Oleh : Nur Indah
(Mahasiswi STEI Hamfara)

Mediaoposisi.com- Nilai tukar rupiah kian bertambah buruk, nyaris berada pada sekitaran 13.888 per Dolar AS. Akibat dari pertukaran mata uang Indonesia yang semakin lemah berdampak pada hutang yang kian memggunung. Dengan hutang yang terus naik maka akan menjadikan sebuah beban yang sangat berat bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) khususnya pada pembanyaran cicilan dan bunga hutang pemerintahan saat ini.

Namun dengan itu apakah hutang-hutang Indonesia dapat di bayar lunas di periode pemerintahan tahun 2018 dan seterusnya. Akan tetapi jika di lihat dari berbagai pengalaman dari tahun ke tahun pada setiap pergantian kepemimpinan pemerintahan merupakan suatu hal yang lumroh jika terjadi kenaikan hutang di setiap pergantian periode kepemimpinan.

Meski hutang Indonesia rutin dibayar pada setiap tahunnya tetapi kenapa hutang tersebut tidak pernah lunas bahkan bertambah banyak. Ada apa dengan ekonomi Indonesia yang sampai saat ini tidak mampu melunasi hutang negera.

Inilah akibat jika uang kertas terus digunakan pasti akan terjadi penurunan dan kenaikan nilai mata uang yang berbeda-beda di seluruh negara. Lalu harus bagaimana?, apakah uang kertas harus di hapuskan?. Akan tetapi ketika uang kertas dihilangkan apa yang menjadi acuan uang kita?

Berapa banyak pun hutang Indonesia pasti akan terlunaskan jika sistem yang digunakan adalah sistem yang benar yaitu sistem Islam. Dimana mata uang dalam Islam yaitu emas dan perak yang nilai tukarnya tidak berubah-ubah.

Sebenarnya hutang Indonesia sudah tidak ada, tetapi karena adanya bunga yang terus bertambah berpengaruh pada hutang yang terus menumpuk. maka dari itu aturan Islam datang untuk mempermudah seluruh urusan manusia. Akan tetapi masalahnya ada pada bunga maka perkara hutang Indonesia akan selesai jika Aturan Islam di terapkan kerena islam mengharamkan riba/bunga.[MO/sr]



Posting Komentar