Revolusi| Mediaoposisi.com- Kericuhan kembali mencuat ke permukaan tanah air ini. Lantaran isu terorisme dibalik tragedi bom bunuh diri. Dilansir oleh detik.com di ibu kota Jawa Timur. Minggu, 13 Mei 2018, bom tersebut menyerang tiga gereja di Surabaya.

Definisme dari terorisme menurut KBBI ialah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik); praktik tindakan teror.

Kata 'terorisme' pertama kali disebut setelah revolusi Prancis. Setelah jatuhnya dinasti Bourbon pada tahun 1793, pemerintah Republik Prancis jatuh ke tangan orang-orang yang radikal dan ekstrim, yang rata-rata memiliki basis politik yang dangkal. Dikepalai oleh Robespierre, mereka membentuk divisi khusus untuk mengeksekusi lawan politiknya tanpa pengadilan. Mereka menyebut diri mereka sebagai ‘Terror’ dan kebijakan mereka disebut ‘Terorisme’.

Kata ini pada awalnya berawalan huruf T kapital, yang didefinisikan sebagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintahan yang terorganisir, bukan kelompok pemberontak. Definisi ini bahkan pernah diakomodir dalam Kamus Oxford, yang mendeskripsikan terorisme sebagai “pemerintahan intimidatif yang diarahkan dan dilaksanakan oleh partai yang memiliki kekuatan”.

Jika definisi ini tetap bertahan, kebanyakan pemerintahan yang ada di dunia saat ini tentu dapat didefinisikan sebagai teroris.

Jika dikaitkan dengan Islam, maka jelas Terorisme bukanlah bagian dari ajaran Islam. Sebab Allah SWT melarang satu nyawa pun yang sengaja dihilangkan. Apalagi dengan teror bom yang biadab mengenai warga sipil baik itu muslim maupun non muslim.

Umat Islam dilarang melakukan lima hal bahkan disaat perang sekalipun, kelima diantaranya ialah: (1). Membunuh Wanita, (2). Membunuh Anak-anak, (3). Merusak Rumah Ibadah Agama Lain, (4). Membunuh Pendeta-Pendeta, (5). Meracuni Air (apalagi meracuni udara dengan senjata kimia).

Siapapun yang melakukannya, bukanlah berdasarkan ajaran Islam. Walaupun mereka mengatasnamakan Islam. Bom bunuh diri bukanlah bagian dari jihad. Islam menyatakan, orang-orang kafir yang haram untuk dibunuh adalah tiga golongan:


  1. Kafir dzimmi (orang kafir yang membayar jizyah/upeti yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin).
  2. Kafir mu’ahad (orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati).
  3. Kafir musta’man (orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin).


Demikian juga dengan sabda Rasulullah Saw:

مَنْ قَتَلَ قَتِيلًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ لَمْ يَجِدْ رِيحَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Tidak Berkaitan pula Ajaran Islam Kaffah  dengan Paham Terorisme. Tak layak pula seseorang yang memandang sesuatu berdasarkan hitam dan putih aturan Illahi kemudian disebut bibit teroris. Padahal ajaran Islam sejatinya tak mengenal kata abu-abu. Tak ada kompromi atau jalan tengah untuk toleran meninggalkan syariat Allah.

Namun yang terjadi saat ini, kaum muslim dipaksa untuk setengah-setengah dalam menjalankan hukum Allah. Agar tak disebut radikal bahkan teroris. Dimonsterisasi supaya takut jika berislam secara Kaffah.

Syaikh Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya “Al-Muhadhoroh fi Asy-Syariah Al islamiyah wa Fiqhuha wa Mashodiruha” berkata :

هي كل ماجاء به محمد صلى الله عليه وسلم عن الله عز وجل سواء كان مايتعلق بإصلاح العقيدة لتحرير العقل البشري من رق الوثنية و الخرافات..وما يتعلق بإصلاح الأخلاق لتحرير الإنسان من زيغ الأهواء وفتنة الشهوات ومايتعلق بإصلاح المجتمع لتحرير الأمة من الظلم والفوضى والاستبداد

Artinya, “Syariat Islam adalah segala sesuatu dari Allah yang dibawa oleh Muhammad SAW, baik berupa urusan akidah guna membebaskan akal manusia dari perbudakan berhala dan khurafat dan yang berupa akhlak, guna membebaskan manusia dari sesatnya hawa nafsu dan fitnah syahwat dan berupa hal yang mengatur perbaikan masyarakat guna membebaskan manusia dari kezaliman, kekacauan dan kediktatoran.” (Al-Muhadhoroh fi Asy-Syariah Al islamiyah wa Fiqhuha wa Mashodiruha, hal 6)

Dari tiga pengertian di atas, nampak sekali bahwa syariat Islam kaffah itu mencakup kepada tiga pondasi pokok, yaitu Akidah, ibadah ruhiyah dan sistem perundang-undangan dan peradilan.

Seruan terhadap ajaran Islam kaffah bukanlah paham terorisme. Ini merupakan titah dari sang pencipta alam semesta untuk tunduk dan taat pada seluruh aturanNya sesuai fitrahnya yang lemah dan butuh pada aturan yang sang Maha.

Perlu kacamata yang bijak dalam memandang hal ini. Seyogyanya kita tak mudah terbawa arus provokasi yang menyematkan ajaran Islam terhadap paham terorisme. Islam mengutuk aktifitas terorisme. Karena ajaran Islam sejatinya menebarkan Rahmat ke seluruh alam.[MO/ns]

Posting Komentar