Oleh: Sri Nurhayati, S.Pd.I


(Pengisi Keputrian SMAT Krida Nusantara)
Sekeping hati dibawa berlari 
Jauh melalui jalanan sepi 
Jalan kebenaran indah terbentang 
Di depan matamu para pejuang 
Tapi jalan kebenaran 
Tak akan selamanya sunyi 
Ada ujian yang datang melanda 
Ada perangkap menunggu mangsa 
Akan kuatkah kaki yang melangkah 
Bila disapa duri yang menanti 
Akan kaburkah mata yang meratap 
Pada debu yang pastikan hinggap 
Mengharap senang dalam berjuang 
Bagai merindu rembulan di tengah siang 
Jalannya tak seindah sentuhan mata 
Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba


Mediaoposisi.com-  Ada yang masih ingatkah dengan lirik lagu nasyid di atas? Salah satu lagu yang menggambarkan bagaimana sebuah jalan perjuangan. Judul tulisan ini terinspirasi dari judul lagu nasyid ini ‘Sekeping Hati’, yang dilantunkan oleh grup nasyid Saujana yang populer di jamannya. Isi lagu ini setidaknya menggambarkan kepada kita bahwa sebuah perjuangan itu tak lepas dari adanya jalan yang berliku, halangan, dan tantangan yang harus dihadapi.

Karena itu sudah menjadi fitrahnya dalam jalan perjuangan tak pernah sepi dari ujian yang datang melanda.

Seperti halnya kondisi dakwah Islam saat ini, semakin dakwah ini menuju kemenangan, semakin besar ujian yang harus dihadapi. Tuduhan demi tuduhan terus diarahkan kepada dakwah dan para pengembannya. Tuduhan bahwa apa yang didakwahkan adalah sesuatu yang akan mengancam kesatuan negeri ini dan pengembannya dituduh seorang yang membuat gaduh, makar, pemecah belah dan tuduh lainnya.

Tuduhan akan dakwah dan para pengembannya, pernah juga dialami oleh Rasulullah SAW dan para sahabat ketika mendakwahkan Islam di tengah-tengah masyarakat Makkah. Beliau dituduh sebagai penyihir, pemecah belah kaumnya, bahkan dituduh orang gila.

Penolakan terhadap dakwah Rasulullah SAW ini, menjadikan Beliau dan para sahabat menerima perlakuan buruk dan keji dari kaum Quraisy pada saat itu. Tidak hanya mendapatkan tuduhan keji, tapi mereka pun harus menerima siksaan demi siksaan di dalam perjalanan dakwah Islam di Makkah.

Penolakan kaum Quraisy terhadap dakwah Rasulullah SAW, menjadikan mereka terus berupaya dengan berbagai macam cara mereka kerahkan untuk menghentikan laju dakwah Rasulullah SAW. Mereka merancang berbagai cara untuk menimpakan penganiayaan terhadap kaum Muslimin saat itu. Seperti yang dilakukan kaum Quraisy terhadap keluarga Yasir, mereka memberikan siksaan yang sangat amat keji.

Yasir harus rela dikubur di dalam tanah dengan cambukkan terus menimpa dirinya. Sedangkan istrinya ditusuk kemaluannya dengan tombak sampai harus meregang nyawa karenanya. Semua itu harus mereka alami karena mereka tetap teguh mempertahankan keimanan mereka.

Hal itu juga dialami oleh Bilal bin Rabah yang harus menerima penyiksaan dari majikannya Umayah bin Khalaf, yang menyiksa dan mencambuknya di tengah terik cuaca yang panas dan menindihkan batu besar di tubuhnya. Namun sama, hal itu tidak membuat Bilal gentar tapi semakin kuat memegang Islam.

Penyiksaan dan penganiayaan kaum Quraisy terus dilakukan terhadap kaum Muslimin. Namun tak satupun berhasil untuk menghentikan laju dakwah mereka. Sehingga kaum Quraisy beralih dengan cara lain, yaitu dengan menyebarkan propaganda untuk memusuhi Islam dan kaum Muslimin.

Propaganda mereka lakukan dengan berbagai cara, seperti dengan berdebat, menggugat, mencaci, melemparkan berbagai macam isu atau tuduhan keji. Propaganda itu juga mereka gunakan untuk menyerang Islam dan para pengembannya, mencap buruk isi dan menghina esensinya. Semua itu mereka lakukan agar bisa mengentikan dakwah Rasulullah SAW.

 Selain dengan siksaan dan propaganda busuk, mereka juga mencoba membujuk Rasulullah SAW melalui pamannya Abu Thalib. Mereka meminta Abu Thalib membantu mereka untuk menghentikan dakwah Rasulullah SAW. Awalnya Paman Rasulullah ini menolak, namun kaum Quraisy datang kedua kalinya dengan mengancaman Paman Beliau, mereka berkata:

Wahai Abu Thalib, sungguh engkau orang yang kami tuakan, kami muliakan, dan punya kedudukan di sisi kami. Kami telah memintamu agar menghentikan aktivitas keponakanmu, tetapi kamu tidak melakukannya. Demi Allah, kami tidak akan sabar lagi jika Tuhan kami dicaci maki dan mimpi-mimpi kami dilecehkan. Untuk itu hentikan dia atau kamu akan melihat salah satu dari dua kelompok ini ada yang binasa.

