Oleh : Salma Banin
(mahasiswi muslimah anggota komunitas kepenulisan Pena Langit)

Mediaoposisi.com- Bulan Ramadhan sudah memasuki sepuluh hari pertamanya. Umat Islam seluruh dunia patut bergembira. Selain karna akan dilipat gandakan seluruh pahala, juga karna selalu di bulan Ramadhan ini kaum muslim dilimpahkan berbagai kemenangan sepanjang sejarahnya.

Baik itu kemenangan di berbagai perang yang menyebabkan Izzul Islam kian diakui makhluk sejagat, maupun kemenangan diri atas terlaksananya amalan luar biasa sebanding seribu bulan yang dilakukan sebagai pembuktian bahwa ia adalah hamba yang taat. Faktanya, Ramadhan memberikan kesan dihati dan fikiran semua orang, karnanya ia selalu dirindukan.

Rindu itu kini berbalas, meski dihantar dengan pemberitaan cadas. Dua minggu terakhir media-media nasional santer memberitakan kejadian teror yang meledak-ledak diberbagai penjuru negeri.

Sungguh sangat menodai bulan Ramadhan yang suci ini. Teroris berpencar menyasar calon korban yang notabene manusia-manusia yang haram darahnya ditumpahkan. Citra buruk Islam jadi dampak yang tak terelakkan. Sejatinya kekerasan semacam itu sangat ditentang dalam agama ini.

Allah berfirman, “Siapa saja yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang, atau berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia” [QS. Al Maidah : 32]. Bagaimana seseorang yang dikesankan “taat syariat” bisa-bisanya mengabaikan ayat Allah ini? Cermatnya hati akan memberi arahan pada kita untuk lebih berhati-hati dalam beropini. Akankah tersebab lisan dan tulisan itu Islam semakin ditinggikan, atau justru sebaliknya?

Kesiagaan aparat penegak hukum meningkat statusnya. Kegaduhan pun banyak terjadi dikalangan masyarakat, yang mudah terbawa arus pemberitaan bahwa seseorang akan berani melakukan tindakan keji jika ia “radikal” dalam menjalankan Islam.

Bertubi tuduhan pun dialamatkan pada gerakan-gerakan Islam, dikaitkan pada aktivis berbagai kelompok dakwah yang menyerukan penerapan syariah. Lebih jahat lagi, dihubung-hubungkan dengan perjuangan penegakan khilafah yang merupakan bagian dari ajaran Islam yang agung.

Bagi semua muslim yang mengikuti kebenaran Tuhannya, ia akan melihat betapa Islam menghargai setiap nyawa yang diciptakan, apapun agamanya. Kaum non muslim hidup aman dan nyaman dalam naungan Daulah Nabawiyyah di Madinah kala Rasul Muhammad saw. masih mendampingi mukminin wal mukminat.

Kondisi ini terus berlanjut dibawah kepemimpinan banyak Khalifah setelahnya. Tidak hanya kehormatan jiwanya, rumah ibadahnya pun dijaga sedemikian rupa, bebas dari gangguan. Penjagaan ini bersifat wajib dan harus dijalankan seluruh elemen masyarakat, begitu syariat Islam menetapkan, tak ada perbedaan dikalangan ulama.

Teladan pun kita dapati dari momen penaklukan kota Nasrani adidaya Konstantinopel tahun 1453 silam, pemimpin pasukannya, Muhammad Al Fatih, secara terang menampilkan Islam sebenarnya yang saat ini masyarakat banyak tidak mengetahui.

Pemahaman yang sempurna terkait syariat-Nya lah yang menjadikan kehidupan harmonis antar umat beragama langgeng hingga berabad-abad setelahnya. Profil muslim taat adalah yang menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Allah melarang dengan keras perbuatan menista tempat peribadatan agama lain tanpa alasan yg haq. Maka dari itu tindakan teror yang barusan terjadi tidak mengindahkan seruan ini dan sudah sepatutnya diketahui oleh semua kalangan.

Supaya tak ada lagi generalisasi bahwa bom bunuh diri adalah bagian dari perjuangan menegakkan islam, hanya karna pelakunya terekam cctv mengenakan atribut yang islami.

Manusia dibekali akal yang menjadikannya mulia dibanding malaikat sekalipun. Akal dianugerahkan Allah demi ditemukannya kebenaran hakiki yang ianya mampu dipahami jika dibarengi dengan dengan keikhlasan untuk mengkaji.

Islamophobia yang merebak setelah kejadian ini harus disikapi secara bijak. Jangan mudah tertipu dengan stigma meski kebanyakan orang berkata demikian.

 “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persanggkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah mengira-ngira saja. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk." [QS. Al An’am:116-117]

Pegangan kita jelas, Alquran dan sunnah, keduanya membedakan mana yang salah dan mana yang benar secara signifikan. Keduanya tak akan pernah bisa disatukan dan akan tetap begitu meski hari kiamat datang menjelang.

Opini bahwa aksi terorisme identik dengan orang yang rajin ikut kajian, sholat berjamaah di masjid, bercelana cingkrang jenggotan atau bergamis plus cadaran, bahkan aktivis dakwah --yang kemana-mana ngomongin islam-- adalah suatu kesesatan yang dipertontonkan.

Semua manusia mesti jeli, bahwa kekerasan tak pernah dibenarkan dalam perjalanan dakwah pergerakan. Jangan sampai kita terbawa dengan label jahat yang dilekatkan oleh mereka-mereka yang tak peduli jika Islam dinistakan.[MO/sr]

Posting Komentar