Oleh: Alif Shaleha

Mediaoposisi.com-  Masih segar dalam ingatan kasus meninggalnya bayi Debora karena tidak mampu membayar DP biaya rumah sakit.  Bayi Mesiya yang meninggal setelah ditolak oleh 4 rumah sakit di Tangerang. Muhammad Rizky Akbar, balita 2,9 tahun yang meninggal karena ditolak rumah sakit yang tidak menerima BPJS. 

Serta Abbiyasa Rizal Ahnaf yang juga meregang nyawa akibat penolakan dari pihak rumah sakit untuk memberi pertolongan. Lagi-lagi soal ketiadaan biaya.

Sungguh, nyawa manusia seperti taka da harganya. Rumah sakit yang sejatinya dipperuntukkan bagi orang yang sakit, tidak memberikan pelayanannya.  Bukan karena fasilitas rumah sakit yang tidak lengkap, tapi karena pasien yang tak mampu membayar biaya rumah sakit. 

Betapa mirisnya hidup dalam kemiskinan. Apalagi di negara yang menerapkan sistem kapitalis dimana segala sesuatu dinilai dari untung dan rugi. Termasuk masalah kesehatan. Keempat kasus diatas hanya merupakan sepenggal kisah orang miskin yang berjuang mendapatkan haknya sebagai warga negara. 

Namun apa daya, tidak ada tempat bagi orang miskin. Nyawa mereka tidak lebih berharga dari lembaran kertas berupa uang. Jaminan kesehatan yang menjadi hak rakyat tidak tertunaikan. Rakyat dipaksa mengikuti  program JKN. Lalu untuk apa semua itu jika faktanya masih ada rumah sakit yang tidak menerimanya?

Reformasi Hanya  Mimpi

Semenjak reformasi, sekitar 20 tahun berjalan kondisi ekonomi masyarakat tidak mengalami kenaikan. Harta kekayaan hanya beredar pada segelintir orang saja. Sedangkan rakyat miskin selamanya akan hidup miskin. Diperparah dengan kebijakan yang tidak memihak rakyat miskin. 

Ditengah himpitan ekonomi yang semakin menyesakkan, justru pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang mempersulit kehidupan. Terutama rakyat miskin. Tuntutan reformasi untuk menghapuskan korupsi tidak pernah terealisasi. 

Hingga kini korupsi tidak pernah hilang dari bumi pertiwi. Justru setiap tahun tingkat korupsi semakin tinggi. Hampir semua pejabat mulai dari tingkat desa hingga propinsi tersandung kasus korupsi. Padahal uang yang mereka “tilep” adalah uang rakyat. 

Setiap tahun rakyat diwajibkan membayar pajak. Setiap tahun pula tingkat korupsi makin meroket. Tidak cukup sampai disini penderiataan rakyat. Mereka harus menerima kado pahit dari pemerintah berupa kenaikan BBM yang diikuti dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Rasa simpati para penguasa terhadap rakyat mulai pudar. Disaat rakyat menjerit karena kesulitan bertahan hidup, mereka justru menari-nari. Berjalan-jalan ke luar negeri dengan jet pribadi. Ada yang pamer mersi yang harganya selangit dengan jumlah yang fantastis. Ada pula yang sok merakyat tapi khianat.

Reformasi membuat rakyat sekarat. Menghidupkan para konglomerat. Dan membahagiakan para pejabat. Perubahan yang mereka tawarkan hanya semu belaka. Tidak ada perubahan yang nyata. Yang ada hanya perubahan pelaku saja. Sementara sistem yang digunakan tetap sama. Kapitalis. 

Wajib Ada Revolusi

Solusi tuntas untuk segala persoalan yang melanda negeri ini adalah perubahan secara revolusioner. Perubahan yang bersifat menyeluruh. Tidak setengah-setengah. Melainkan totalitas dalam semua bidang. Termasuk asas yang mendasari diterapkannya sebuah sistem. 

Dasar yang digunakan adalah aqidah yang menjadi landasan berdirinya sebuah sistem tersebut. Islam adalah satu-satunya sistem yang berasaskan aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Aqidah aqliyah ini muncul dari proses berfikir tanpa menafikkan adanya Sang Pencipta. 

Sebagai sebuah sistem, Islam mempunyai aturan yang menyeluruh tentang kehidupan. Islam mengatur hubungan individu dengan Allah, individu dengan dirinya sendiri, dan individu dengan yang lainnya. 

Hubungan individu dengan Allah berupa aqidah dan ibadah. Dalam hal ini semua individu diberi kebebasan dalam menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinannya masing-masing. tidak ada larangan bagi non muslim untuk menjalankan aqidah mereka selama tidak menyebarkannya kepada kaum muslim.

Sementara hubungan individu dengan dirinya sendiri berupa aturan berpakaian, makanan, minuman dan akhlak. Kewajiban untuk menutup aurat tidak memberikan ruang untuk berbuat kemaksiatan. 
Sedangkan hubungan individu dengan individu lainnya berupa ekonomi, sosial, Pendidikan, hukum, politik dalam negeri dan luar negeri, serta sistem sanksi. 

Semua ini tidak bisa diterapkan setengah-setengah. Penerapan aturan tersebut harus dilaksanakan secara menyeluruh dan bersamaan. Dalam sebuah institusi negara yang disebut Daulah Khilafah Islamiyah.  

Inilah yang disebut dengan revolusi. Dengan diterapkannya sistem Islam secara menyeluruh, maka kehidupan rakyat akan terjamin. Pasalnya distribusi kekayaan jelas. Harta tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja. Dalam harta orang-orang kaya terdapat hak orang miskin.

Kekayaan alam yang ada di negeri ini akan dikelola oleh negara untuk mencukupi kebutuhan rakyatnya. Pajak tidak dipungut kepada rakyat. Karena Baitul mal memiliki pemasukan berupa harta fa’I, jizyah, humus, dan kharaj. 

Rakyat mendapatkan jaminan Pendidikan, kesehatan dan rasa aman. Hal ini telah terbukti selama kurang lebih 13 abad. Islam mampu menunjukkan pada dunia akan kegemilangannya. Bahkan sistem Khilafah telah menjadi negara adi daya. 

Dibawah kepemimpinan seorang Khalifah, rakyat berlindung dan mendapatkan kesejahteraan. Pemimpin ibarat perisai. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

Sesungguhnya pemimpin adalah perisai. (Rakyat) akan berperang di belakangnya serta berlindung dengannya. Apabila ia memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah serta bertindak adil, maka ia akan mendapatkan pahala. Tetapi jika ia memerintahkan selain itu, maka ia  akan mendapatkan hasil yang buruk dari perbuatannya.” (HR. Muslim) [MO/sr]
  
  
   


Posting Komentar