Oleh : Winda S. (Mahasiswi)

Mediaoposisi.com- Kabar terbaru, naiknya gaji Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di atas 100 juta menuai polemik. Pasalnya, di tengah hiruk pikuk utang Negara yang tak kunjung lunas, tiba-tiba Presiden Jokowi mengeluarkan Perpres Nomor 42/2018 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas lainnya bagi Pimpinan, Pejabat dan Pegawai Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Orang-orang yang berada di dalam BPIP itu antara lain Megawati Soekarnoputri, Try Sutrisno, Ahmad Syafii Maarif, Said Aqil Siradj, Ma'ruf Amin, Mahfud MD, Sudhamek, Andreas Anangguru Yewangoe, dan Wisnu Bawa Tenaya. Menurut data dari republika.co.id, gaji Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Dewan Pengarah BPIP sebesar Rp112.548.000, sedangkan para wakil dewan Pengarah digaji sebesar Rp100.811.000.

Di saat utang Negara dan berbagai polemik lainnya yang sedang melanda, penguasa malah mengeluarkan Perpres tersebut. Sebenarnya, mereka yang duduk dalam BPIP hidupnya sudah tercukupi, masih banyak rakyat di luar sana yang kelaparan. Daripada uang dibuang-buang untuk menggaji mereka yang sudah berkecukupan, lebih baik digunakan untuk membantu rakyat atau bisa juga digunakan untuk menyicil utang.

Uang itu salah satu kekayaan Negara dan pemanfaatkannya harus digunakan untuk kebaikan bersama, salah satunya untuk kesejahteraan rakyat. Dulu pendiri bangsa tidak minta upah atau bayaran dalam menyusun bangsa, mereka rela mengorbankan waktu dan tenaga bahkan uang mereka untuk bangsa ini. Apa karena isu deradikalisasi sehingga perlu dinaikkan gaji BPIP agar mereka bisa menangkal deradikalisasi ini?

Hei, kamu, penguasa negeri ini. Yang kamu tujukan terkait deradikalisasi itu Islam dan umat Islam, khususnya di Indonesia, sudah sadar rencana licikmu. Kamu antek antek kapitalis, kamu telah membuat negeri ini menuju kehancuran, bekerja sama dengan china, menganaktirikan pribumi, mengeluarkan perpu, bahkan sekarang menaikkan gaji BPIP. Apa pentingnya menaikkan gaji BPIP daripada persatuan umat?

Lebih baik kamu buka mata, telinga, dan hatimu. Sadarlah, kalau sudah banyak rakyat yang kamu kecewakan. Kamu mendzalimi mereka. Gaji BPIP itu yang kamu naikkan tidak akan membawa pengaruh apa-apa, tidak akan punya pengaruh besar di negeri ini, karena yang punya pengaruh besar di negeri ini adalah Islam. Banyak umat yang semakin paham Islam, dan banyak umat pula yang menyuarakan tegaknya syariah di bumi ini, termasuk di Indonesia.

Kamu yang katanya paling pancasila, ternyata menipu rakyat banyak dengan janji-janji kampanyemu. Pantas, jika gelar pemimpin dzalim disematkan kepadamu, dan pantas pula kamu dan orang-orang kepercayaanmu disebut Fir’aun bahkan Abu Jahal dan Ummu Jamil.

Untukmu, pemimpin negeri ini, sebelum waktunya tiba, entah itu tutup usiamu atau tegaknya syariah Islam, segeralah sadar karena azab Allah bagi pemimpin yang dzalim amatlah pedih.[MO/sr]

Posting Komentar