.

Di kalangan ulama yang akan berdakwah pun perlu diseleksi berdasarkan kriteria yang mereka buat. Hingga Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyarankan Kementerian Agama (Kemenag) merilis daftar nama penceramah (mubalig) yang dilarang, dan bukan merilis daftar nama penceramah yang direkomendasikan kepada masyarakat. https://­m.cnnindonesia.com

Tak sampai disana, perguruan tinggi yang menjadi tempat para intelektual mengasah pemikiran dan beradu argumentasi juga dinilai menjadi sarang terorisme.

Awalnya penyebaran paham tersebut dilakukan di lingkungan pesantren. Namun saat ini, kampus negeri maupun swasta menjadi sasaran baru dan empuk bagi penyebar radikalisme. https://­m.cnnindonesia.com

Dan sekarang homeschooling pun difitnah menjadi ladang semaian benih terorisme. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengakui sulit mengawasi penyebaran paham radikalisme yang berpotensi menyebar melalui sekolah informal, khususnya sekolah rumah atau homeschooling tunggal yang diadakan oleh orang tua dalam satu keluarga. https://­m.cnnindonesia.com

Publik tentu tidak sekedar menjadi penonton atas perlakuan para pembuat kebijakan terhadap ajaran Islam dan orang-orang yang memperjuangkannya belakangan ini. Hal tersebut semakin membuktikan bahwa rezim mengidap islamphobia akut.

Berdalih ingin menjaga persatuan dan keamanan umat dari paham radikal dan terorisme, banyak kebijakan yang sengaja mereka produksi yang memperketat aktivitas dakwah Islam. Bisa ditebak bahwa lagi-lagi yang menjadi korban adalah dakwah Islam kaffah (menyeluruh). [MO/sr]

Posting Komentar