Oleh : Riska Puji Amalia
(Mahasiswa, Tegal)

Mediaoposisi.com-  Beras merupakan komoditi pangan utama di negara ini. Baru-baru ini Badan Urusan Logistik (Bulog) akan meluncurkan beras kemasan sachet dengan isi 200 gram. Beras tersebut dibandrol harga Rp. 2.500 rupiah per sachetnya.

"Berat kemasan 200 gram ini nantinya akan sangat ekonomis kegunaannya bagi masyarakat." Ungkap karyawan Gunarso, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog.

Jika ditelisik, sebenarnya beras sachet ini bukan menjadi lebih ekonomis tapi justru menambah miris. Dibandingkan dengan beras per kilo yang harganya kisaran Rp. 10.000 sampai Rp. 12.000. Beras kemasan ini jika dihitung lebih mahal, yaitu dengan harga Rp. 2.500 per 200 gram. Di mana satu kilonya sama dengan Rp. 12.500.

Apakah sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara umum? Apakah ini bisa mencakup kelas menengah ke bawah? Seperti halnya raskin atau beras miskin yang biasa dibandrol Rp. 1.600 per kilo. Bagi kalangan menengah ke atas mungkin sesuai.

Dan mengingat kebutuhan sehari-hari bisa mencapai 1-2 kilo gram. Menggunakan beras sachet akan menambah biaya pengeluaran. Pemerintah dinilai belum memprioritaskan masyarakat untuk masalah beras. Sudah jelas negara belum bisa memprioritaskan seluruh kalangan rakyatnya.

Kapitalisme global, kampanye produk-produk yang mendorong orang untuk jauh lebih menekan biaya hidupnya. Produksi pangan secara keseluruhan boleh jadi meningkat efisiensinya namun kemiskinan dan ketimpangan ekonomi telah menjadi isu besar yang menyebabkan tidak semua orang di berbagai negara dapat mengakses pangan secara layak.

Negara seharusnya memiliki tugas untuk melakukan kepengurusan seluruh urusan rakyatnya, baik dalam negeri ataupun luar negri ( ri'ayah su'un al-ummah).

Dalam sistem Islam, ketahanan pangan tidak terlepas dari peran negara. Yang menjamin semua pemenuhan kebutuhan primer (kebutuhan pokok bagi individu dan kebutuhan dasar bagi masyarakat) setiap individu per individu secara menyeluruh, juga jaminan kemungkinan bagi setiap orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya, sesuai dengan kesanggupannya sebagai individu yang hidup dalam masyarakat yang memiliki gaya hidup tertentu.

Untuk menjamin semua kebutuhan rakyatnya termasuk ketahanan pangan, kuncinya adalah satu, yakni segera kembali pada aturan-aturan Islam. Lagi-lagi, di sinilah pentingnya penguasa negeri ini untuk segera menerapkan syariah Islam secara total dalam kehidupan.[MO/sr]

Posting Komentar