Oleh : Riska Puji Amalia
(Mahasiswa, Tegal)

Mediaoposisi.com-  Utang masih menjadi momok yang tidak terlepas dari perekonomian Indonesia. Di mana setiap tahunnya mengalami kenaikan. Umpama balon yang terus dipompa, semakin menggelembung, dan tumbuh.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan total utang Indonesia hingga akhir April 2018 mencapai Rp4.180 triliun.

Masih berada di bawah batas aman, menurutnya. Dimana jika sesuai asumsi Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini sebesar Rp14 ribu triliun, batas aman utang Indonesia sesuai Undang-Undang (UU) mencapai Rp8.400 triliun.

Menganggap utang aman merupakan bukti salah pikirnya rezim neolib. Utang justru menandakan ketidakmandirian negara dalam mengelola kekayaan. Dan utang juga suatu bentuk penjajahan, perbudakan. Utang menjadikan mereka dari seorang merdeka sebagai budak. Seperti kutipan Publilius Syrus "Debts is the slavery of the free."

Menyangka ekonomi akan terus tumbuh, dengan utang alih-alih menyehatkan ekonomi, justru akan membuat suasana ekonomi bertambah panas. Ketika gelembung utang terus ditiup, dan negara tak kuat lagi menahan beban. Maka tunggulah saat meledaknya.

Dalam sistem kapitalisme saat ini, utang menjadi peranan penting dalam pembangunan. Seperti halnya pendidikan yang diajarkan dalam persamaan dasar akuntansi adalah harta sama dengan modal ditambah utang. Di mana semakin banyak utang berarti semakin banyak harta. Padahal di dalamnya menganduk praktik riba yang sangat tidak dibenarkan dalam agama.

Dalam Islam telah memiliki aturan yang khas dan jelas dalam pengelolaan ekonomi. Dalam sistem pemerintahan Islam, sumber-sumber pendapatannya diperoleh dari kepemilikan negara seperti ‘usyur, fa’i, ghonimah, kharaj, jizyah dan lain sebagainya. Selain itu juga diperoleh dari pemasukan pemilikan umum seperti pengelolaan hasil pertambangan, minyak bumi, gas alam, kehutanan dan lainnya.

Islam mengatur semua hal dalam kehidupan. Namun, semua aturan ini akan sulit diterapkan dan tidak mampu mengantarkan umat pada keridhaan Allah SWT bila masih menggunakan sistem demokrasi-kapitalis. Jelas hanya dengan sistem Islam yang kaffah, semua permasalahan yang ada bisa teratasi, baik dalam bidang perekonomian, pendidikan, politik, sosial budaya dan lainnya.[MO/sr]

Posting Komentar