Oleh : Afaf Nurul Inayah

Mediaoposisi.com-  Peraturan Presiden (perpres) Nomor 42 Tahun 2018 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas lainnya bagi Pemimpin, Pejabat, dan Pegawai Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menurut DPP Gerindra adalah sebuah pemborosan. Tidak sepantasnya sebuah lembaga non struktural seperti BPIP diberi standar gaji mirip dengan BUMN.

Ditengah keprihatinan perekonomian nasional, menurut Gerindra Presiden malah menghambur- hamburkan uang untuk lembaga ad hoc.

"Menunjuk Perpres 42 tahun 2018, Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarno putri memperoleh gaji Rp. 112,5 juta perbulan. Sedang anggota Dewan Pengarah BPIP seperti Try Sutrisno,  Moh Mahfud MD, Syafi'i Ma'arif, hingga KH Ma'ruf Amin digaji Rp 100 juta perbulan". Untuk posisi Kepala BPIP yang dijabat Yudi Latief, besaran gajinya merujuk aturan itu adalah Rp 76.500.000 perbulan, sedangkan gaji wakilnya Rp. 63.750.00 perbulan.

(Voa-Islam.com, 31 Mei 2018).

Mencermati kebijakan tersebut, Sudah sepatutnya menjadi bahan renungan bersama bahwa ketika seseorang telah diangkat menjadi seorang pemimpin atau diberikan jabatan harusnya sudah siap untuk mengorbankan diri, mengabdi kepada masyarakat, karena pemimpin adalah amanah yang harus dijalankan sebaik-baiknya  karena kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

Menjadi pemahaman yang keliru, yang dapat dijumpai dalam sistem kapitalis seperti sekarang adalah ketika seseorang mendapatkan sebuah jabatan dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan, popularitas, serta kekuasaan. Namun sayangnya fakta itulah yang justru  sedang mendominasi dan dapat kita saksikan sekarang.

Gambaran yang justru sangat jauh berbeda antara pemimpin atau pejabat-pejabat sekarang dengan pemimpin -pemimpin dalam masa Islam. Mereka adalah para pemimpin yang hidup miskin dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun begitulah pemimpin pada masa itu, yang tidak pernah mengeluh dengan kondisi tersebut. Justru mereka takut jika bergelimang harta karena bisa menjauhkan diri dari Allah SWT.

Ambil contoh gambaran sosok Abu Bakar asshiddiq, beliau adalah pemimpin islam sepeninggal Rasulullah, namun beliau terlihat masih berdagang untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari. Saat meninggal Abu Bakar hanya mempunyai sprei tua dan seekor unta yang merupakan harta negara. Harta tersebut pun dikembalikan kepada penggantinya yaitu Umar bin Khattab.

Begitu juga dengan sosok Umar bin Khattab, sosok pemimpin yang hidup dalam keterbatasan, bahkan sering melakukan pinjaman ke baitul mal karena gajinya tidak cukup untuk kebutuhan sehari- hari. Ketika para sahabat bermaksud untuk menaikkan gaji, Umar justru marah besar, menurut Umar pemimpin sebelumnya yaitu Rasulullah dan Abu Bakar juga tidak berlebihan ketika menerima hak dari Baitul Mal.

Hal yang sama juga dicontohkan oleh Ali bin Abi Thalib, sosok pemimimpin yang juga mendapatkan santunan dari Baitul Mal dan mendapat jatah pakaian yang hanya bisa menutupi tubuh sampai separo kakinya, bahkan sering bajunya dipenuhi tambalan.

Jika saat ini kita saksikan keputusan standar gaji para elite yang begitu selangit ditengah - tengah kehidupan masyarakat yang tengah terhimpit tentu akan membuat rakyat semakin teriris dan menangis. Hal yang wajar kiranya jika saat ini umat merindukan pemimpin yang sederhana, amanah, takut kepada Allah dan bekerja  sebagai pelayan umat semata- mata karena Allah  SWT dalam bingkai menjalankan Syariat-syariatNya.[MO/sr]

Posting Komentar