Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com- Kejadian terorisme yang muncul baru baru ini, dari Surabaya hingga Riau semakin memperlihatkan bahwa ketahanan nasional Indonesia khususnya pancagatra (ideologi,politik, sosial, budaya dan ketahan nasional) sedang lemah.

Dari sisi ideologi, negara gagal mewujudkan kebijakan antisipasi terhadap paham lain yang membahayakan Indonesia yaitu terorisme. Bahkan terkesan dilakukan pembiaran dan pemeliharaan paham tersebut demi kepentingan tertentu. Hal ini pernah diungkap oleh anggota DPR RI dari FPKS Mahfuz Siddiq pada 2015 lalu. 

Mahfuz yang merupakan Ketua Komisi 1 DPR juga menyampaikan bahwa kelompok terorisme di Indonesia sengaja dipelihara oleh pemerintah.

"Semestinyakan pertanyaannya, ada tidak political will (kemauan politik) pemerintah," ujarnya (24/3/2015).

Ia juga menilai terorisme dijadikan pengalih perhatian terhadap suatu peristiwa dan dipelihara dengan maksud mencari perhatian dari asing.

Perlu diperhatikan statemen Mahfudz 3 tahun lalu, bahwa terorisme merupakan lagu lama yang diputar untuk tujuan tertentu, seperti mencari dana segar, dan pengalihan isu. Hal ini pernah diungkap oleh media Australia dalam liputannya beberapa tahun yang lalu. 

Pemberian kesempatan terhdap BNPT untuk presentasi saat ada pertemuan tingkat tinggi antar kepala Negara , seprti KTT ASEAN 18 Maret lalu semakin menguatkan dugaan ini.

BNPT turut meminta kenaikan dana yang signifikan tiap tahun, tercatat dari pengamatan tim riset Mediaoposisi sejak awal munculnya, BNPT sering mendapatkan keistimewaan. BNPT diangkat menjadi lembaga setingkat kementrian, lalu mengalami kenaikan dana signifkan tiap tahun.

Sisi politik dari fenomena terorisme, adalah kekuatan Indonesia di mata dunia dinilai lemah akibat seringnya terjadi kasus terorisme, sehingga BNPT mengemis kepada negara asing. Fenomena ini memperlihatkan lemahnya kondisi internal Indonesia hingga membutuhkan asing untuk membantu mengurusi masalah dapur Indonesia.

Rakyat juga semakin tidak percaya terhadap negara dan aparatnya bila terus menerus terjadi terorisme. Negara yang bertanggung jawab menjaga keamanan dan ketakwaan rakyatnya justru tidak melaksanakannya dengan baik.

Fenomen terorisme turut membuat konflik social sesama rakyat Indonesia, khususnya terhadap umat Islam. Kerap terjadi, kitab agama Islam hingga Al Qur’an dijadikan sebagai barang bukti pelaku teror, kita belum berbicara tentang cadar dan jenggot yang kerap mengalami persekusi dan stigma negatif masyarakat yang “dungu” informasi.

Konflik sosial terjadi antara masyarakat yang terbuai informasi "mainstream konservatif" dengan masyarakat  "kritis revolusioner" terhadap informasi. Pengguna cadar dan orang yang memelihara jenggot dicap berbahaya, pengusiran pengguna cadar dari bus lalu ada santri yang digeledah menjadi bukti bahwa konflik sosial telah terjadi.

Tak heran muncul gagasan pergantian presiden hingga pergantian sistem yang disuarakan oleh masyarakat. Masyarakat sudah gerah dengam kondisi saat ini karena negara tak mampu mewujudkan ketahanan nasional yang semestinya.[MO]

Posting Komentar