Oleh : Neti Kusmiati 
 (KorWat Dev. Riset dan kajian ) ReLIEF Hamfara 

Mediaoposisi.com- Ariel Heryanto, profesor The Australian National University yang menulis buku Identitas dan Kenikmatan: Potret Budaya Layar di Indonesia (2015), dalam satu kolomnya tahun 1995  merangkum denganpas bagaimana bentuk represif rezim Soeharto: ―Pada awal sejarah Orde
Baru, sebagian warga negara didesak agar mengganti nama pribadi dan toko dari nama kecina-cinaan. Pada Tahun 1970-an, Kopkamtib;

Aparatur militer paling berkuasa, sibuk memerangi rambut gondrong pemuda. Tahun 1980-an dewan mahasiswa dihapuskan, jilbab dipersoalkan, dan iklan di TVRl ditabukan.‖  Sejalan naiknya kelas
menengah dan politik Islam di perkotaan, pemerintah Orde Baru—yang sempoyongan lantaran fondasi ekonominya keropos- mulai merangkul umat Islam.

Aturan diskriminatif terhadap jilbab di sekolah, dengan desakan pelbagai faktor, akhirnya mengendor dengan diterbitkan surat keputusan tahun 1991 yang membolehkan para pelajar  mengenakan
jilbab.   Tren jilbab semakin  marak di sini, dan bahkan menjadi budaya populer yang dominan di layar televisi, layar lebar, dan layar ponsel,

Akan tetapi saat ini kain penutup kepala ini kembali diperkarakan ketika ekspresi iman mendorong seseorang memakai cadar atau nikab kain hitam terusan hingga pinggang dengan menutupi bagian wajah minus mata. 

Salah satu kasus yang pernah terjadi  di awal berakhirnya era Orde Baru adalah  dua orang mahasiswi kedokteran di Universitas Sumatera Utara yang diadili oleh kampusnya karena mengenakan niqob. Pada tanggal 30 November 1999, dekan fakultas kedokteran mengeluarkan surat keputusan yang isinya melarang pemakaian cadar.

Alasannya karena cadar dianggap menghalangi aktivitas belajar dan komunikasi dengan dosen, dan  menyulitkan kontak dengan pasien ketika bertugas sebagai dokter.  Akibatnya,  Seorang mahasiswi kedokteran USU harus angkat kaki dari universitas tersebut karena tak kuat menahan diskriminasi dari para dosen.

Sementara satu mahasiswi bercadar lain harus berjuang di tengah sikap kolot kampus agar dapat lulus dari fakultas tersebut. Kasus diatas hanyalah sebagian kecil dari berbagai macam kasus
yang ada di belbagai belahan negeri mayoritas muslim hari ini . Tak berhenti sampai disitu, ditahun ini  Indonesia   mendapatkan  berbagaimacam tuduhan fitnah dari berbagai arah .

Situasi ini kembali di manfaatkan oleh  orang – orang yang haus akan jabatan/pangkat dan materi serta miskin akan  iman dan pembebek kaum kafir. Fitnah kali ini menimpa umat islam khususnya  mahasiswa (intelektual) muslim. Para  musuh islam rupaya sedang  menanam dendam kusumat  terhadap  kaum muslimin. Mereka melampiaskan demdamnya  yaitu melakukan berbagai
macam cara salah satunya yaitu  melumpuhkan  daya kritis para pemuda muslim.

Kenapa harus  pemuda? Karena pemuda merupakan mutiara yang  dianggap berharga ditengah –tengah umat. Pemuda juga merupakan agen of change dan tongkat   estafet  perjuangan islam yang akan melanjutkan dakwah islam ke penjuru dunia. Hal ini sama sekali   tidak di harapkan oleh kafir barat. Potensi pemuda islam  hari ini sangat besar bahkan hal ini  sudah menjadi maklumat harian mereka. Mereka sangat ketakutan akan  kebangkitan islam memimpin dunia.

