Oleh: Dwi R
Mediaoposisi.com- Wajah bumi pertiwi sedang muram. Negeri berduka. Keadaan kian mencekam. Keamanan negeri ini kian dipertanyakan. Ketakutan menyusup ke dada-dada rakyat Indonesia. 

Tidak tenang dan blingsatan. Hal ini terjadi karena adanya teror bom beruntun yang terjadi di Surabaya Jawa Timur pada Minggu 13 Mei lalu. Disusul kemudian aksi teror di Mabes Polri Riau yang menewaskan seorang petugas polisi. 

Masih segar dalam ingatan kita semua, aksi bom yang terjadi di gereja Lidwina Jogjakarta. Pembakaran masjid di Papua hingga penyerangan beberapa ulama. Semua rangkaian kejadian tersebut seperti benang kusut yang susah teruarai. 

Beda Perlakuan Antara Umat Muslim Dan Non Muslim 

Jika diamati secara mendalam, solusi terhadap penyelesaian dari berbagai kasus di atas sangat berbeda. Bahkan masyarakat awampun bisa membaca kemana arah opini akan digiring. Kejadian demi kejadian mermuara pada titik yang sama. 

Sasaran tertuduh pelaku kerusuhan ditujukan pada satu kelompok yang sama. Terlihat jelas bagaimana aparat dan pemerintah dalam menanggapi kasus-kasus serupa. Ada perbedaan yang sangat mencolok, yang bisa dibaca oleh siapapun yang jernih pemikirannya. 

Pertama, ketika para ulama dianiaya oleh orang tak dikenal. Penganiayaan terjadi secara beruntun pada saat ulama sedang beribadah. Pihak aparat langsung menyimpulkan bahwa pelaku adalah orang gila. Bagaimana mungkin polisi bisa langsung berkesimpulan bahwa pelaku adalah orang gila tanpa melakukan pemeriksaan kejiwaan terlebih dahulu? 

Orang-orang gila ini sangat cerdas dalam mengidentifikasi sasaran. Tidak semua orang menjadi korban pengaiayaan. Hanya para ulama yang disasar. Bukti-bukti yang ditemukan juka menunjukkan bahwa mereka sudah lama mengintai korban sebelum melakukan aksinya. Tidak mungkin orang gila melakukan penganiayaan dengan penuh perhitungan. 

Kedua, pada saat gereja yang dibom, orang Islam jadi tertuduh. Semua tudahan dan dan kecaman mangarah pada umat Islam. Media pun tidak mau kalah dalam ambil bagian. Mereka memberitakan secara massif. Dibumbui dengan opini sepihak, dibuatlah fitnah yang sangat keji bahwa orang Islam yang melakukan pengeboman. 

Generalisasi pemberitaan dilakukan agar lebih dramatis. Bukti-bukti berupa buku dan Al-Qur’an seolah akan menjelaskan pada dunia bahwa ajaran Islam adalah biang kerok dari terorisme. Cap radikal, teroris dan ekstrimis serta merta disematkan kepada umat Islam yang berusaha taat terhadap ajaran agamanya. 

Ketiga, menegakkan hukum Islam dianggap memecah belah persatuan. Dengan dalih kemajemukan bangsa dan keberagaman hukum Islam tidak boleh diterapkan. Penerapan hukum Islam hanya diperbolehkan pada tataran individu semata. Itupun tidak seluruhnya. 

Pakaian muslim dianggap tidak sesuai dengan adat tanah air. Pakaian muslim identik dengan teroris, sehingga patut untuk dicurigai. 

Baru-baru ini beredar video diskriminasi terhadap wanita bercadar yang dipaksa turun dari bis. Juga video lain saat menggeledah seorang santri yang memakai sarung dan peci. Dihadapan aparat bersenjata santri tersebut dibentak-bentak untuk mengeluarkan semua barang bawaannya yang ada dalam tas dan kardusnya. 

Disisi lain beredar video konvoi warga Papua yang membewa bendera zionis Israel di jalan raya. Namun hal itu luput dari pemberitaan media. Mereka menutup mata seolah tidak mengetahui. Padahal kejadian tersebut cukup mengindikasikan adanya dukungan terhadap teroris sesungguhnya yang telah membantai ribuan umat Islam di Palestina.

Perbedaan perlakuan antara Muslim dengan non Muslim tersebut menjadi indikasi bahwa sasaran cap teroris akan disematkan kepada umat Islam. Padahal jika dilihat secara nyata siapa teroris yang sesungguhnya? Mereka yang melakukan aksi sparatis dibiarkan saja sementara Islam yang berusaha menjaga NKRI dengan cara berdakwah dianggap teroris. 

Dakwah Islam menyerukan penerapan syariat Islam. Dakwah Islam menyerukan persatuan umat. Agar nagara yang kaya raya ini tidak terjajah oleh asing yang hendak menguasai kekayaan alam bumi pertiwi ini. Apa daya seruan dakwah dianggap biang kerok kerusuhan.

Ajaran Islam dikriminalkan. Umat Islam dijauhkan dari agamanya. Dengan keji dibuatlah fitnah kepada Islam. Bahwa pelaku teroris adalah umat Islam, yang mengajarkan ketaatan dan persatuan.

Islam Rahmatan Lil ‘Alamiin

Islam sangat mengecam perbuatan teror. Membunuh jiwa tanpa haq adalah dosa besar. Bagaimana mungkin umat Islam yang hendak menerapkan hukum Islam dianggap teroris, sementara dalam ajaran Islam sendiri membunuh diharamkan? Allah telah berfirman:

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan sesuatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh dengan zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.”(QS. Al-Israa: 33)

diperkuat dalam hadist Rasulullah, dari al-Bara’ ra. Rasulullah SAW bersabda:

Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. An-Nasai No 3987 dan Turmudzi No 1455)

Ayat dan hadist di atas menunjukkan bahwa Islam sangat tegas dalam hal membunuh. Bahkan Allah sangat mengecam siapapun yang telah menghilangkan nyawa seseorang tanpa haq. Ini artinya melakukan aksi teror dengan bom bunuh diri juga sangat dilarang. Karena membahayakan orang lain. Bahkan dalam Islam membahayakan diri sendiri saja haram hukumnya. 

Sesuai dengan kaidah fikih yang mengatakan: “tidak boleh melakukan perbuatan yang berbahaya dan membahayakan.” Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW juga dijelaskan: 

Barangsiapa membuat kemudharatan niscaya Allah juga membuat kemudharatan untuknya. Dan barangsiapa mempersulit niscaya Allah juga akan mempersulitnya.” (HR. Abu Dawud)

Jika membahayakan diri sendiri saja dilarang oleh Allah dan Rasulullah, mana mungkin seorang muslim yang paham dengan Islam melakukan bom bunuh diri yang jelas-jelas akan membahayakan dirinya dan orang lain. 

Sehingga telah nampak jelas bahwa siapapun pelaku bom itu sangat tidak dibenarkan di sisi Allah SWT. Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam. Jika diterapkan dalam kehidupan secara menyeluruh, akan menjadi penjaga negara dan jiwa-jiwa tak berdosa.[MO/sr]

Posting Komentar