Oleh: Yessy A.Anggraini, S.P
Pemerhati Remaja, Tim Pembina Komunitas Smart With Islam Jember.

Mediaoposisi.com-Akhir-akhir ini masyarakat dikejutkan kembali oleh maraknya tawuran remaja yang telah menelan korban. Tawuran terjadi di beberapa kota dan melibatkan siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tawuran pelajar SD di Purwakarta, tawuran pelajar SMK di Kendal yang menewaskan satu orang, kemudian tawuran remaja di Manggarai, hingga dua kelompok mahasiswa di Makassar.

Para pelaku tawuran tersebut menggunakan senjata tajam bahkan senjata api rakitan.

Mirisnya, fenomena mengerikan itu justru terjadi di tengah hingar bingar peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Kemdikbud menggelar nonton bareng (nobar) film 'Dilan' dan 'Yowis Ben' dalam rangka memperingati Hardiknas.

Menurut pihak Mendikbud, acara nobar itu diharapkan dapat membuat masyarakat lebih mengapresiasi film nasional. Sejumlah kritik sebelumnya telah dilayangkan oleh beberapa anggota DPR. Mereka menilai film 'Dilan' yang bernuansa romantis itu tak terlalu cocok ditayangkan dalam rangka peringatan Hardiknas. 

Meski pada akhirnya film ini dihapus dari daftar nobar, namun cukup menjadi bukti potret buram sistem pendidikan kita. Bagaimana tidak, output pendidikan kian memburuk seiring miskinnya visi pemerintah dalam membangun peradaban.

Merosotnya nilai-nilai moral generasi muda seharusnya menjadi tamparan untuk berbenah, bukan malah membuat program yang sangat jauh relevansinya dengan perbaikan kualitas generasi. Inilah buah penerapan sistem pendidikan sekuler yang terbukti gagal mencetak kader-kader bangsa yang berkualitas. 

Selayaknya kita berkaca pada peradaban Islam yang telah terbukti sukses selama berabad-abad melahirkan para ilmuwan shalih/shalihah, bahkan mampu berkontribusi pada peradaban dunia. Tak terhitung jumlah cendekiawan muslim di masa kejayaan Islam yang telah menghasilkan penemuan-penemuan berharga.

Sebut saja Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Kindi, Ibnu Al-Haitsam, Maryam Al-Asturlabi, juga para Imam Madzhab besar, dan masih banyak lagi. 

Dalam Islam, sistem pendidikan menjadi pilar utama peradaban yang wajib dilaksanakan oleh penguasa bersamaan dengan sistem aturan lainnya. Kurikulum pendidikan Islam mewujudkan generasi yang berkepribadian Islam, sehingga tidak hanya cerdas secara IPTEK namun juga kuat secara IMTAQ.

Aqidah Islam menjadi landasan penyusunan program-program pendidikan, disinergikan dengan penerapan sistem politik, sistem sanksi, sistem ekonomi, juga sistem sosial. 

Kurikulum pendidikan Islam tentu saja tidak akan tercapai dan tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan sistem lainnya.

Oleh karena itu sistem pendidikan Islam perlu didukung penuh oleh sistem kenegaraan yang sempurna yaitu Khilafah Islamiyah.

Sehingga tidak terjadi kontraproduksi seperti ketika pendidikan menargetkan kepribadian Islam maka media pun mendukung pembentukan kepribadian Islam. Begitu juga ketika seluruh rakyat berhak mendapat pendidikan murah dan berkualitas maka sistem ekonomi negara juga harus berusaha untuk mewujudkan hal tersebut.[MO/br]


Posting Komentar