Oleh : Nor Faizah Rahmi, S. Pd.I
(Praktisi Pendidikan-Guru SMPIT Insantama)

Mediaoposisi.com- Berbagai problem bermunculan sepanjang tahun 2018 menimpa masyarakat disegala lini kehidupan. Salah satu aenda politik yang digaungkan oleh penguasa semenjak tahun 2017 adalah Deradikalisasi Islam. Dalam beberapa kesempatan, Pemimpin Negri ini menyatakan akan bersungguh-sungguh dalam menangkal gerakan radikalisme. Seolah-oleh negri ini memiliki maslah disebabkan ‘radikalisasi’ oleh Islam dan penganutnya.

Kondisi ini yang kemudian melahirkan berbagai macam kebijakan mengaitkan upaya deradikalisasi ini, untuk dijalankan oleh berbagai macam kementrian,lembaga maupun organisasi yang ada di Indonesia.

Bahaya Balik Istilah Deradikalisasi 

Istilah ini mulai dikenal di Indonesia semenjak banyak kasus yang bermunculan, sebut saja kasus hangat yang masih menjadi viral di negri ini tentang kasus bom bunuh diri dan penyerangan yang melukai salah satu anggota polisi yang dilakukan oleh dua orang wanita muslimah bercadar.

Dampak terbesar setelah kasus ini terjadi adalah munculnya ketakutan ditengah masyarakat tentang stigmanisasi yang berhubungan tentang Islam. Istilah ini lebih populer dikenal dengan istilah ‘Islamophobia’.

Sering pula kita mendengar sebutan ‘Deradikalisasi-Tokoh Islam’ di Indonesia, dengan mengajak mereka berkunjung ke sejumlah Negara Barat terutama Negara Adidaya Amerika Serikat. Dengan melihat langsung kondisi fisik, social, ekonomi, dan budaya disana diharapkan mereka menjadi lebih mengerti “kesuksesan” yang dicapai negara-negara sekuler. Artinya bahwa tanpa islam-pun, semua kebaikan dan kemajuan bisa diperoleh.

Apa artinya kemajuan ilmu, tekhnologi dan infrastruktur jika banyak manusia diperbudak oleh pembangunan dan tekhnologi? Misalkan saja seperti di Jepang yang banyak mengalamai permasalahan.

Tekhnologi yang maju ternyata diiringi dengan krisis social,keruntuhan instansi rumah tangga, tingkat bunuh diri yang semakin meninggi dan sebagainya. Inilah pangkal kegagalan peradaban sekuler yang menawarkan kemajuan beracun pada negri-negri kaum muslimin.

Dikatakan beracun karna keberlimpahan ilmu pengetahuan dan kemajuan pesat tekhnologi tetapi sangat banyak pula manusia yang gagal dalam mengatur kehidupan pribadinya dan gagal dalam membangun peradaban.

Secara tak sadar, umat Islam digiring secara halus untuk berislam setangah-setengah dan menyesuaikan diri dengan standar sekulerisme.inilah pemahaman yang sering diulang terkait esensi dari pemikiran deradikalisasi yang disosialisasikan oleh Barat ke dunia muslim agar masyarakat mempercayainya.

Kita jadi semakin sering mendengar ungkapan,”Negara Barat lebih Islami daripada Negri mayoritas muslim.” Namun jika logika ini benar,maka jutaan pemuda muslim yang kini tinggaldi Negara Baratmestinya juga tersekulerkan.

Padafaktanya tidak semuanya, jangankan tersekulerkan, bahkan mereka justru semakin yakin dan bangkit dengan kebenaran islam. Tak sedikit dari mereka menjadi relawan bagi para mualaf untuk terus mendakwahkan islam di negri-negri sekuler yang memperkenalkan istilah Deradikalisasi ini.

Deradikalisasi vs Islam

Program Deradikalisasi yang dijalankan penguasa, sebenarnya program De-Islamisasi. Sebab bagi rezim saat ini, ulama lebih berbahaya bahkan dari gerakan separatis yang hanya dilabel sebagai kelompok criminal bersenjata. Mengapa? Sebab ulama-ulama yang ikhlas ini tampil untuk mendakwahkan Islam secara menyeluruh, membuat ummat merindu pada syariat Allah, menjadikan umat hanya taat pada Kitabullah dan sunnah.

Adapun perkataan ulama, “Kaum Muslim mundur karena meninggalkan agamanya, sedangakan Barat maju karena meninggalkan agama mereka.

Sesunggunya, Islam membawa sejuta harapan akan solusiperadaban, Syariah-Nya adalah rahmat semesta alam yang tak lekang oleh zaman dan bagi para pengemban dakwahnya adalah mereka yang mempersembahkan hidup untuk mendalami Al-Qur’an dan berjuang mengemban cita-cita masa depan umat.

Nabi Muhammad SAW sebagai  suri tauladan.adalah kembalinya Islam sebagai satu kesatuan sisteminilah yang akan menjadi perisai sekaligus obat dari wabah krisis identitas yang melanda pemuda Muslim di seluruh dunia,

Seperti dalam sabda Nabi SAW,
islam itu tinggi dan tidak ada yang bisa mengalahkan ketinggiannya”. (HR. Daruqthni)[MO/sr]



Posting Komentar