Oleh: Izka. R

Mediaoposisi.com-  Beberapa hari yang lalu Indonesia selalu diserang dengan berita miring terhadap Agama Islam.

Jakarta, CNN Indonesia-Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyarankan Kementrian Agama (kemenag) merilis daftar nama penceramah (mubalig) yang dilarang, dan bukan merilis daftar nama penceramah yang direkomendasikan kepada masyarakat. Beliau mengatakan

Sebenarnya yang dikeluarkan itu nama-nama yang dilarang yang di warning, jangan yang dibolehkan yang baik itu lebih dari 200, ada ribuan,” Ujar Said usai menerima kunjungan Ketua Umum Partai Keadilan Rakyat Malaysia Anwar Ibrahim di Kantor PBNU, Minggu (20/5).(cnnindonesia.com)

Hal serupa juga terjadi di ranah pendidikan, Pemerintah sulit mengawasi Radikalisme lewat Homeschooling.

Jum’at 18 Mei lalu kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengakui sulit mengawasi penyebaran paham radikalisme yang berpotensi menyebar menlalui sekolah informal, Khususnya sekolah rumah atau homeschooling tunggal yang diadakan oleh orang tua dalam satu keluarga.

Hal ini terkait anak-anak pelaku teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo yang merupakan korban indoktrinasi orang tuanya. Mereka tidak mendapat pendidikan formal dan dipaksa mengaku homschooling.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud Harris Iskandar tak menapik homescooling tunggal mungkin menjadi sarana baru bagi orang tua menagjarkan radikalisme pada anak.

Pernyataan diatas adalah pernyataan baru yang dibuat pemerintah.

Setelah sebelumnya  para ustadz dan ulama dengan pesantren dan dakwahnya, dilanjutkan kampus dengan mahasiswa dan dosennya yang memakai cadar dan menyebar radikalisme, parpol dan ormas Islam dengan aktivisnya, sekolah dengan rohisnya, keluarga dengan kaum perempuan dan anak-anak nya, kini homeschooling pun difitnah jadi ladang semaian benih terorisme.

Penyebaran Islam phobia sangat sistematis, setelah sebelumnya terdapat kabar pelaku teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo, dimana pelaku terornya dituduh berasal dari pemeluk Agama Islam,

dilanjutkan dengan pernyataan 20 Ustadz dan Ulama yang menyebar paham Radikalisme, yang mana kita tahu Agama Islam adalah Agama yang damai, di dalam Islam tidak diajarkan kekerasan sedikitpun apalagi membunh jiwa yang diharamkan darahnya oleh Allah.

Penyebaran radikalisme melalui homeschooling sama sekali tidak benar, Anak-anak adalah para pembangun sebuah peradaban, sangat wajar jika para orang tua mengajarkan dan menanankan Islam sedak dini pada anak-anaknya.

Jika anak-anak jauh dari Islam bagaimana ia mengetahui arti terorisme yang sebenarnya? Bagaimana ia mengetahui bagaimana arti Radikalisme yang sebenarnya? Karena pada dasarnya berita ini adalah pembunuhan Islam dari dalam, yang membukikan rezim mengidap Islam Phobia. mereka ingin medamkan Agama Allah, sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah: 32:

Yang artinya: “mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 32)

Islam phobia telah menutup pandangan bahwa problem dasar bangsa ini bukan Islam tapi paham sekularisme dan hegemoni sistem kapitalisme yang telah bukti-bukti kerusakannya telah mereka tampaknya secara tidak langsung.

Umat mulai sadar bagwa sistem Kapitalisme yang diterapkan saat ini adalah sistem yang sangat bombrok, yang terus-menerus ingin menjauhkan setiap Muslim dari Agama Islam tetapi malah menunjukkan kebobrokan sistem itu sendiri.

Islam phobia harus dilawan dengan proses penyadaran yang lebih gencar dengan dakwah memahamkan Islam secara kaffah atau menyeluruh didalam kehidupan.

Islam adalah Agama yang Rahmatan Lil’alamin, penerapan Islam didalam kehidupan dapat memabawa kita pada ketaatan dan ketakwaan yang sesungguhnya kepada Allah Swt, sekaligus membongkar kerusakan dan bahaya sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini.[MO/sr]




Posting Komentar