Oleh: Mawar Sari

Mediaoposisi.com- Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan memutuskan untuk menambah impor beras sebanyak 500.000 ton. Asal tambahan beras impor nantinya ditentukan oleh Perum Bulog.

Jumlahnya 500.000 ton. Terserah Bulog (asal berasnya) tapi intinya kita itu memberikan negara asal ke mereka (Bulog) ada Vietnam, Myanmar, Thailand, Kamboja, Pakistan, India," kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018).

Lantas apa yang menjadi penyebab urgensitas, kebijakan impor beras? Masih menurut Oke Nurwan, memaparkan penambahan beras impor tersebut dilakukan karena harga beras masih tinggi dan pasokan dalam negeri kurang. Padahal beras masih terus dibutuhkan.

Berbeda dengan Mendagri,  Menurut Kementan produksi beras di tanah air dari tahun ke tahun mengalami surplus, dan cadangan beras di gudang-gudang Perum Bulog cukup untuk menutupi kebutuhan konsumsi domestik sampai masa musim panen padi tiba. Pernyataan Mentan Amran Sulaiman itu bukannya tanpa dasar, tapi merujuk pada data yang secara resmi dirilis oleh kementerian yang dipimpinnya.

Kementan (2017) menaksir produksi gabah kering giling (GKG) pada Januari-Maret 2018 mengalami tren peningkatan yang signifikan. Pada Januari produksi GKG mencapai 4,5 juta ton, sementara memasuki Februari meningkat menjadi 8,6 juta ton, dan Maret meningkat lagi menjadi 11,9 juta ton. Sedangkan ketersediaan beras pada Januari mencapai 2,8 juta ton, Februari (5,4 juta ton), dan Maret (7,47 ton).

Dari sisi konsumi, kebutuhan beras nasional pada Januari mencapai 2,5 juta ton, demikian juga jumlah yang sama pada Februari dan Maret 2018. Sehingga pada Januari terdapat surplus pasokan beras di tanah air sebesar 329,3 ribu ton, Februari (2,9 juta ton), dan Maret (4,971 juta ton).

Mengapa terjadi perbedaan data antara Mendagri dan Mentan?  Dari data yang tidak kredibel ini,  menimbulkan banyak spekulasi di berbagai kalangan, juga kecurigaan pada kepentingan kapitalisme global.

Sejauh ini, beras memang menjadi komoditi utama dalam memenuhi hajat hidup masyarakat kita. Karenanya keputusan pemerintah mengimpor beras dirasa kontraproduktif dan tidak berpihak kepada rakyat.  Pasalnya kebijakan impor ini diambil ketika para petani sedang menyambut hari panen raya. Di mana mereka belum sempat merasakan naiknya harga gabah, justru harus menelan kekecewaan dengan turunnya harga gabah pada saat panen raya.

Selain itu, kebijakan impor beras juga menurut BI(Bank Indonesia) paling bertanggung jawab atas inflasi lonjakan harga, disamping harga cabai dan BBM. Lonjakan harga ini menyebabkan rendahnya daya beli ditengah konsumen,  dalam hal ini masyarakat kecil. Sehingga banyak di berbagai pelosok, masyarakatnya terpaksa mengkonsumsi nasi aking.

Seyogianya Pemerintah bertindak untuk mementingkan kepentingan rakyat terlebih dahulu, baik itu menyangkut kesejahteraan para petani gabah,  maupun suplai dan distribusi dengan harga yang terjangkau kepada konsumen masyarakat.  Sehingga rakyat terlepas dari bencana krisis pangan dan kelaparan. Bukan melulu ketergantungan pada impor beras yang dirasa menguntungkan pihak kapitalisme asing dan aseng.

Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur, tugas seorang khalifah(pemimpin) adalah untuk melayani dan mengurusi kebutuhan - kebutuhan rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw ;

مَنِ اسْتَرْعَاهُ اللهُ رَعِيَّةً ثُمَّ لَمْ يُحِطْهَا بِنُصْحٍ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ. متفق عليه. وفي لفظ : يَمُوتُ حِينَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاسِ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ.

Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].

Lihatlah bagaimana keteladanan yang diterapkan Khalifah Umar bin Khattab ketika terjadi krisis pangan di jazirah Arab yang dikenal dengan “tahun kematian”.

Zaid bin Aslam menuturkan, “Ketika terjadi tahun kematian, bangsa Arab dari segala penjuru berbondong-bondong datang ke kota Madinah. Khalifah Umar bin Khathab mengangkat empat orang pejabat khusus yang bertanggung jawab mengurusi kebutuhan mereka, mendistribusikan makanan dan lauk-pauk kepada mereka.

