Oleh : Sri Nurhayati, S.Pd 
( Komunitas Revowriter )

Mediaoposisi - Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS pekan ini nyaris menyentuh angka 14.000 rupiah, hal ini dipicu oleh kenaikan suku bunga obligasi negara lebih dari 3% serta antisipasi pasar terhadap suku bunga acuan Fed Fund Rate turut jadi faktor pendorong tren pelemahan rupiah hingga akhir Mei 2018 ( Kompas.com). 

Menteri keuangan Sri Mulyani mewaspadai inflasi yang berasal dari barang impor atau imported inflation dalam kondisi depresiasi atau pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sekarang ini.( tirto.id )

Melemahnya nilai rupiah akhir - akhir ini memberikan dampak secara langsung pada semua elemen, dari  pengusaha  sampai level rumah tangga.Akibatnya bisa dirasakan, dimana harga bahan pokok pekan ini naik sedemikian drastis, terlebih menjelang Ramadhan. 

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, kenaikan harga yang bertubi - tubi, terlebih harga bahan pokok yang terlebih dahulu naik, harus dibeli dengan harga mencekik misalnya harga telur ayam, biasanya 21.000 per kilo naik menjadi 28.000 per kilo, harga bawang merah biasanya 20.000 naik menjadi 32.000 per kilo. 

Alhasil ibu rumah tangga harus memutar otak yang ekstra supaya anggaran belanja bisa mencukupi hingga akhir bulan. 

Lain halnya sikap pemerintah yang  memandang melemahnya rupiah tidak separah negara lain, meskipun sampai menyentuh 5 digit per 1 dolar AS. ( okezone.Finance ) 

Terus Berulang

Lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar bukan kali ini saja terjadi. Masih lekat di ingatan krisis moneter tahun 1998 yang menyebabkan banyak perusahaan gulung tikar, hal ini akan terus berulang karena yg diterapkan adalah sistem ekonomi kapitalis dan sistem moneter berbasis fiat money sehingga Indonesia akan terus dalam kubangan utang dan krisis. 

Dengan menaikan suku bunga mata uang dolar, utang Indonesia semakin membengkak. Hal ini menjadi jalan bagi negara adidaya untuk menjajah politik dan ekonomi Indonesia.

Adapun sistem moneter fiat money sendiri yaitu menggunakan kertas sebagai mata uang. Dimana kertas sendiri tidak memiliki nilai intrinsik sehingga nilainya tidak stabil yang berdampak pada instabilitas perekenomian dunia yang bersifat destruktif.

Riba sebagai fondasi sistem kapitalisme

Berdasarkan prinsip ekonomi yaitu dengan modal produksi sekecil kecilnya menghasilkan keuntungan sebesar besarnya, orang akan menghalalkan segala cara termasuk menggunakan sistem riba supaya mendapatkan keuntungan yang besar

Riba yang menjadi pilar ekonomi kapitalis menganggap uang tidak hanya sebagai alat tukar tapi juga sebagai komoditi yang bisa diambil keuntungan dari jual beli uang atau mendapat keuntungan dari pinjamannya yang kita kenal sebagai bunga. 
Padahal dalam islam riba itu haram.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imraan: 130)

Bahkan Allah SWT menggambarkan bagaimana keadaan orang pemakan riba 

Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya" ( Q.S Al Baqarah 275 )

Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita menjauhi transaksi muamalah yang berpotensi riba. 

Sistem ekonomi Islam adalah solusi

Dalam islam perekonomian diatur berdasarkan Al qur'an, Hadist, ijma dan qiyas.
Dalam islam umat harus menyadari segala yang ada di dunia adalah milik Allah semata, kita sebagai makhluk mengelola sebaik baiknya untuk kemaslahatan umat yang berorientasi akhirat.

Dalam sistem ekonomi islam kepemilikan sumber daya alam diatur, ada yang boleh dimiliki individu ada yang tidak boleh dimiliki individu, hal yang tidak boleh dimiliki individu yaitu yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan harus dikuasai oleh negara seperti, air, rumput dan api (energi). 

"Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara yaitu air, rumput liar dan api, maka mengambil keuntungan darinya adalah haram" (HR. Ibnu Majah)

Sehingga dengan kekayaan Indonesia yang melimpah ruah seharusnya menjadi negara yang makmur dan sejahtera jika yang diterapkan adalah sistem ekonomi islam 

Menggunakan dinar dan dirham sebagai mata uang.

Dinar dan dirham dikenal oleh orang Arab sebelum datangnya islam. Dinar dan dirham sudah teruji  paling stabil karena memiliki nilai intrinsik, sehingga kestabilan moneter dunia akan tercapai, sejarah sudah membuktikannya selama 14 abad lebih, daulah islam menjadi negara yang makmur dan sejahtera. 

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulallah SAW :

“Akan datang kepada manusia, suatu masa yang mana tidak bermanfaat di masa itu kecuali Dinar dan Dirham.”  (HR. Ahmad: 16569 dari Miqdam bin Madikarib radliyallahu anhu).

Semua masalah moneter akan teratasi dengan sistem ekonomi islam, yang merupakan bagian dari syariat islam, dimana syariat-Nya diterapkan dalam institusi negara khilafah.[MO/sr]

Posting Komentar