Oleh : Merli Ummu Khila 

Mediaoposisi.com-  Akhir akhir ini gelombang hijrah dikalangan remaja cukup signifikan, berpakaian syar'i sudah bukan hal yang aneh lagi bahkan menjadi tren fashion tersendiri.

Terlepas dari niat dari masing - masing alasan hijrah nya apakah semata-mata latah atau pun dorongan kesadaran wajib nya menutup aurat. Ini awal pertanda baik menuju kebangkitan ummat. Bukankah remaja saat ini pemimpin dimasa depan.

Pemimpin yang kelak akan menyonsong kemenangan islam. Sayang nya sering hijrah nya remaja muslimah sering tidak diikuti oleh pemahaman bagaimana berpakaian yang sesuai syariat. Dan akibat dari ke tidak tahu an akan syara membuat muslimah cendrung ikut kebanyakan orang melakukan, bukan ikut bagaimana yang sebenarnya.

Ada 2 pakaian yang perlu diketahui seorang muslimah yaitu pakaian luar rumah dan pakaian dalam rumah(mihnah)

Pakaian luar rumah yaitu terdiri dari:

I. Jilbab : Yaitu baju berbentuk terowong seperti baju kurung yang lebih dikenal dengan sebutan gamis. Jilbab atau gamis ini terkandung dalam firman Allah Swt.: ".. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka... " (Al-Ahzab: 59).

Jadi miris sekali jika masih melihat kebanyakan muslimah masih memakai celana panjang sebagai pakaian luar. Meskipun memakai kerudung yang panjang atau kemeja yang panjang sampai lutut tetap saja pemakaian celana panjang sebagai pakaian luar tidak dibenarkan dalam islam karena tidak sesuai dengan aturan Allah dalam surah diatas.

II. Kerudung atau Khimar : Yaitu penutup kepala yang mengulur menutupi Dada. Kerudung sering di sebut jilbab oleh kebanyakan orang padahal jilbab itu gamis.Inilah yang menjadi salah kaprah dalam penyebutan kerudung.

Wajib nya kerudung harus sampai menutup dada ini terkandung dalam Firman Allah "... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya ..." (TQS AnNur 31).

Dan ini pun banyak tidak dipahami oleh banyak muslimah tentang batasan memakai kerudung, Jarang sekali yang memakainya sesuai syariat yang mengajar, terlebih lagi muslimah yang cendrung memakai kerudung dengan bermacam-macam gaya bahkan seperti kerudung yang dimasukkan ke baju, punuk unta dan sebagainya.

Ketika aturan nya hendaknya menutupi dada maka harus di taati.
Sedangkan pakaian perlengkapannya yaitu kaoskaki. Ini bagian yang penting karena batasan aurat sesuai sabda Rasulullah :

"Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah balig (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya)." (HR Abu Dawud).

Jadi kaki juga termasuk aurat karena yg di kecuali kan Rosulullah muka dan telapak tangan, Kaokaki hukum nya tidak wajib yang wajib itu menutup nya dengan sempurna jika memungkinkan pakaian nya atau sepatu nya bisa menutupi maka tidak perlu pakai kaoskaki tapi untuk ke wara'an atau kehati-hatian khawatir tersingkap maka lebih bagus pakai kaoskaki.

Ini sering menjadi hal penting yang dianggap sepele oleh muslimah karena menurut mereka wajah fitnahnya lebih besar dari pada kaki. Tapi kita kembali ke dalil yang sudah jelas dijabarkan diatas.

Dan yang satu lagi pelengkap yang sering di sepele kan yaitu Handsock atau manset tangan, karena aktifitas muslimah lebih sering menggunakan tangan maka akan memungkinkan lengan baju tersingkap dan terlihat aurat nya . Dan untuk menjaga nya agar tidak terlihat aurat nya maka disiasati dengan memakai handsock.

Yang terpenting dari itu semua yaitu memahamkan kepada muslimah bahwa menutup aurat itu wajib bagi wanita yang sudah baligh tanpa tapi. Jadi tidak ada tawar menawar, jika kita wajib menerima hukum puasa, shalat dan zakat tanpa berani menunda lalu apa bedanya dengan hukum menurut aurat.

Sama-sama dikabarkan Al Qur'an, dan ada konsekwensi dosa jika tidak di laksana kan dan tidak ada kompromi dalam pakaian syar'i dengan dalih menutup aurat nya bertahap, jika di wajib kan dalam Al-Qur’an kriteria pakaian yang sesuai syara maka harus dilaksanakan, jangan ada dalih ikut kebanyakan karena yang kebanyakan itu justru yang salah.

Disini kita harusnya menyadari penting nya ilmu, menuntut ilmu itu fardhu ain. Karena ibadah tanpa ilmu itu sia-sia. ketika seorang muslim sudah baligh maka dia sudah bertanggungjawab dengan apa yang dia perbuat. Dan terkait apa saja yang dia perbuat tentu saja harus sesuai aturan yang sudah Allah perintah kan.

Berpakaian sesuai syariat terlihat seperti sesuatu yang sulit di laksanakan ada saja dalih nya:ada yang bilang belum siap di panggilan ustadzah lha kan bagus bisa jadi penyemangat untuk belajar ilmu agama lebih , ada yang bilang belum bisa jaga akhlak.

Padahal akhlak dan hijab itu beda tidak bisa di sanding kan. Keduanya punya konsekwensi pahala dan dosa masing masing.

Yang lebih menyedihkan akhir-akhir ini setelah peristiwa pengeboman di gereja di surabaya pakaian Syar'i menjadi sesuatu yang di curigai terlebih lagi cadar, terduga pelaku bom bunuh diri itu secara tidak lansung membuat image pakaian Syar'i menjadi jelek.

Seolah - olah muslimah yang memakai pakaian Syar'i patut di curigai termasuk jaringan teroris. Framing jahat media mainstream khusus nya televisi seperti menggiring opini publik bahwa islam itu identik dengan teroris, hal ini membuat muslimah menjadi tidak nyaman dengan identitas keislaman nya yaitu berpakaian sesuai syariat.[MO/sr]


Posting Komentar