Para pejabat khusus tersebut adalah Yazid putra saudara perempuan Namr, Miswar bin Makhramah, Abdurrahman bin Abdul Qari, dan Abdullah bin Utbah bin Mas’ud. Masing-masing pejabat khusus tersebut ditempatkan di masing-masing sudut kota Madinah.

Di waktu malam, keempat pejabat khusus itu berkumpul dengan Umar bin Khattab. Mereka melaporkan kepadanya pekerjaan yang telah dilakukannya dan kondisi yang dihadapinya. Masing-masing mereka menangani ribuan pengungsi di masing-masing sudut kota Madinah.

Puluhan ribu kaum Arab Badui berdatangan dan ditempatkan di daerah Ra’su Tsaniyah, Ratij, Bani Haritsah, Bani Abdul Asyhal, Baqi’ dan Bani Quraizhah. Ribuan pengungsi lainnya berada di sudut Madinah di perkampungan Bani Salimah. Puluhan ribu pengungsi itu memenuhi semua sudut kota Madinah.

Suatu malam setelah semua pengungsi mendapatkan jatah makan malam, aku mendengar Umar bin Khathab berkata kepada para pejabat khusus itu: “Hitunglah orang-orang yang mendapatkan jatah makanan malam dari kita!”

Para pejabat khusus bersama para pembantu umum menghitung jumlah mereka. Ternyata mereka berjumlah 7000 orang. Umar bin Khatab berkata: “Hitunglah keluarga-keluarga kaum muslimin yang belum datang, orang-orang yang sakit dan anak-anak!” Setelah dihitung kembali ternyata mereka berjumlah 40.000 orang!

Keadaan itu berlangsung selama beberapa malam. Ternyata setiap hari jumlah pengungsi semakin banyak. Umar bin Khatab memerintahkan keempat pejabat khusus itu untuk menghitungg jumlah mereka. Ternyata para pengungsi yang datang ke jamuan makanan malam berjumlah 10.000 orang. Adapun keluarga yang belum bisa datang, orang-orang sakit dan anak-anak yang belum datang ke jamuan makan malam berjumlah 50.000 orang.

Keadaan itu terus berlangsung sampai akhirnya Allah menurunkan air hujan. Ketika air hujan telah turun, aku melihat Umar bin Khathab telah membekali setiap keluarga pengungsi yang akan kembali ke desa-desa dan daerah-daerah pedalaman tersebut dengan makanan pokok dan kendaraan sampai ke tempat tinggal mereka semula. Aku melihat sendiri Umar bin Khathab terjun langsung dalam menyiapkan perbekalan dan mengantarkan mereka pulang dari kota Madinah.


Krisis paceklik panjang itu telah menimbulkan kematian yang luas. Aku perkirakan dua pertiga masyarakat meninggal karenanya, yang bertahan hidup hanya sepertiganya. Para pekerja yang ditugaskan oleh Umar telah menyalakan tungku-tungku api sejak malam dan memasak bubur di atas periuk-periuk sejak waktu sahur. Pada waktu pagi, orang-orang yang sakit mendapat jatah makanan pertama kali. Setelah itu para pekerja memasak roti untuk para pengungsi yangsehat.

Umar bin Khathab memerintahkan agar periuk-periuk besar di pasang di atas tungku-tungku, kemudian minyak ditumpahkan ke dalamnya sampai panas dan didihannya hilang, setelah itu dibuat bubur dari roti yang dihaluskan. Bubur roti itu dicampur dengan kuah minyak tersebut. Pengungsi Arab dihangatkan dengan kuah minyak tersebut.

Selama terjadinya tahun kematian itu, Umar bin Khathab tidak pernah merasakan makanan apapun di rumah salah satu anaknya, tidak pula di rumah salah seorang istrinya, selain makanan yang juga dirasakan oleh kaum muslimin. Keadaan itu berlangsung sampai Allah mempertahankan kehidupan masyarakat.”


Begitulah seyogianya tugas seorang pemimpin didalam Islam, tak pernah ada kata lelah dalam mementingkan dan mengurusi kebutuhan rakyatnya.Dan sosok pemimpin seperti ini hanya ada didalam Kepemimpinan Islam dan Sistem Islam, Pemimpin yang memimpin rakyatnya atas dasar  keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt.

Didalam Sistem warisan Nabi dan para sahabat. Dan Sistem ini telah terbukti 14 abad menaungi dunia dengan keadilan. . [MO/sr]

Posting Komentar