Oleh: Ayunin Maslacha
(Aktivis Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surabaya)

Mediaoposisi.com-  Dunia tengah bergejolak dalam diam. Para rezim di berbagai negri kian merasa gelisah akan hadirnya gelombang perubahan besar, yakni berdirinya peradaban baru sebagai pengganti peradaban usang. Pada Desember 2004, muncul dokumen prediksi oleh NIC berjudul Mapping The Global Future seperti mengusik tidur malamnya.

Menghiasi mimpi buruk dan membuat mereka terbangun dengan rasa takut akan kehilangan duniawi yang telah digenggam. Tak terkecuali, Indonesia.

Secara demografi Indonesia selayaknya diperhitungkan untuk kemajuan peradaban. Sebab peradaban tegak diatas pemikiran yang diemban individu-individu manusia.
Jika pemikiran itu menyatu dalam satu sudut pandang tertentu, maka akan mempengaruhi perasaan individu-individu itu, lantas diluapkan dalam interaksi antar manusia. Itulah yang membentuk perdaban hingga kemudian hari.
Tak sekedar jumlah penduduk, status keagamaan dari mayoritas penduduk Indonesia juga menjadi perhatian. Terlebih Islam yang jadi agama mayoritas di negri ini.
Islam sebagai ideologi, dipandang musuh-musuhnya memiliki kekuatan jika digenggam erat oleh kaum Muslimin. Karenanya, propaganda untuk menciptakan Islamophobia ditengah kaum Muslimin sendiri tengah gencar dilakukan. Hal itu dilakukan dengan menggodok isu-isu sensitif seputar terorisme, fundamentalisme, ekstremisme sampai radikalisme.
Muncullah rangkaian narasi bahwasannya radikalisme ialah cikal bakal dari terorisme demi penegakan syari'at Islam menyeluruh dalam bingkai negara. Isu-isu itu digelontorkan dalam ajang perang pemikiran.
Termasuk sebagai upaya memporak-porandakan pemikiran kaum Muslimin sehingga membenci sebagian ajaran agamanya sendiri. Supaya peradaban Islam itu tak segera tegak. Bukankah hal ini yang dikhawatirkan kepala BIN saat menyatakan 39 persen mahasiswa Indonesia terjangkit paham radikalisme?
Subjektifitas Term Radikalisme

Jika dikembalikan pada makna asalnya, Radikal memiliki kata dasar "radix, radicis”. Menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), berarti akar, sumber, atau asal mula. Akan tetapi, term radikalisme menjadi subjektif saat diolah dengan paradigma tertentu.
Misalnya, jika terdapat tendensi untuk menghancurkan Islam, maka radikalisme dimaknai sebagai sikap kekerasan yang bersumber dari ajarannya. Sehingga ajaran yang berbenturan dengan kondisi sekarang yang rusak, seperti jihad dan dakwah bisa terkategori tindakan radikalisme. Sebab ajaran Islam berdiri diatas aqidah yang kokoh, tak mengenal kompromistis di era apapun.
Sudut pandang ini yang kemudian digunakan untuk memberantas dakwah. Termasuk memfokuskan pada kalangan intelektual muda. Sebab para pemuda adalah penggerak perubahan.
Sedangkan kebangkitan Islam dicapai melalui dakwah. Hal ini yang tak dinginkan musuh-musuh Islam, menyatukan dakwah dengan pemahaman dan aktifitas pemuda. Sehingga wajar, ketika deradikalisasi masif dilakukan di kehidupan kampus dan sekolah-sekolah.
Berdirilah Tegak Pemuda-pemudi Islam!
Pemuda-pemudi Islam kokoh sebab kebenaran yang ia genggam. Era post modern memiliki suasana yang panas ketika syari'at Islam digenggam kuat-kuat. Hal ini tak berarti, sebab keimanan telah menjadi degup jantung yang tak berhenti kecuali mati.
Maka, meskipun musuh-musuh Islam memiliki jutaan rudal, tank-tank perang, anggota intelijen, semuanya bukanlah amunisi untuk meredam ghirah dakwah.
Dunia ini ada dalam genggaman Allah. Dialah penulis skenario kehidupan. Dialah penentu titik awal bangkitnya manusia dengan turunnya cahaya Islam, hingga memundurkan manusia sebab Islam yang dilepaskan. Bukankah Rasulullah memulai dakwah ini tanpa kekuasaan?
Bukankah Rasulullah mengawali dakwah ini tanpa koalisi dan dihinakan? Jadi, beranilah menunjukkan bahwa pemuda-pemudi Islam memiliki posisi tawar yang tinggi. Tak mampu terbeli dengan duniawi, hanya syurga sebagai harga untuk menjual diri.[MO/sr]

Posting Komentar