Oleh : Ama nur rahmalie 
(Aktivis Forum Intelektual Muslimah & Mahasiswi Sastra Ingris Unpam)

Mediaoposisi.com- Aksi terror yang terjadi dini hari pada tiga rumah ibadah di Surabaya menjadi duka Indonesia yang kian bertambah. Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memaparkan kronologi pengeboman Tiga Teror bom Surabaya hari ini: dimulai titik awal pada jam 7.30 di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya.

 Sekitar lima menit kemudian bom kedua meledak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno; bom ketiga meledak tidak lama setelah bom kedua, yakni bertempat di Gereja GKI di jalan Diponegoro, tribunnews.com (13/5/2018).

Beliau juga mengatakan terkait pelaku-pelaku terror tersebut berupa dugaan sementara, pelakunya adalah sekeluarga, regional.kompas.com (13/5/2018).

Beliau juga mengatakan bahwa masih para pelaku terror ini ada kaitannya dengan Gerakan Islam Jamaah Anshorut Daulah dam Jamaah Anshorut Tauhid, cnnindonesia.com (13/5/2018). Beliau juga memaparkan kedua gerakan tersebut adalah simpatisan ISIS cnnindonesia.com (13/5/2018).

Menanggapi terror bom Surabaya, Tokoh ulama, ustad dan muslimah pun angkat bicara. Ustad Hafidz Abdurrahman mengatakan “Islam mengharamkan terror.

Apalagi membunuh jiwa-jiwa yang tidak bersalah, baik muslim maupun non muslim. Apalagi yang hidup dalam perlindungan kaum muslim” IndonesiaMilikAllah (13/5/18).

Ustad Rokhmat S.Labib pun angkat bicara dan turut mengecam aksi tersebut, beliau mengatakan “Membunuh orang yang tidak berdosa adalah haram dan pelakunya diancam Allah SWT dengan azab yang berat. Juga merugikan Islam, umat Islam dan dakwah Islam.

Maka bagaimana mungkin tindakan tercela itu dilakukan oleh gerakan Islam yang tulus berjuang demi izzul Islam wa al-Muslimin?’’ IndonesiaMilikAllah (13/5/18). Fika M. Komara, penulis dan founder gerakan Muslimah Negarawan dalam twitternya  mengatakan “Meledakan bom dirumah ibadah itu jahat, dosanya besar dan bukan ajaran Islam.

Yang lebih jahat yakni mereka yang mengeksploitir isu bom ini, jualan narasi terorisme, memfitnah aktivis muslim secara massif melainkan label dan memecah belah umat” (13/5/18).

Dari Islamkah?

Pernah ada kasus menimpa orang sebelum kalian; ada seseorang yang terluka, lalu mengambil sebilah pisau, kemudian dia gunakan untuk melukai tubuhnya hingga darahnya pun tidak mau berhenti, sampai akhirnya dia pun mati. Allah berfirman: Hamba-Ku telah bergegas menemui-Ku karena ulahnya, maka Aku pun mengharamkan surga untuknya.” [HR .al-Bukhari].

Rasanya hadist diatas menjadi muhasabah besar bagi semua oknum yang selalu menframingkan bahwa aksi terror baik yang dilakukan secara individu atau kelompok itu berasal dari Islam.

Sudah cukup paparan hukum syara terkait haramnya hokum bunuh diri seorang muslim yang sudah dimuat dalam buku-buku ulama terdahulu ataupun ulama kontemporer, Buku-buku fiqih, journal Islam, makalah ataupun artikel-artikel yang bertebaran dijagat dunia maya.

Apalagi jika hal tersebut berkaitan dengan nyawa orang banyak, termaksud nyawa non-mulsim yang tak bersalah pun sangatlah fatal. Rasulullah bersabda “Siapa saja yang menganiaya ahli dzimmah, maka sesungguhnya akulah yang akan menjadi penuntutnya”.

Para oknum dalam aksi-aksi terror yang terjadi sering mencoba memframingkan bahwa makna bom bunuh diri yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang mengaku dari gerakan Islam, selalu mengarah pada aksi jihad fii sabilillah.

Seolah gerakan-gerakan ini melakukan sebuah aksi kecaman yang berasal dari pemahaman Islam, menganut paham  radikal dan pelakunya adalah aktivis gerakan Islam. Para oknum ini juga tidak pernah memaparkan makna jihad yang sesungguhnya dalam Islam ataupun meluruskan kembali kaitannya bom bunuh diri dalam Islam.

Ini akan menimbulkan pemahaman yang salah pada masyrakat awam yang melihat, mendengar dan menyaksikan apa yang diberitakan.

Efeknya masyarakat awam akan menelan mentah-mentah berita, tanpa ada pelurusan makna dan mengjudgement bahwa sosok aktivis Islam apalagi yang dalam aktivitas dakwahnya menyuarakan tentang Islam kaffah dalam sebuah gerakan pun menjadi sasaran empuk framing Teroris.

Padahal jelas dalam ajaran Islam makna jihad fii sabilillah yang sesungguhnya sangatlah jauh dari makna bom bunuh diri. Apalagi aksi bom yang menumpahkan darah orang-orang yang tak bersalah meskipun itu adalah non muslim.Petaka Bom Surabaya, Islamkah?

Posting Komentar