Oleh: Eka Try Wahyuni

Mediaoposisi.com- Bank Indonesia (BI) mencatat pada Februari 2018, secara rata-rata harian rupiah melemah sebesar 1,65% menjadi Rp 13.603/US$. Sementara pada Januari 2018, BI mengungkapkan rupiah menguat sebesar 1,36% menjadi Rp 13.378/US$.

Mengapa hal diatas bisa terjadi?  Karena ada beberpa faktor yang menyebabkan mata uang Indonesia melemah, diantaranya adalah :

Pertama, investor asing melakukan spekulasi terkait prediksi kenaikan Fed rate pada rapat FMOC 1-2 Mei 2018. "Spekulasi ini membuat capital outflow di pasar modal mencapai Rp 7,78 triliun dalam 1 bulan terakhir."

kedua, harga minyak mentah diprediksi naik lebih dari USD 75 per barel akibat perang di Suriah dan ketidakpastian perang dagang AS-Cina.

Ketiga, permintaan dolar AS diperkirakan naik pada triwulan II 2018 karena emiten secara musiman membagikan dividen. "Karena investor di pasar saham sebagian besar adalah investor asing sehingga mengonversi hasil dividen rupiah ke dalam mata uang dolar,"

Keempat, Bank Indonesia dianggap belum memberikan sentimen positif ke investor karena masih menahan bunga acuan di 4,25%. Kebijakan moneter dianggap terlalu berhati-hati.

Melemahnya rupiah menjadikan Indonesia tidak bisa melakukan apa-apa, Terjadi PHK, Pengangguran dimana - mana inilah yang terjadi pada rakyat Indonesia. Dan tidak hanya itu, Pertumbuhan Indonesia semakin melambat, karena pertumbuhan melambat inilah menjadi faktor yang nempengaruhi yang lain seperti gizi buruk, Inflasi, Daya beli menurun, dan semakin meningkatnya kemiskinan.

Hal diatas dapat terjadi karena semakim depresinya mata uang Indonesia yang sudah tidak tau lagi bagaimana solusi untuk meyelesaikan masalah yang ada, Contohnya aja PHK, terjadinya PHK yang meningkat karena ada ketergantungan terhadap bahan baku impor, karena tau bahwa rupiah semakin melemah, maka PHK akan terus terjadi bahkan sampai tingkat yang semakin tinggi.

Ini salah siapa?  Tak perlu menanyakan siapa yang salah, siapan yang benar, Ini semua terjadi tidak mungkin jika tidak ada campur tangan dari sistem yang ada. Sistem apa?  Sistem kapitalisme, yang semakin lama semakin menggerus dan menjadikan keterpurukan bagi rakyat Indonesia yang terus meningkat.

Padahal jika kita lihat dalam pandangan Islam, kita tidak akan mengalami hal sperti diatas, mengapa?  Karena untuk masalah diatas dan untuk memudahkan kondisi itu, maka Allah menciptakan dinar dan dirham sebagai hakim dan ukuran harga suatu barang.

Uang logam emas(dinar) dan perak (dirham) senantiasa sesuai dengan antara nilai intrinsiknya dengan nilai nominalnya. Sehingga ekonomi lebih stabil dan inflasi bisa terkendali. Hal ini sangat berbeda dengan uang kertas yang nilai nominalnya tak seimbang dengan nilai intrinsiknya (nilai materialnya). Sistem ini rawan goncangan krisis dan rawan inflasi. Maka Islam datang untuk memberikan solusi dari setiap masalah yang ada.[MO/sr]




Posting Komentar