Oleh : Husain Matla

Mediaoposisi.com- Soeharto meninggal tahun 1997. Tentu saja tidak ada yang percaya. Harusnya 2008. Tapi berita “Soeharto meninggal tahun 1997” itu ternyata memang ada. Tak tanggung-tanggung. Yang memberitakan adalah media internasional, majalah Time. Saya tahu itu jauh sebelum Pak Harto meninggal. Kok bisa?

Sebenarnya yang dimaksud Time itu Bu Tien. Tapi orang Barat kan biasa menyebut nama belakangnya. Tien Soeharto diberitakan “Soeharto”. Jadi lucu kan orang Indonesia mendengarnya. Banyak kejadian yang mirip dengan itu. Sebuah buku karangan pakar sejarah Barat menyatakan bahwa pada abad XVII M, Agung menakhlukkan berbaqgai daerah di Jawa dan menantang VOC.

Siapa si Agung yang jagoan itu? Maksudnya Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Mataram. Memang itu buku terjemahan. Mungkin aslinya “the great”, sebagaimana Alexander the Great. Tapi tetap saja aneh. Orang Jawa, dan umumnya bangsa Indonesia, tak pernah menyebut rajanya dengan “Sang Agung”.

Kadang memang lucu kalau mendengar tulisan orang jauh tentang hal-hal yang sangat dekat dengan kita. Ini contoh lebih fenomenal lagi.

Saya lihat di Google Earth, software yang mempetakan seluruh bumi dan kita bisa melihat segala tempat dengan ketinggian hanya beberapa meter dari tempat yang kita lihat. Saat saya lihat desa saya, tata letaknya keliru. Nama kampung di sebelah barat kampung asal saya ternyata tertu;is di utaranya. Ketika saya lihat peta daerah mertua saya di Tegal, salah sebutannya. Pengabean tertulis Pangebean.

Terlepas kita sangat menghargai prestasi global berbagai karya internasional, ternyata kalau urusan yang sangat detail di sekitar kita, kitalah yang lebih tahu. Dan tentu saja harusnya demikian. Karenanya, harusnya kita “didengar” bukannya “mendengar”.

Namun, kalau terkait orang asing, kita selama ini lebih banyak mendengar. Apapun yang dikatakannya kita dengar dan ikuti. Termasuk yang kita lebih tahu. Maksud “kita” kali ini, saya khususkan buat umat Islam di Indonesia.

Ketika orang Barat menyampaikan tentang sekulerisme. Banyak yang mengamini. Orang Barat selama ini mengatakan bahwa sudah banyak peristiwa bahwa agama menjadi sumber konflik.

Terlalu banyak darah tertumpah karena perang agama. Karena itu, jauhkan agama dari politik, dari masyartakat, dari kehidupan. Agama hendaknya menjadi nasehat saja, yang bergerak di sector privat. Barat wajar bicara begitu. Karena Kristen memang sekedar agama.

Selain itu, agama Kristen sendiri memang sebenarnya mengajak masyarakat bersikap sekuler. “Berikan pada Tuhan apa yang Tuhan butuhkan. Dan berikan pada Kaisar apa yang Kaisar butuhkan!”. Begitu semboyannya. Maka ketika Kristen campur tangan dalam aturan-aturan kehidupan publik, yang ada adalah penafsiran-penafsiran yang dipaksakan.

Tapi Barat kemudian membawa cara pandangnya itu untuk Islam. Dan JIL pun mengkampanyekan berbagai pandangan Barat itu.

Jadinya terasa janggal. Disampaikan harusnya agama tak usah mengurusi politik dan hukum. Lha lantas Abu Bakar memerangi orang-orang yang membangkang itu ngapain? Umar bin Khaththab menghukum cambuk anaknya yang berszina itu ngapain? Disampaikan Islam tak perlu mengatur ekonomi.

Lha hadits yang menyatakan  bahwa tanah yang dibiarkan tiga tahun akan disita negara itu apa? Disampaikan bahwa Islam tak mengatur urusan social. Lha Rasululah mempersaudarakan Muhajirin-Anshor itu apa? Disampaikan bahwa menikah itu bukan urusan ibadah, tapi sekedar urusan administrative, bukan domain agama. Kok Islam mewajibkan syarat-syarat?

Kemudian dinyatakan bahwa zaman Nabi dulu memang begitu. Tapi itu sekedar contoh. Kita sekarang tak harus begitu. Bukti bahwa itu sekdar contoh itu apa? Bukti bahwa kita sekarang boleh berbeda itu apa?

Mengapa kita harus melakukan “Agung-isasi Sultan Mataram” itu?

Seperti kata Ibnu Khaldun, bangsa yang ditakhlukkan biasanya mengikuti bangsa yang menakhlukkan. Begitu pula bangsa yang ditakhlukkan sebuah mabda, ikut mabda itu.
Sekali lagi, seperti kata Ustadz.Fahmi  Amhar, “Kita tidak ingin mengatakan mereka terjebak. Tapi itu adalah jebakan!”[MO/sr]

Posting Komentar