Oleh : Lathifatul Izza


Mediaoposisi.com-  Zaman dulu kita pernah mendengar dan melihat baik secara langsung maupun di televisi tentang maraknya  masyarakat yang berdemo atas kenaikan harga bbm, walaupun harga sudah naik, tetapi itu tak membuat melimpahnya pasokan bbm, justru bbm mengalami kelangkaan, sehingga banyak masyarakat berbondong- bondong untuk membeli dan mengantri mendapatkan bbm. 

Lain dulu lain sekarang, meski kelangkaan bbm sudah tidak ada beritanya lagi, tetapi kenaikan harga tetap berlanjut hingga sekarang, berita terbaru kemarin yaitu kenaikan harga pertalite sebanyak 200 rupiah.

Berita tiba- tiba tersebut menimbulkan banyak tanggapan dari rakyat, banyak yang menyatakan dirinya setuju, biasa saja, atau bahkan menganggap itu adalah kebijakan yang semena- mena, karena tanpa ada pemberitahuan dari pemerintah, tiba- tiba bbm naik, meskipun itu 200 rupiah saja, tetapi jika dikalikan dengan jumlah penduduk Indonesia, maka hasilnya pun fantastis. 

Orang- orang yang pro dengan kebijakan tersebut menganggap itu semua hanya hal kecil, tidak perlu diperdebatkan, sedangkan orang yang menganggap itu masalah biasa saja mengatakan bahwa kenaikan harga sudah hal biasa di Indonesia.

Masyarakat terutama rakyat kecil menganggap kejadian ini memberatkan mereka, karena meskipun hanya naik menjadi 200 rupiah, kebutuhan pokok yang lain juga ikut- ikutan mahal. 

Dari segi ekonomi, berita kelangkaan kebutuhan sehari- hari memang lumrah terdengar di telinga masyarakat, tetapi bagaimana jika yang mengalami kelangkaan adalah sebuah pendidikan? Komponen penting yang jika digarap dengan serius dapat melahirkan para intelektual dan ilmuwan yang dapat memajukan bangsa. 

Kelangkaan disini bisa diartikan dengan mahalnya biaya pendidikan dengan fasilitas yang layak dan memadai, sehingga jika seorang anak ingin mendapatkan biaya yang murah, maka jangan bandingkan fasilitas dan pelayanan dengan sekolah yang biasa saja. 

Masyarakat kategori menengah ke bawah tak semua bisa merasakan kenyamanan dalam belajar, mereka harus menerima keadaan yang ada, kalah bersaing dengan sekolah yang bergengsi, meskipun saat ini sudah banyak beasiswa, tapi dalam mendapatkannya tak sembarang orang. Harus melalui berbagai persaingan yang ketat. 

Meskipun diterima di sekolah yang bergengsi pun, tak semua murid merasa senang, terkadang alasannya karena tidak berminat untuk masuk ke sekolah tersebut, atau karena dipaksa masuk oleh orang tua. Sehingga seakan- akan anak dikendalikan oleh orang tuanya. 

Orang tua menginginkan agar anaknya pintar dalam ilmu umum saja, yang lebih dipentingkan di sekolah. 

Sehingga tujuan sekolah anak seakan akan hanya mengejar prestise saja, dan mengesampingkan ilmu agama, mereka beranggapan  ilmu agama bisa dipelajari kapan saja, dan dimana saja, karena sudah didukung dengan kecanggihan zaman, yaitu adanya internet. Padahal, ilmu agama juga membutuhkan guru. Karena itu berurusan dengan dunia akhirat. 

Jika hanya belajar sendiri dan tidak faham, siapa yang akan menjelaskan? 

Begitulah potret pendidikan hari ini yang sangat miris jika dirasa, apalagi bagi kaum muslim, dari situlah muncul kerinduan yang sangat mendalam terhadap peradaban islam yang dahulu pernah berjaya. Mensejahterakan dan menjamin semua hak warganya.[MO/sr]

Posting Komentar