Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-  Aneh, ajaib, memuakkan, tidak ada perikehukuman, logika dan akal sudah pakai logika otak udang. Mana bisa memukul, merusak property, memasuki kantor media tanpa izin, disebut tidak ada unsur pidana ?

Kemana pasal 351 KUHP, kemana pasal 406 KUHP, kemana pasal 167 KUHP ? Apakah KUHP sudah tidak berlaku lagi di negeri ini ? Apakah KUHP sudah berubah menjadi 'kasih uang habis perkara' ? Apakah penguasa memberikan izin untuk menerapkan hukum Qisos ? Apakah banteng moncong itu harus disembelih massa secara ramai dan diarak keliling seluruh pelosok penjuru negeri ?

Ini logika gila, perilaku penenggak hukum yang luar biasa. Lantas, bagaimana umat mau mempercayai hukum dan konstitusi, jika teladan hukum acap kali menggerus empati publik. Darimana dasar loyalitas rakyat kepada hukum dan penguasa, jika penguasa mempertontonkan parodi hukum yang tidak lucu ?

Ada apa dengan penguasa di negeri ini, apakah teriakan dan sorotan tajam publik sudah dianggap angin lalu ? Apakah, publik sudah dianggap mayat hidup sehingga seruan lisannya tidak perlu dihiraukan lagi ?

Apakah ini, model kekuasaan yang ingin didukung hingga periode kedua? Apakah begini perlakuan yang akan diterima umat, jika kekuasaan berlanjut hingga 2024? Ayolah ! Saya bertanya kepada Anda, wahai penguasa !

Saya tidak tahu, apakah ini sudah akhir dari babak epik kekuasaan tiran di negeri ini. Anda juga tidak perlu bertanya, kenapa semua ini terjadi. Tapi yang jelas, kedzaliman ini harus dihentikan.

Saya tidak mau menuntut kepada penenggak hukum, sebab semakin menuntut semakin teriris batin ini, semakin kental kecewa atas rasa, semakin terasa ketidakadilan. Saya hanya ingin Anda, ya Anda, siapa lagi jika bukan Anda yang membaca artikel ini, bisa ikut meluapkan rasa kecewa secara berjamaah di Ramadhan yang mulia ini.

Saya mengajak Anda untuk mengadukan semua ketidakadilan ini kepada Allah SWT, meminta Allah SWT agar segera mengambil kekuasaan dari orang zalim dan memberikannya kepada orang-orang yang amanah.

Jika rezim tidak punya rasa malu, dan terus mengurai helai demi helai pakaian kehormatannya, maka biarkanlah. Biarkan rezim ini telanjang se telanjang-telanjangnya, sampai semua orang akan menyebutnya sebagai rezim gila.

Bagaimana mungkin umat tidak melabeli rezim sebagai rezim gila, jika setiap hari rezim ini terus membuka kain penutup aibnya, seraya terus menari telanjang dihadapan rakyat mempertontonkan ketidakadilan. Dan umat ini harus diselamatkan dari kekuasaan gila ini !

Namun, umat harus segera bangun, sadar, dan segera bangkit dari keterpurukan ini. Segera sadar dari sihir dua periode, sihir pembangunan semu yang berujung kecelakaan dan kerusakan, tidak boleh membiarkan orang bodoh (ruwaibidoh) mengelola negeri ini.

Tidak boleh membiarkan  generasi masa depan umat ini diwarisi utang ribuan triliun, membiarkan asing dan aseng mengangkangi harta umat. Umat ini harus mewariskan kehormatan dan wibawa kepada anak cucu dan generasi penerusnya.[MO/sr]

Posting Komentar