Oleh: Hj Nur Fitriyah Asri

Mediaoposisi.com- Makna Ied adalah hari raya, hari perayaan, hari yang dirayakan. Adapun perayaan itu sendiri identik dengan kegembiraan dan kebahagiaan.

Wajar jika umat Islam setelah melaksanakan puasa Ramadhan sebulan penuh berhari raya, bersuka cita dan berbahagia, yang ditandai dengan makan, minum, pakaian baru, bersenang-senang, hiburan.

Bahkan ditempat wisata,  hiburan bak jamur yang tumbuh dimusim penghujan, bermacam-macam kesenian yang dapat melemahkan iman, macam-macam kuliner yang bisa membius mata memandang, hanya untuk menuruti keinginan bukan kebutuhan.

Nuansa gembira itu sudah bisa dirasakan sepekan atau sepuluh hari akan berakhirnya Ramadhan. Mall-mall,  tempat perbelanjaan sangat ramai, umat Islam sudah menyibukkan diri menyambut hari raya bak  menyambut kedatangan sang kekasih, sang pujaan hati.

Rumah-rumah dibersihkan, dihiasi supaya suasananya beda dengan hari-hari biasa, menyiapkan  beraneka macam kue, juga aneka masakan spesial, kemudian berbagi dengan tetangga (tradisi antar-antar), ziarah ke kubur, juga menyiapkan uang baru untuk berbagi kesenangan, kegembiraan kepada anak, cucu, anak-anak kecil, orang yang tidak mampu.

Benar-benar kegembiraan itu nyata setelah hilal dinyatakan sudah nampak. Bertalu-talu bedhug ditabuh di Masjid-masjid, di Surau-surau, mengiringi takbiran menggema diseluruh penjuru desa.
Bahkan Takmir Masjid ada yang menyelenggarakan takbiran keliling, yang ditutup dengan makan bersama.

Ini benar-benar nuansa kebersamaan, terjalin ukhuwah, anak-anak, orang dewasa ikut meramaikan dengan formasi barisan terdepan adalah pikc up lengkap dengan sound systim dan pemandu, berturut-turut barisan obor, barisan anak-anak, barisan remaja dan orang tua,

kemudian pikc up lengkap dengan alat hadrahnya yang siap mengiringi takbiran dan barisan paling akhir adalah pengendara motor. Di sepanjang jalan mengumandangkan  takbir, tahlil, dan tahmid  "Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar...Laa ilaaha illallahu Wallahu Akbar...Allahu Akbar Walillahil hamd... Menggema diseluruh penjuru dunia.

Jujur mendengar bedhug yang ditabuh bertalu-talu mengiringi alunan takbir yang mendayu-dayu...

Menembus qolbu, membuat air mata mengalir membasahi pipi, tanpa disadari pikiran menerawang jauh disana, ingat saudara- saudara kita dibelahan ujung dunia yang lain, yang ada di Suriah, di Palestina, di Pilipina,di Negeri-negeri Muslim yang terjajah dan dijarah, bisakah ikut berhari raya, bergembira?

Ironis bukan? Boro-boro berhari raya, merasakan kebahagian, untuk mempertahankan hidup saja sulitnya setengah mati, hidupnya dibawah

bayang-bayang ancaman kematian, hatinya senantiasa terkoyak jika teringat anak, saudara, suami atau istri yang telah direnggut paksa jiwanya secara biadab. Hari-harinya tiada senyuman, kedua matanya sembab berderai air mata, hari biasa atau kah hari lebaran sama saja tidak ada beda, sama-sama hidup dalam penderitaan, kelaparan, ketakutan.

Bagaimana dengan saudara kita yang di Indonesia. Hanya sebagian saja yang bisa merayakan hari raya. Ya, hanya sebagian saja...
Mengapa???

Pada tahun 2017 BPS menemukan jumlah orang miskin di Indonesia naik jadi 27.77 juta dalam 6 bulan (www.boombastis.com).

