Oleh : Sumini 

Mediaoposisi.com- Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Jenderal Polisi Budi Gunawan menyatakan, sebanyak 39 persen mahasiswa di Indonesia sudah terpapar paham radikal.

Ini disampaikan Budi saat mengisi ceramah umum di Universitas Wahid Hasyim, Semarang, Sabtu (28/4/2018).Budi  memaparkan angka tersebut didapat dari hasil penelitian BIN tahun 2017.

Dalam ceramah umum bertajuk Strategi Perguruan Tinggi untuk Menangkal Paham Radikalisme dan Terorisme tersebut ia mengungkap,  hasil penyidikan aksi teror semakin menegaskan kampus tempat tumbuh dan berkembang paham radikal yang kemudian menumbuhkan bibit teroris baru.

Jelas terlihat ada upaya untuk mengaitkan isu rasikalisme dengan terorisme. Misal, dalam upaya pencegahan dan pemberantasan terorisme, muncul wacana strategis deradikalisasi. Itu bertumpu pada asumsi bahwa pemicu terorisme adalah radikalisme atau paham radikal. Mereka biasa mengatakan bahwa radicalism is only one step short of terrorism.

Dan sulit dibantah bahwa hingga saat ini upaya mengaitkan terorisme dengan Islam itu masih terjadi. Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, misalnya, pernah mengatakan bahwa selama masih terjadi konflik di negara-negara Islam, permasalahan terorisme tidak akan pernah selesai. 

Menurut dia, Indonesia mendapatkan tumpangan problem saja dari ideologi salafi jihadi dan ideologi takfiri. Demikian Jenderal Tito menyampaikannya saat pengukuhan dia sebagai Guru Besar di Auditorium STIK/PTIK Jakarta 26 Oktober 2017.

Dari ucapannya itu tentu yang dimaksud ideologi takfiri adalah Islam. Karena di Islamlah ada definisi yang jelas antara Muslim dan kafir. Pengkafiran (takfiri) itu diuraikan secara gamblang dalam al-Quran. Artinya, itu bagian dari ajaran Islam. 

Misal, mereka yang menolak al-Quran dan kerasulan Muhammad saw disebut kafir. Itu contoh dari takfiri. Namun demikian perlu digarisbawahi bahwa semua kata kafir dalam al-Quran tidak ada satupun yang menyuruh melakukan terorisme.

Namun faktanya umat Islam yang jadi tertuduh. Radikalisme dan terorisme menyerang umat Islam. Atau minimal mengekang umat Islam supaya tidak membawa ajaran Islam ke ranah politik. Meningkatnya kesadaran politik Islam di kalangan mahasiswa bagaimana pun telah menjadi ancaman bagi kelangsungan sistem sekuler kapitalis dan para penjaganya.

Istilah "radikal" bisa mempunyai konotasi positif atau negatif. Tergantung pengguna, konteks dan penggunaannya. Menurut Sarlito Wirawan, "radikal" adalah afeksi atau perasaan positif terhadap segala sesuatu yang bersifat ekstrem sampai ke akar-akarnya. Sikap radikal akan mendorong prilaku individu untuk membela mati-matian kepercayaan, keyakinan, agama atau ideologi yang dia anut.

Namun, ketika istilah "radikalisme" disematkan pada Islam sehingga lahir antitesis, "perang melawan radikalisme", maka konotasi "radikalisme" di sini jelas negatif. Apalagi dibumbui dengan berbagai framing "radikalisme mengancam keutuhan negara". 

Akibatnya, konotasi yang terbentuk dalam benak masyarakat jelas negatif. Pendek kata, penggunaan istilah ini jelas merupakan propaganda untuk menyerang Islam, umat Islam dan proyek perjuangan Islam yang dianggap mengancam kepentingan penjajah dan para kompradornya.

Umat Islam di Indonesia tentu harus memahami sekaligus mewaspadai mencuatnya kembali isu radikalisme dan tetorisme ini. Caranya dengan terus berdakwah untuk menjelaskan ajaran Islam.

 Dengan itu masyarakat paham bahwa semua ajaran Islam, termasuk di dalamnya Khilafah, merupakan rahmat dari Allah SWT, bukan keburukan sebagaimana yang dipropagandakan oleh pihak yang mengidap penyakit islamophobia. Dakwah Islam yang bersifat fikriyan (pemikiran) dan la' unfiyah (tanpa kekerasan) sehingga tidak mungkin melahirkan terorisme.

Kemudian perlu juga menjelaskan bahwa ancaman sesungguhnya bagi negeri ini adalah sistem kapitalisme-liberalisme. Umat harus paham bahwa berbagai kerusakan di bidang ekonomi, hukum, sosial dan politik yang terjadi di negeri ini bersumber pada penerapan sistem Kapitalisme ini. 

Dana Moneter Internasional/IMF turut mengakui bahwa Kapitalisme telah gagal untuk mensejahterakan dunia. Seperti dilaporkan Oxfam pada awal tahun lalu bahwa krisis kesenjangan global mencapai titik ekstrem. Sebesar 1% orang kaya di dunia memiliki kekayaan yang setara dengan semua penduduk dunia ini jika digabungkan.

Yang terakhir, menyadarkan masyarakat bahwa apabila kita peduli untuk melepaskan negeri ini dari berbagai persoalan, kita harus memilih sistem yang baik dan benar. 

Itulah syariah Islam yang berasal dari yang Mahabaik, yakni Allah SWT. Keberadaan syariah sebagai rahmat adalah hasil dari syariah yang diterapkan. Konsekuensinya, syariah hanya akan mewujudkan rahmatan lil 'alamin manakala diterapkan secara keseluruhan atau kaffah.[MO/sr]


Posting Komentar