Oleh : Nia Damayanti 
(Anggota kelas menulis online Writting Class With Has)

Mediaoposisi.com- Lawatan kontroversial Anggota Wantimpres yang juga Katib Aam Nahdlatul Ulama (NU), Yahya Cholil Staquf ke Israel  telah menyulut pro kontra yang cukup gaduh di dalam negeri dan dunia internasional. Padahal sebelumnya, pria yang akrab disapa Gus Yahya ini, sudah sesumbar akan membatalkan rencana keberangkatannya ke Israel.

Peluru peluru kritik dari berbagai tokoh kian menukik menghujani kakak kandung dari Yaqut Cholil Qoumas ini, setelah American Jewish Commettee Global Forum  merilis video pemaparan kuliah umumnya pada 2.400 Audiens lewat chanel You Tube. Kritik berhawa pedaspun datang dari Wakil ketua DPR, Fadli Zon.

"Kunjungan Wantimpres Yahya Staquf ke Israel,selain mencederai reputasi politik luar Indonesia di matainternasional, juga melukai rakyat Palestina. Selain itu, bisa melanggar konstitusi dan UU No 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Dalam konstitusi kita tertulis tegas penentangan segala bentuk penjajahan," kata Fadli dalam pernyataan tertulis, Rabu (DetikNews,13/6/2018).

Israel, Fadli melanjutkan, berdasarkan serangkaian resolusi yang dikeluarkan PBB, merupakan negara yang telah melakukan banyak pelanggaran kemanusiaan terhadap Palestina.

Mulai dari Resolusi 181 Tahun 1947 tentang pembagian wilayah Palestina dan Israel, Resolusi 2253 Tahun 1967 tentang upaya Israel mengubah status Yerusalem, Resolusi 3379 Tahun 1975 tentang Zionisme, serta Resolusi 4321 Tahun 1988 tentang pendudukan Israel dalam peristiwa intifada.

"Berdasarkan catatan statistik otoritas Palestina, sejak tahun 2000 hingga Februari 2017, sebanyak 2.069 anak Palestina tewas akibat serangan Israel.

Bahkan pada serangan Israel ke Yerusalem Timur danTepi Barat pada 2014, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) menyatakan serangan tersebut mengakibatkan kematian warga sipil tertinggi sejak 1967," beber Waketum Gerindra ini.

Dari Laporan OCHA tahun 2014 yang berjudul 'Fragmented Lives', masih kata Fadli, disebutkan, akibat okupasi Israel di Jalur Gaza, terdapat 1,8 juta warga Palestina yang menghadapi peningkatan permusuhan paling buruk sejak 1967 dengan lebih dari 1.500 warga sipil terbunuh, lebih dari 11.000 orang terluka, dan 100.000 orang telantar. Laporan pada 2017 pun menunjukkan situasi tak berubah.

Akibat agresivitas Israel, terdapat 2,8 juta warga Palestina yang membutuhkan pertolongan dan perlindungan kemanusiaan.

"Inilah yang mendasari sikap konstitusi kita. Di mana secara de facto dan de jure Indonesia tidak mengakui keberadaan Israel. Sehingga, kunjungan anggota Wantimpres Yahya Staquf ke Israel, selain bertentangan dengan konstitusi, rentan ditafsirkan sebagai simbol pengakuan pejabat negara Indonesia secarade factoatas keberadaan Israel. 

Ini sangat berbahaya dan memprihatinkan. Lebih jauh, kunjungan Staquf juga kontra produktif bagi agenda diplomasi Indonesia yang selama ini konsisten membela Palestina," ujarnya.(DetikNews,13/6/2018)

Tak hanya jadi kontroversi di Indonesia, tapi juga di dunia. Kecamanpun datang dari organisasi Islam, Hamas di Palestina.

" Hamas bersama orang-orang Palestina mengecam kabar bahwa Yahya Staquf, sebagai salah satu cendekiawan muslim, mengunjungi Israel."(DetikNews, 13/6/2018).
Selain keyang dengan kritikan, Gus Yahya pun dibanjiri dukungan dan  pujian atas keberaniannya menginjakan kaki di tanah Israel atas nama muslim. Salah satu dukungan datang dari Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas."

Kita selalu berpikir positif. Semua ikhtiar demi Palestina selama bertujuan mencari kedamaian dan ketenangan warga Palestina, layak didukung," katanya kepada detikcom, saat dihubungi Kamis (14/6/2018).

Menanggapi polemik yang terjadi, pengasuh pondok pesanten Raudlatut Thalibin ini mantap angkat bicara bahwa kunjungannya ke Israel dalam upaya memperkuat gerakan perdamaian.

"Upaya saya ini mengajak atau memperkuat gerakan perdamaian di tingkat akar rumput di masyarakat menjadi konsensus sosial. Semua orang mau perdamaian," kata Gus Yahya dalam wawancara dengan stasiun televisiCNN Indonesiadi Rembang, Jawa Tengah, yang tayangpada Kamis (DetikNews, 21/6/2018).

