Oleh : Dessy Fatmawati, S. T.

Mediaoposisi.com-  "Kamu masih salat?" Lam mengerutkan kening bingung menanggapi pertanyaan atasannya di kantor media massa Libernesia, "Apa urusannya tulisan saya dengan salat?".
"Asal kamu tahu, kita bisa saja dibully jika mendapati satu saja foto kamu sedang salat." Petikan dialog ini memang fiktif, diambil dari film Alif Lam Mim.

Satu dari sedikit film yang menggambarkan secara jujur fenomena Islamophobia, yang digerakkan secara sistematis oleh sistem sekuler.

Akan tetapi  fenomena ini sesungguhnya tidaklah fiktif.

Di dunia nyata, aroma Islamophobia tidak bisa dielakkan. Terlebih paska ledakan bom di Surabaya, disusul penangkapan 74 terduga teroris oleh aparat dalam waktu delapan hari. Kasus penurunan paksa penumpang bercadar dari bus umum juga bukti jejak Islamophobia di negeri mayoritas muslim ini. Efek berantainya, kembali stigmatisasi negatif menyebar ke pihak yang sebetulnya tidak terkait sama sekali, rohis, home schooling dan perguruan tinggi.

Generalisasi bahwa Islam adalah bibit radikalisme yang mengusik tatanan kehidupan tampaknya sudah merembet ke arah yang cenderung asal. Berdasarkan asumsi bukan argumentasi. Narasi yang berkembang pun cenderung monolog/satu arah, sangat minim ruang klarifikasi dari pihak selain pembuat narasi utama (mainstream). Ditunjang dengan kecepatan informasi (masyarakat tidak sempat menyaring) narasi islamophobia berkembang luas bak api memakan rumput kering.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh the Review of Religion pada 21 Mei 2018 menyebutkan 41% penyebab meningkatnya Islamophobia adalah bias dan kesalahan penggambaran yang dilakukan oleh media massa (media bias and misspotrayal). Disusul 24% karena perilaku negatif individu yang disebut muslim. Hanya 15% responden yang tidak setuju adanya (peningkatan) Islamophobia. Jelas media memiliki peran besar dalam mentansfer fenomena islamophobia ke khayalak.

Berbicara tentang islamophobia, tujuannya bukan sekedar sentimen pribadi terhadap keyakinan, namun lebih besar dari itu. Apa yang terjadi dibalik meningkatnya islamophobia. Kejernihan berfikir dalam menelusuri fakta bukan sekedar tunduk pada opini yang dihembuskan menjadi kebutuhan mendesak. Agar tidak berputar-putar pada kondisi yang tidak perlu. Lebih parah,  terjebak dalam pusaran mempertahankan kekuasaan yang bathil.

Istilah Islamophobia sendiri dikenal luas paska peristiwa 9/11, tindakan yang diklaim sebagai aksi terorisme oleh USA di era Bush. Sedangkan istilah teroris baru populer dan dikaitkan dengan Islam pada abad 20 dimana barat hampir secara sempurna menginvasi negeri-negeri bekas wilayah Turki Ustmani.

Islam sendiri sudah hadir pada abad ke 7 dan sepanjang abad ke 7 hingga abad 20, tidak sekejap pun dunia mengenal istilah terorisme. Pun dengan para derivatnya, seperti radikalisme, ekstrimisme, fanatisme, absolutisme dan lain-lain.

Ini perlu dicermati, sejak berjalannya sekulerisme di panggung tatanan dunia, termasuk negeri-negeri muslim ternyata hanya menghasilkan kemajuan semu yang disebut "Chicago syndrom". Maju dari sisi materi, namun bobrok dari sisi sosial. Perlahan namun pasti, kemajuan yang dibawa asas sekuler menunjukkan gejala self destructive.

Dan cara yang paling efektif menunda kesadaran manusia atas self destructive ini adalah dengan pengalihan sumber masalah. Paska tumbangnya komunisme, Islam menjadi lawan yang tangguh bagi peradaban barat. Terlebih para penggemban Islam sebagai tatanan kehidupan, sedikitpun tidak peduli pada kemilau peradaban barat (sekuler-kapitalis).

Jelaslah tuduhan kepada agama (baca:Islam) sebagai penyebab kemunduran dan kekacauan bukanlah arus tanpa setting. Islamophobia bukanlah produk baru yang muncul secara sporadis tapi well prepared. Islamophobia dihadirkan oleh musuh-musuh Islam, diekspor tidak hanya dikalangan barat, namun disusupkan masif ke benak kaum muslimin. Agar mata ummat teralihkan dari penyebab sesungguhnya kerusakan-kerusakan, penerapan sekulerisme dalam tatanan kehidupan.

Padahal di tangan Islamlah solusi untuk semua kerusakan. Sebab Islam datang dari Zat yang menciptakan manusia dan alam kehidupan dan ajaran-ajarannya memang berfungsi sebagai way of life agar manusia bisa meraih kebahagiaan hakiki. Tak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Sejarah telah membuktikan kegemilangan Islam dipanggung dunia selama lebih dari dua belas abad. Berbeda dengan sistem sekuler, yang belum genap seratus tahun sudah menuju self destructive.

Maka maraknya fenomena Islamophobia, terlebih semakin meningkatnya akhir-akhir ini harus disikapi dengam cerdas. Propaganda negatif atas Islam yang dijalankan sistem saat ini harus dihadapi dengan bijak, bukan terburu-buru mengambil sikap defensif apologetic.

Dan diperlukan figur-figur muslim yang handal di segala lini untuk mendudukan akar masalah dengan benar. Agar masyarakat semakin sadar dan paham akan kerusakan sistem sekuler dan bersegera menyambut solusi Islam dalam mengatasi problem kehidupan, sebagai pelindung dan pembawa kemajuan. Figur-figur yang hanya bisa diraih dengan didikan Islam kaffah, yang bergerak secara jamaah yang rapi, sistematis, dan berjuang berlandaskan Islam saja.[MO/sr]

Posting Komentar