Oleh: Nur Syamsiyah
(Aktivis BMI Community Malang)

Mediaoposisi.com-  Akhir-akhir ini, dunia sedang digentarkan dengan berita tewasnya seorang perawat medis asal Palestina, Razan Ashraf Abdul Qadir al-Najjar. Razan (21 tahun) ditembak mati oleh pasukan Israel saat bertugas pada Jumat (1/6/2018).

Menurut keterangan saksi mata, Razan ditembak di dada saat dia menolong korban luka dalam demonstran Jumat lalu. Sedikitnya 100 demonstran Palestina terluka dalam unjuk rasa pekan ini, termasuk 40 orang yang terkena tembakan peluru hidup, tetapi hanya satu korban tewas yaitu Razan.

Tewasnya tenaga medis cantik ini mendapat reaksi keras dari dunia internasional terhadap Israel dan duka mendalam bagi rakyat Palestina. Seharusnya, Razan tidak boleh menjadi sasaran dalam konflik ini.

Saksi mata juga mengatakan bahwa Razan ditembak saat menolong dan membantu mengevakuasi demonstran yang terluka di sebelah timur Khan Younis. Razan juga mengenakan pakaian yang mengidentifikasi bahwa dirinya adalah seorang petugas medis ketika itu.

Dari seberang pagar saat Razan tengah menangani pasien, dua atau tiga peluru meluncur dan tepat mengenai bagian dada Razan. Tak lama setelah kejadian ini, ia dinyatakan meninggal dunia.
Ibu Razan, Sabreen, sambil memegang rompi medis milik puterinya yang bersimpah darah.

Dia mengatakan, Razan menjadi relawan sejak aksi protes telah dimulai. Ada satu kalimmat dari Razan yang begitu menyentuh hati Ayah dan Ibunya ketika mereka harus melepaskan puterinya ke medan.
Saya terlindungi oleh rompi. Tuhan bersama saya, saya tidak takut,” kata Razan kepada orangtuanya.

Ibu Razan mengungkapkan kesedihannya dengan menunjukkan rompi puterinya dan bahan medis yang dibawa ketika bertugas, “Inilah senjata puteriku saat memerangi zionis, inilah senjata miliknya, dan inilah amunisi senjata milik puteriku, dan ini ID puteriku yang menunjukkan dia teroris atau bukan. Alhamdulillah merekalah para teroris itu.”

Kemana mereka yang selalu berteriak HAM? Dimana Hak Asasi Manusia? Bahkan rompi ini pun tidak mampu menjamin keselamatannya. Cukup bagiku Allah sebaik-baik pelindung. Dimana hak asasi manusia? Dimana hak puteriku?

Hak-hak pihak medis menurut Hukum Humaniter Internasional (HHI) adalah dilindungi saat perang. Aturan ini juga termaktub dalam Konvensi Jenewa I,II, dan IV, yang menyatakan tentara terluka dan sakit (KJ I), tentara korban kapal perang karam (KJ II), tawanan perang (KJ III), penduduk sipil (KJ IV), unit medis dan ICRC, harus dilindungi.

Dimanakah Hak Asasi Manusia itu? Mereka yang menggaungkan Hak Asasi Manusia tak lagi bersuara ketika kritis kemanusiaan menimpa pada umat Islam. Kaum muslimin senantiasa diperangi dan tak ada harga nyawa bagi umat Islam.

Sampai kapan konflik ini akan berakhir? Wallahu a’lam bisshawab. Namun, perjuangan ini tak akan pernah berkahir. Dari Razan al-Najjar, ia mengajarkan kepada umat Islam di seluruh dunia, “Menjadi orang yang pemberani, meluangkan tenaga dan pikiran untuk membantu saudara seakidahnya.” In syaa Allah, surga untuknya.[MO/sr]

Posting Komentar