Alih alih menyebut bertandangnya ke Israel atas nama perdamaian Palestina. Namun, sangat disayangkan selama melakukan rangkaian kunjungannya ke Israel, Gus Yahya justru bermanis muka terhadap Israel.

Bahkan, tertangkap kamera tengah bersikap 'mesra' dengan perdana mentri Israel, Benjamin Netanyahu. Ironisnya, statement-nya tentang al quran dan hadist sebagai dokumen sejarah sungguh mencederai perasaan ummat Islam. Lebih jauh lagi Gus Yahya bernarasi bahwa Futuhat (penaklukan) sama dengan penjajahan.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ 
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu."

Israel adalah negara yang getol mencaplok lebih dari 90 % wilayah Palestina. Sejak PBB berdiri, Majelis Umum telah mengeluarkan banyak resolusi tentang Israel-Palestina, namun tak berdampak bagi perdamaian Israel-Palestina.

Malahan, karena adanya resolusi 181 tahun 1947, menjadi cikal bakal terbentuknya negara Israel di tanah Palestina. Lebih dari 33 resolusi dikangkangi oleh Israel namun PBB maupun dunia tak bergeming menyaksikan kebrutalan yang dilakukan mereka terhadap rakyat sipil Palestina.

Jejak kebengisan Israel terlihat jelas pada gerakan protes warga Palestina di Gaza saat pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem yang berujung tragis. Saat begitu banyaknya resolusi PBB dicueki, masihkah konsep rahmah yang di gaungkan Yahya Cholil Staquf saat berdiplomasi dianggap solusi ?

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لا يَسْمَعُ إِلا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَعْقِلُون

"Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti."

Kata damai sudah lama terkubur dalam 'kamus' Israel. Bahkan Hamas menegaskan bahwa mereka hanya mengerti bahasa perang bukan dengan jalan diplomasi basi. Bersikap lemah lembut kepada meraka yang tangannya basah berlumuran darah kaum muslimin adalah bentuk bunuh diri politis yang sistemis.

Dalam kaca mata Islam, Palestina adalah tanah haram yang dengan gagah telah ditaklukan oleh Khalifah Umar bin Khatab pada tahun ke 15 H dan tahun 583 H oleh Shalahudin al-Ayyubi, pada penaklukan kedua.

Kedudukan Israel di mata Islam adalah sebagai Kafir harbi muhariban fi'lan, artinya Hubungan yang dibangun antara Palestina dengan Israel adalah hanya sebatas hubungan perang. Israel adalah negara yang harus diperangi, pasalnya dengan nyata menjarah tanah ummat Islam dan sering menumpahkan darah para Syuhada bahkan para Nabi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Jika kamu menjumpai musuhmu kaum musyrik, maka serulah mereka untuk memilih salah satu dari tiga perkara. Apapun dari ketiganya yang mereka pilih maka kamu harus menerimanya. Serulah mereka untuk masuk Islam, jika mereka mau maka terimalah dan biarkan mereka,  jika mereka tidak mau maka mintalah dari mereka jizyah, jika mereka mau maka terimalah dan biarkan mereka. Jika mereka tidak mau, maka mintalah pertolongan pada Allah perangilah mereka.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)

Penaklukan atau futuhat dalam pandangan Islam adalah bagian dari syariat jihad bersifat ofensif (jihâd hujûmî), yang diartikan sebagai:

Perang yang bersifat ofensif; yaitu perang yang dimulai oleh kaum Muslim ketika mereka memaksudkan dakwah Islam kepada umat lain di negeri mereka, namun penguasanya menghalang-halangi kaum Muslim untuk menyampaikan kebenaran.” (Mushthafa Dib al-Bugha dkk., al-Fiqh al-Manhajî ‘alâ Madzhab al-Imâm al-Syâfi’î, juz 8 hlm 115).

Inti dari futuhat adalah dakwah agar Islam masuk, tersiar, dan diterapkan di wilayah yang menjadi target dakwah. Adapun perang, sebatas untuk menghilangkan penghalang dakwah yang biasanya datang dari penguasa wilayah setempat.

Meskipun aktivitasnya berupa perang fisik, namun jihad  ini memiliki tata cara tertentu yang khas. Yakni diawali dengan menawarkan kepada penguasa kaum kafir untuk memilih salah satu dari tiga pilihan: masuk Islam, membayar jizyah (dengan tetap dalam kekafiran), atau perang.

Implementasi futuhat bertolak belakang dengan penjajahan. Dalam rentang sejarah, tak pernah tertulis jika praktek futuhat memiskinkan, memperbudak, mengusir atau bahkan membantai rakyat sipil dari wilayah taklukannya.

Berbeda dengan penjajahan Israel atas Palestina atau Belanda atas Indonesia yang mengeksploitasi SDA maupun SDM dari wilayah jajahannya. Menyamakan futuhat dengan penjajahan jelas tidak benar sebab tidak ada korelasi antar keduanya.[MO/sr]

Posting Komentar