Akhirnya Abu Thalib pun menemui Rasulullah dan berkata: ”Wahai keponakanku sesungguhnya kaummu mendatangiku. Mereka berkata kepadaku begini dan begitu –karena mereka berkata demikian- maka selamatkanlah aku dan jaga dirimu, dan janganlah kamu membebani aku perkara yang tidak sanggup aku pikul.

Mendengar perkataan pamannya, Rasulullah SAW menduga bahwa pamannya akan meninggalkan dan menyerahkannya, pamannya sudah lemah tidak mampu lagi menolongnya, maka Rasulullah SAW berkata:

Wahai paman, demi Allah, kalaupun mereka menaruh matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku supaya aku meninggalkan urusan (agama) ini, niscaya sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan agamaNya atau aku binasa karenanya.” (siroh nabawiyah sisi politis:2006).

Jawaban  yang beliau SAW sampaikan kepada pamannya, bagaikan gunung berapi  yang akan meletus, jika gunung akan meletus tak ubahnya seperti tumpukan pasir panas yang siap menimbun siapa saja. Dan jika manusia walaupun dia kuat dan perkasa takkan mampu melawannya. Itulah gambaran jiwa yang memiliki keyakinan yang besar, tidak akan pernah berhenti untuk terus menyerukan dakwah Islam bahkan dia rela mati demi dakwah ini.

Jiwa-jiwa seperti itulah yang harus dimiliki oleh jiwa para pengemban dakwah Islam. Karena dakwah dan perjuangan ini memiliki tujuan seperti halnya dakwah Rasulullah, bukanlah untuk harta, kekayaan ataupun kedudukan, namun bertujuan untuk menyampaikan risalah Islam dan menerapkan syariat yang dibawa Rasulullah SAW yang akan membawa manusia  pada keridhoan dan keberkahanNya.

 Apa yang telah menimpa Rasulullah dan para sahabat dalam dakwah ini, pastinya akan dialami pula oleh para pengemban dakwah saat ini. Karena perjuangan itu pastinya mengalami halangan dan rintang sebagai bagian dari ujian perjuangan dan sebagai bukti seberapa besar keyakinan para pengemban dakwah ini kepada dakwah Islam yang merupakan impementasi dari penghambaan dan cinta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

Setiap perjuangan akan meminta pengorban dari para pejuangnya, untuk menguji sebesar apa kecintaan yang ada dalam hatinya terhadap perjuangan ini. Tentu hal ini harus terbukti jelas dari mereka para pengemban dakwah ini. Sanggupkah mereka melakukan apapun untuk keberhasilan dan kemenangan sesuatu yang mereka perjuangkan?

Dengan memberikan pengorbanan untuk apa yang mereka perjuangkan. Karena pejuang dan pengemban dakwah sejati akan siap berkorban apapun untuk apa yang dia perjuangkan dan apa yang diemban, jiwa, raga bahkan nyawa sekalipun siap mereka korbankan. Tak goyah walau dterjang badai, takkan sirna walau ujian melanda, tak gentar walau ajal menjelang.

Seperti itulah jalan perjuangan yang harus dihadapi para pengemban dakwah. Karena semua itu adalah ujian dalam sebuah perjuangan. Celaan, hinaan, bahkan fitnah yang dituduhkan mereka yang membenci dakwah ini takkan  dihiraukan. Tuduhan sebagai pengrusak, ancaman, itu hal yang biasa. Karena Rasulullah pun pernah mengalaminya.

Begitu juga dengan kesempitan hidup yang mereka lakukan terhadap para pengemban dakwah. Mengancam akan diperhentikannya dari pekerjaan mereka karena aktivitas dakwah mereka. Tak perlu risau, ketika satu jalan mereka tutup, akan Allah buka seribu jalan untuk para pengemban dakwah. Karena Allah yang memberikan rejeki kepada kita semua.

Lihatlah burung-burung yang terbang bebas, Allah sudah siapkan untuk mereka makanan dan tempat tinggal di bumi ini. Apalagi untuk hamba-Nya yang mengemban Syariat-Nya. Allah pasti tidak akan pernah membiarkan hambaNya yang beriman dan berjuang di jalanNya kelaparan dan hidup dalam kekurangan. Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’mal nashir. 

Oleh karena itu kawan, janganlah takut untuk menapaki jalan perjuang yang tak pernah sepi dari ujian ini. Karena jalan inilah akan mampu membawa kita kepada keridhoanNya. Dengan jalan ini pula kelak Allah akan mempertemukan kita dengan Rasulullah dan para sahabat yang telah mewariskan perjuangan ini.

Dengan jalan ini pula kelak dengan izin Allah, Islam akan meraih kemenangan dan menerangi bumi dan seisinya dengan sinarnya yang penuh dengan keberkahan dan keridhoan dari Rabb pencipta alam semesta dan isinya.[MO/sr]

Posting Komentar