Oleh : Nida Husnia 
(Mahasiswa IAIN Jember)

Mediaoposisi.com- Piala dunia FIFA selalu mencuri perhatian. Kali ini turnamen sepak bola internasional ke 21 itu dilaksanakan di Rusia. FIFA World Cup 2018 diikuti oleh 32 negara yang diselenggarakan pada 14 Juni hingga 15 Juli mendatang.

Hiruk pikuk suasana pertandingan di 11 titik kota di Rusia menjadi momentum berharga bagi para jurnalis untuk meliput pertandingan secara live.

Jutaan suporter tumpah di stadion dengan beragam khas bendera negara yang diusungnya, termasuk suporter perempuan Arab Saudi setelah bertahun lamanya tak mendapat izin menonton bola. Mereka akhirnya bisa menyaksikan pertandingan Saudi melawan Uruguay. (liputan6.com)

Saat-saat menikmati pertandingan bola memang menyenangkan bahkan mampu melenakan. Sudah menjadi rahasia umum pecinta bola akan meninggalkan segala aktifitas dan  mencurahkan seluruh konsentrasinya ketika pertandingan dimulai. Tak heran bila peluit wasit di layar kaca bahkan mampu menyaingi suara sirine ambulance yang lewat.

Namun Rusia sebenarnya tak pantas berbangga diri atas negaranya yang terpilih menjadi tuan rumah dalam FIFA World Cup 2018. Mengapa? Sebab Rusia adalah salah satu koalisi negara yang memerangi wilayah Suriah dan masih berlanjut hingga kini. Rusia termasuk dalam deretan penjajah yang memerangi warga sipil seperti halnya Amerika dan Israel.

Gencatan senjata yang dilakukan Rusia sejak 2015 berdalih melawan terorisme, mereka berkoalisi dengan pemerintahan Basyar AL-Assad untuk menghabisi wilayah Suriah yang diketahui merupakan wilayah kelompok pemberontak dan wilayah sipil. (matamatapolitik.com)

Peperangan terus terjadi hingga ratusan ribu korban berjatuhan. Warga Suriah terpaksa mengungsi ditenda-tenda dengan perlengkapan rumah tangga seadanya. Bila siang tiba, cuaca begitu panas. Bila malam datang, udara dingin begitu menggigit. Mereka yang janda sampai tak mampu tampil tegar dihadapan putra-putrinya sebab kondisi yang sangat mencekam.

Dahulu Syam adalah negri yang dijanjikan Rasulullah sebagai pusat peradaban kaum Muslim di akhir zaman.

Negri makmur dengan sumber daya alam yang tumpah ruah. Semenjak keruntuhan Khilafah wilayahnya mulai dipecah menjadi 4 bagian yaitu Palestina, Yordania, Suriah, dan Libanon. Hal itu dilakukan  oleh pengemban kapitalisme untuk memudahkan aksi perampokan mereka terhadap SDA nya dan pengrusakan terhadap generasi penerusnya.

Realita yang kita hadapi saat ini adalah bahwa kaum Muslim mulai melupakan saudaranya. Lebih mencintai medan pertandingan sepak bola daripada mengikuti berita di wilayah kaum Muslim yang sedang ditimpa konflik tak berkesudahan. Euforia piala dunia di Rusia harusnya meluapkan amarah kita, karena mereka tertawa diatas genangan darah saudara kita.

Saat ini harga diri kaum Muslim diinjak, tak satupun penguasa Muslim maju melakukan pergerakan. Ambang batas kemarahannya sebatas pada kecaman. Tak rindukah kita dengan masa dimana tak ada waktu bagi penjajah untuk berpesta sebab tegasnya Khalifah menyiapkan militer Pasukan melawan mereka?

Tak ada jeda waktu bertahun-tahun untuk menunggu pembelaan terhadap kaum Muslim karena Khalifah telah siaga mempersiapkan pejuangnya.

Namun kini kita tak menemui sosok pahlawan lagi, sehingga yang terjadi adalah penyiksaan tiada henti. Pantaskah kita turut berbahagia dalam FIFA World Cup Rusia?...[MO/sr]

Posting Komentar