Oleh : Arlianah 
(Mahasiswi STEI Hamfara Yogyakarta)

Mediaoposisi.com-  Tibanya Ramadhan tidak hanya disambut dengan maksimalkan ibadah oleh masyarakat, namun turut dimanfaatkan untuk memperoleh materi . Berdasarkan survey lapangan di kota Bandar Lampung, jumlah pengemis meningkat yang sebelum memasuki Ramadhan hanya 30, pada saat Ramadhan menjadi 150 orang (Harianmomentum.com).

Jelas bahwa Momen ini dimanfaatkan oleh mereka yang melihat dan menganggap adanya ghirah sosial khususnya kaum muslim dalam beramal kebaikan ketika berada dalam bulan suci ini. Tidak tanggung-tanggung mereka memanfaatkan belas kasih manusia untuk memperoleh penghasilan yakni dengan cara meminta-minta atau mengemis.

Adanya pengemis ini menunjukkan bahwa mereka yang melakukan itu adalah penduduk yang hidup dalam ranah kekurangan atau bahkan tidak memiliki pekerjaan layak yang dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka sehingga aktivitas meminta-minta ini dijadikan solusi atas problem tersebut.

Pengangguran adalah sebutan lain untuk mewakili keluangan waktu mereka dari pekerjaan yang layak. Semakin banyak angka pengemis, semakin menandakan banyaknya jumlah masyarakat yang menganggur.

Dari fakta diatas, dapat kita lihat bahwa meningkatkan jumlah pengemis khususnya bulan Ramadhan ini adalah karena adanya kekeliruan pola pikir dan sikap masyarakat, yakni menjadikan manfaat sebagai asas dalam aktivitasnya . Sesuatu yang mendatangkan manfaat maka mereka pandang wajar dan lumrah untuk dilakukan.

Padahal, hal ini tidak sesuai dengan pandangan hidup yang seharusnya mereka adopsi, yakni islam . Islam mengajarkan bahwa dalam beramal, hendaklah kita menstandarkan perbuatan itu kepada penilaian Allah swt. Memandang baik atau buruk berdasarkan pandangan Allah swt. Yakni baik itu ketika sesuai dengan perintah Allah dan buruk ketika melanggar perintah-Nya.

Menjadi pengemis atau meminta-meminta bukanlah profesi yang seharusnya dimiliki kaum muslim, karena meminta-minta bukanlah ajaran Islam. Bahkan islam mengatakan bahwa orang miskin bukanlah yang meminta-minta. Rasulullah SAW bersabda :

Orang miskin bukanlah yang meminta-minta kepada orang lain , lalu memperoleh sesuap atau dua suap, sebutir kurma atau dua butir kurma. Akan tetapi orang miskin ialah orang yang tidak kaya. Tidak mengerti tentang keadaannya dan (orang-orang) memberikannya shadaqah kepadanya… “ (HR. Mutafaq alaihi)

Dalam islam, miskin tidak berarti harus meminta-minta karena ia memiliki harga diri dan patut menjaganya. Selain itu, islam yang mempunyai fungsi sebagai rahmat  memiliki mekanisme unik untuk menjamin kebutuhan hidup masyarakatnya.

Kebutuhan pokok (pangan,sandang dan papan) akan lebih diutamakan pemenuhannya sehingga rakyat tidak perlu mengemis kepada orang lain.
Social control adalah salah satu mekanismenya. Nabi SAW Bersabda :

Tidak beriman kepadaku,siapa saja yang tidur (sambal perutnya kenyang) di malam hari sedangkan tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya.” (HR. Al-Bazzar melalui jalur anas).

Inilah luar biasanya islam yang menjadikan iman sebagai pondasi hidup termasuk kegiatan social control ini , sehingga masyarakat akan saling peduli dan memberi. Dengan iman nya, ia akan tergerak untuk menjengguk dan memastikan terpenuhi tidaknya kebutuhan ketangganya.

Selain social control tersebut, islam juga mewajibkan apatur negara untuk melakukan interaksi langsung kepada rakyat untuk mendengarkan keluhannya serta menyelesaikannya. Dengan mekanisme ini , penguasa akan paham dengan persoalan yang terjadi dimasyarakat sehingga akan lebih mudah bagi penguasa untuk menggerakkan para pegawai negara dalam mendistribusikan harta kekayaan dari baitul mal negara

Dalam kepemimpinan sistem islam , social control dan ri’ayah (mengurusi) inilah yang senantiasa akan ada sehingga ini menjadi jaminan kepada masyarakat agar terhindar dari aktivitas meminta-minta atau mengemis tadi.

Bagaimana dengan orang kaya yang ingin mencoba melakukan aktivitas meminta-minta ini ? Islam pun telah menjaganya dengan ancaman yang tegas. Nabi SAW bersabda :

tidak seorang pun yang meminta-minta padahal ia kaya, kecuali pada hari kiamat ia datang dalam keadaan mukanya luka, terkoyok dan terkelupas. Kemudian Rasuullah ditanya, ‘wahai Rasulullah,bagaiman seorang dapat dikatakan kaya aatu apa yang menyebabkannya (pantas) dikatakan kaya ?’ Rasulullah menjawab : ‘ia mempunyai 50 dirham atau nilai (tersebut) yang setara dengan emas”. (HR. Al-Khamzah)

Dirham adalah mata uang perak dengan besaran 2,975 gram perak per satu dirham. 50 dirham berarti 148,75 gram perak . Karena kisaran harga perak per Mei 2018 sekitar 13.000/gram, maka 50 dirham setara dengan Rp1.933.750 . Dengan demikian , seseorang yang telah tercukupi kebutuhan pokoknya dan masih memiliki uang lebih minimal Rp1.933.750 , maka haram baginya untuk meminta-minta (mengemis).

Hal yang paling penting adalah kesadaran masyarakat akan keharusan rasa taat dan patuh terhadap seluruh syariat Allah swt dan takut yang tinggi dengan murka Allah kemudian didukung oleh penerapan islam secara total dalam negara , maka inilah jalan efektif yang dapat memusnahkan pengemis baik pengemis sungguhan, maupun settingan.[MO/sr]

Posting Komentar