Oleh : Arlianah 
(Mahasiswi STEI Hamfara Yogyakarta)

Mediaoposisi.com- Tudingan yang mengangap bahwa perempuan adalah penyebab kemiskinan di negeri ini, menjadikan Indonesia kian melaju dalam upaya mengikutsertakan perempuan untuk aktif dalam dunia pekerjaan.

“Dari data BPS 2017, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan 55,04 persen. Meningkat dibandingkan tahun 2016 sebesar 52,71%. Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat, pertumbuhan jumlah pekerja perempuan meningkat setiap tahunnya. Pada 2015, 38% dari 120 juta pekerja di Indonesia adalah perempuan”, Ucap Nida Saadah (Reporter Muslimah News ID).

Berdasarkan fakta diatas, tudingan tersebut tidak dapat diterima karena nyata nya jumlah pekerja perempuan semakin meningkat namun angka kemiskinan juga kian melaju . Sistem ekonomi saat ini mengatakan bahwa terjadinya kemiskinan akibat dari kebutuhan lebih tinggi dibanding alat pemuas kebutuhan tersebut . Namun, benarkah demikian ? Negeri kaya SDA namun tidak dapat mencukupi kebutuhan penghuninya. Aneh tapi nyata, negeri kaya namun menduduki posisi “ekonomi minimalis bahkan dibawah garis” . 

Coba kita berfikir sejenak . Pernahkah kita menonton tayangan TV yang dalam channel beritanya mengabarkan bahwa beberapa daerah mengalami kesulitan dalam mengakses Gas LPG , Air bersih , bahkan BBM, dsb . Sementara di daerah kita saat itu fine-fine saja . Masih gampang beli Gas , Air bersih juga tinggal nyalain kran , BBM juga tersedia di sepanjang jalan .

Atau sebaliknya . Kita yang mengalami kesulitan di atas namun mendengar kabar di daerah lain bahwa mereka baik-baik saja , alias tidak merasakan hal yang sama dengan kita. Apakah hal ini disebabkan oleh Perempuan ? Tentu tidak. 

Segala sesuatu pasti memilki sumber . Sumber itu yang menjadi pusat . Sama hal nya dengan GAS, Air, BBM , dsb , pasti memiliki titik awal untuk pendistribusian . Dimana semua produksi dilakukan di tempat sumber , yang kemudian akan didistribusikan agar dapat dikonsumi oleh semua yang membutuhkan . Faktanya , semua orang memang membutuhkannya , namun tidak semua orang bisa mengakses , menikmati dan mendapatkan tersebut . 

Dengan demikian , kesalahan bukan pada “kontribusi perempuan dalam dunia karir” namun interaksi menusia dalam hal distribusi yang masih belum terlaksana dengan benar. Sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam negeri ini” . Maka, masalahnya bukan pada produksi tapi distribusi .[MO/sr]

Posting Komentar