Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com -Petinggi banteng moncong putih sesumbar, jika kasus media yang memberitakan gaji segede gaban untuk kakek-nenek pembina Pancasila terjadi di Jateng, dipastikan kantor media rata dengan tanah. Luar biasa lur, RATA DENGAN TANAH. Memang sudah tidak ada hukum lagi di negeri ini ? Sehingga setiap orang bisa main hakim sendiri (eiqenrighting)?

Kita prihatin, benih-benih chauvinisme bersemai di negeri ini. Right or Wrong, She's my Mom. Semua gembala banteng ngamuk saat sang Biyung di kritik. Benar salah urusan nanti, yang penting ngluruk dulu, eksekusi dulu.

Parahnya, korbannya insan media, institusi yang dilindungi hukum untuk membuat konten jurnalis. Entitas yang memiliki hak untuk mengabarkan fakta, dan membuat ulasan atas fakta yang mengusik benak publik.

Publik tentu bertanya, apa ini hasil didikan pembina Pancasila ? Apa ini hasil dari nilai prikemanusiaan yang beradab ? Apa ini cara untuk menghadapi perbedaan dalam menafsirkan sebuah fakta ? Apa ini bangunan ideologi Pancasila yang hendak disemai dan ditumbuh kembangkan di negeri tercinta?

Jika model aktualisasi aspirasi diruang publik menggunakan otot, kuat-kuatan, adu tinju, kapan negeri ini bisa berdikari ? Jika model penyelesaian perbedaan diejawantahkan dengan persekusi, menebar teror dan ancaman, kapan kedamaian akan menaungi negeri ini ? Bukankah BNPT harus segera bertindak ? Segera bertindak untuk menguatkan program deradikalisasi kepada kader banteng moncong yang radikal dan anarkis !

Semua elemen anak bangsa tentu miris, prihatin dan berbela sungkawa atas matinya kebebasan pers bagi media. Media, memiliki amanat dan mandat publik, untuk menyeimbangkan fakta yang mendistorsi nurani dan keadaban.

Penegak Hukum harus bertindak, seret pelaku pemukulan dan yang bertindak anarkis ke meja pengadilan. Setiap tindakan harus dimintakan pertanggungjawaban. Negara harus hadir untuk melindungi rakyatnya!

Anak-anak Banteng liar ini harus dikandangkan, diajari adab dan sopan santun, dididik nilai Budi pekerti dan ditatar dengan nilai-nilai Pancasila. Agar tidak memalukan bangsa, agar tidak membuat malu sang pembina Pancasila.

Wahai umat, wahai kaum muslimin, mereka bersembunyi dibalik kedok "AKU PANCASILA" sementara mereka berbuat sesukanya. Mereka menuding kaum muslimin yang ingin Taat pada syariat Islam sebagai anti Pancasila, padahal mereka sendiri melacurkan nilai-nilai kebertuhanan.

Mereka harus diselamatkan dari penghambaan kepada makhluk, dibebaskan dari belenggu doktrin menyesatkan, dan memuliakan diri dengan menghamba hanya kepada Allah SWT.

Semoga, siapa saja yang masih berasal dari rahim Islam, putra terbaik Islam, segera memisahkan diri dari kubangan doktrin politik menyesatkan. Segera bertaubat dan memperoleh ampunan, Amien[MO/sr]

Posting Komentar