Atas dasar  ini  mereka terdorong   untuk terus melumpuhkan pemuda-pemuda islam  dan 
menjauhkan para pemuda hari ini  dari pemahaman islam yang mendasar (Aqidah ) atau yang kita  dikenal dengan  istilah “ Radikal “ sayangnya ,istilah ini muncul ditengah – tengah kaum muslimin dengan penafsiran yang salah.

Mereka menyatakan bahwa kelompok/ormas islam  atau individu yang mendakwahkan islam secara mendasar (radikal ) ini mengancam keutuhan NKRI. Mereka tidak kehabisan cara untuk terus memberikan pemahaman kepada setiap  mahasiswa dan seluruh elemen pendidikan untuk saling  bersinergi, kerjasama serta bahu-membahu  dalam memberantas kelompok atau  individu yang kritis  dan berani menyebarkan  ide islam yang mendasar ( radikal ) ini.

Merespon hal ini mahasiswa muslim langsung terprovokasi dan ikut ikutan tanpa melakukan pengkajian yang  mendalam terlebih dahulu. Akibatnya , banyak diantara pemuda muslim hari ini yang merasa takut dan enggan ketika  diajak ke majelis ilmu,

ada juga yang was - was ketika
berteman yang  memakai  (jilbab dan kerudung ) secara  syar’i, dan barubaru ini wanita bercadar diatas bus diseret keluar karena khawatir dia membahayakan orang banyak karena mengingat pelaku bom gereja disurabaya itu adalah wanita bercadar maka khayalak umum mengecam secara keseluruh wanita bercadar itu pantas diwaspadai. 

tak cukup sampai disitu semua hal  yang berbau  tentang keislaman di benci oleh kaum muslimin  hari ini.  Pemahaman radikal  yang salah diatas telah merubah wajah dan persepsi kaum muslimin terhadap  islam itu sendiri. dimana mereka mengganggap islam sebagai bencana dan sesuatu yang tidak  relevan lagi  jika  diterapkan di negeri ini.

Pemahaman  ini dibantah oleh islam, dimana Islam mewajibkan setiap pemeluknya untuk memahami islam secara mendasar bermula dari pemahaman aqidah yang benar  dengan jalan yang benar sesuai syariat karena dengan berangkat melalui  pemahaman yang mendasar ini maka akan nampaklah  keunikan – keunikan dalam jiwa setiap muslim. 

Mereka layak dikatakan sebagai muslim sejati seperti yang bersinar pada jiwa  manusia mulia yaitu  Nabi Muhammad SAW dan  dalam sebuah hadist riwayat Aisyah r.a dikatakan akhlaq beliau  seperti 
Al-qur’an yang berjalan ― maasya Allah andai  setiap muslim merasa seperti ini betapa indahnya hidup didunia ini.

Pemahaman islam yang mendasar ini pula akan melahirkan peraturan hidup yang unik ditengah –tengah manusia. Ambil contoh  pada sistem pendidikan kita hari ini. pihak pengambil kebijakan yaitu pemerintah tidak mencantumnkan pola pendidikan yang mendasar dimulai dari penanaman  aqidah yang kuat. Hasil output pendidikan yang ada tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Konsep pendidikan kapitalis

Seperti hari ini sungguh  jauh berbeda dengan konsep pendidikan dalam islam yang menjadikan Al-qur’an sebagai dasar nya dan pemahaman aqidah yang menjadi tulang punggung dari kurikulumnya.  Sistem seperti inilah  yang mesti  kita perjuangkan agar potensi pemuda muslim hari dapat kembali sebagaimana potensi pemuda-pemuda islam dahulu yang mana mereka telah berhasil menjadi ulama –ulama besar yang menghasilkan karya-karya yang spektakuler.

Serta memberikan konstribusi besar bagi kemajuan dan perkembangan kehidupan manusia pada saat itu hingga hari ini. Output pendidikan yang baik itu pasti lahir dari sistem dan kurikulum yang baik dan hanya islam yang memiliki itu.[MO/sr]

Posting Komentar