Harta 100 juta orang miskin setara dengan 4 orang terkaya di Indonesia (www.boombastis.com).

OXFAM dan INFID mencatat bahwa Indonesia menduduki peringkat 6 terbawah dalam hal ketimpangan (www.boombastis.com).

Darwin Nasution yang dulu pernah menjabat Gubernur BI, menyatakan bahwa meski pemerintah menaikkan hutang hingga ribuan triliun, namun tetap belum bisa menurunkan angka kemiskinan (www.boombastis,com).

Pengeluaran rata-rata penduduk miskin hanya Rp 374.478; per kapita per bulan. (www.boombastis.com).

Sedangkan menjelang Ramadhan semua harga-harga melonjak naik, membumbung tinggi, tak terjangkau karena daya beli rendah. Harga ayam potong per kg mencapai Rp 60.000; (di Kabupaten Jember). Begitu juga harga- harga yang lain ikut naik mengikuti
naiknya harga BBM, TDL. Benar-benar  Penguasa mendzalimi rakyatnya.

Kembali janji penguasa yang akan menstabilkan harga-harga di bulan Ramadhan dan Hari raya Ied  hanya pepesan kosong, hanya tinggal janji tidak pernah ditepati.

Bagaimana mungkin penduduk miskin yang biaya pengeluaran per kapita per bulan Rp 374.478 bisa mencukupi kebutuhan makan secara layak...? Belum lagi terhitung kebutuhan hidup yang lainnya.
Bagaimana pula dengan penduduk pengangguran karena di PHK, karena sulitnya mencari lapangan kerja yg sudah didominasi oleh TKA (Asing dan Aseng).

Heemmh, bisakah saudara kita ikut merasakan berhari raya, yang nota bene bersuka cita, bergembira...?

IRONIS BUKAN? Itulah dampak dari penjajahan Demokrasi Kapitalis Sekuler. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan. Mengatur ekonomi bagaimana agar tidak terjadi ketimpangan dan dapat mensejahterakan rakyatnya melalui sistemnya yaitu sistem kepemilikan, sistem pengelolaan harta dan sistem pendistribusian.

Begitu juga hari raya, merupakan salah satu syiar Islam yang agung. Disyariatkan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan jiwa umat Islam.

 Allah berfirman "Katakanlah (Muhammad), dengan anugerah dan kasih sayang Allah, maka dengan itu hendaknya mereka bergembira dan berbahagia" ( TQS Yunus 58).

Oleh karenanya Islam mengharamkan berpuasa di hari raya idul fitri. Justru disunahkan makan, minum sebelum berangkat ke tempat shalat Ied.

Meski dalam Islam disyariatkan untuk bergembira, berbahagia diperbolehkan menikmati hiburan, tetapi tetap harus memperhatikan rambu-rambu syariat. Tidak boleh bertabaruj, tidak boleh berkhalwat (berdua-duaan antara pria dan wanita yang bukan mahram) dan berikhtilath (campur baur laki perempuan yang bukan mahram).

Untuk melengkapi kebahagian yang hakiki (kebahagiaan ruhiyah), Islam memerintahkan umat Islam untuk mengagungkan Asma Allah SWT.

"Dan hendaknya kamu menyempurnakan bilangan (puasa Ramadhan), dan mengagungkan Asma Allah atas apa yang telah Dia tunjukkan kepadamu, dan agar kamu bersyukur " (TQS Al Baqarah: 185).

Begitu hilal tampak... Takbir, Tahlil, Tahmid dikumandangkan, hingga Imam dan Khatib naik mimbar.

Islam adalah Agama yang peduli, disunahkan berinfak, bersedekah, kewajiban berzakat  termasuk zakat fitrah untuk berbagi kepada  saudara yang membutuhkannya.

Hanya Sistem Islam kaffaah yang bisa mengatur secara komprehensif semua urusan umat dan akan mendatangkan Rahmatan lil 'alamin.[MO/sr]


Posting Komentar