Revolusi| Mediaoposisi.com- Gagasan Islam Wasathiyah sebenarnya sudah sejak lama digulirkan di Indonesia. Bahkan saat Ijtima’ Ulama di Tegal pada Juni 2015 telah mengusung ide tersebut. Menteri Agama dan wapres JK mengatakan bahwa pemikiran Islam Indonesia bisa menjadi referensi terbesar dunia.

Umat Islam di Indonesia harus menunjukkan Islam yang moderat dan toleran, menjadi jalan tengah serta mampu menjaga kebersamaan dan kedamaian. Apa yang disampaikan Menteri Agama sebenarnya sudah pernah diopinikan juga oleh mantan  presiden SBY dalam pidatonya di depan peserta APEC CEO Summit tahun 2011 di Honolulu, Amerika Serikat.

Saat ini, gagasan tersebut digulirkan kembali pada pertemuan Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia pada 1-3 Mei 2018 di Bogor. Pada acara tersebut dirumuskan bersama konsep peradaban dunia dan implementasinya dalam konsep Islam Wasathiyah. Pertemuan itu dihadiri 100 ulama dan cendekiawan muslim dari Indonesia dan berbagai negara lainnya. Lantas, apa sebenarnya Islam Wasathiyah itu?

Sebuah gagasan terkadang mampu memperdaya, terlebih jika disampaikan dengan retorika yang meyakinkan dan disampaikan oleh tokoh terpandang. Namun, kita harus jeli melihat semua itu. Jangan menelan mentah-mentah hal tersebut, dibutuhkan kepekaan dan sikap kritis menanggapi hal tersebut.

Baca Juga : Mempertanyakan Islam Radikal Versi Penguasa

Sepintas gagasan Islam Wasathiyah merupakan gagasan yang seolah-olah positif dan elegan. Akan tetapi, setelah ditelusuri, gagasan Islam Wasathiyah tidak terlepas dari peristiwa WTC 11 September 2001, dimana kelompok Muslim dituduh bertanggungjawab atas kejadian tersebut.

Akhirnya umat Islam menjadi tertuduh, dan diciptakanlah istilah ‘Islam Radikal’ untuk menggiring kaum Muslim agar menerima istilah ‘Islam Wasathiyah/Moderat’.

Kata ‘Wasathiyah/Moderat’ atau jalan tengah mulai dikenal luas pada masa abad pencerahan di Eropa. Sebagaimana diketahui konflik antara pihak gerejawan yang menginginkan dominasi agama dalam kehidupan rakyat dan kaum revolusioner yang berasal dari kelompok filosof yang menginginkan penghapusan peran agama dalam kehidupan menghasilkan sikap kompromi. Sikap ini kemudian dikenal dengan istilah sekulerisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan publik.

Islam Moderat, dalam bahasa Arab modern, disebutkan sebagai al-Islam al-wasat. Moderasi Islam diungkapkan dengan frasa wasatiyyat al-Islam. Dalam penggunaan yang umum saat ini, istilah ‘Islam Wasathiyah’ atau ‘Islam Moderat’ diperlawankan dengan istilah lain, yakni Islam Radikal. Islam Moderat adalah corak pemahaman Islam yang menolak cara-cara kekerasan yang dilakukan oleh kalangan lain yang menganut model Islam Radikal.

Dari berbagai pernyataan para politisi dan intelektual Barat terkait klasifikasi Islam menjadi ‘Islam Moderat’ dan ‘Islam Radikal’ atau Ekstrimis, akan kita temukan bahwa yang mereka maksud ‘Islam Moderat’ adalah Islam yang tidak anti Barat (baca: Kapitalisme), Islam yang tidak bertentangan dengan sekulerisme, serta tidak menolak kepentingan Barat.

Substansinya, ‘Islam Moderat’ adalah Islam sekuler, yang mau menerima nilai-nilai Barat seperti demokrasi, HAM, serta mau berkompromi dengan imperialisme Barat dan tidak menentangnya. Ringkasnya, ‘Islam Moderat’ dianggap sebagai ‘Islam yang ramah’ dan bisa jadi mitra Barat.

Dasar Argumentasi
Pengusung gagasan ‘Islam Wasathiyah/Moderat’ membangun argumentasinya berdasar pada logika akal bahwa benda secara empirik memiliki dua kutub yang kontradiktif dan bagian tengah yang merupakan titik keseimbangan, keadilan dan keamanan dari dua kutubnya.

Ini merupakan posisi yang paling baik. Ini pula yang dimiliki oleh Islam yang mengajarkan sikap moderat dalam segala hal baik berupa keyakinan, syariat, ibadah, akhlak dan sebagainya. [Abdul Qadim Zallum, Mafahim Khathirah li Dharbi al-Islam].

Lebih dari itu, mereka menggunakan sejumlah ayat di dalam Al-Quran yang dipandang menyerukan untuk mengambil jalan tengah dalam berbagai hal. Salah satunya adalah firman Allah SWT :

“Demikianlah kami jadikan kalian ummat yang wasath[an] (terbaik dan adil)…” (QS. Al-Baqarah:143)

Ummatan wasathan dalam ayat tersebut berarti “golongan atau agama tengah”, tidak ekstrim. Kata “wasath” dalam ayat diatas, jika merujuk kepada tafsir klasik seperti al-Tabari atau al-Razi, mempunyai tiga kemungkinan pengertian, yakni umat yang adil, tengah-tengah, atau terbaik. Mereka beranggapan bahwa ayat ini telah memerintahkan umat islam untuk menjadi umat yang moderat. Kata wasath[an] pada ayat tersebut diartikan ditengah-tengah.

Dengan demikian umat Islam tidak boleh terlalu berlebih-lebihan dalam beragam seperti yang dipraktekan oleh orang Yahudi, yang dalam keyakinan umat Islam, melakukan distorsi atas kitab suci mereka serta melakukan pembunuhan atas sejumlah nabi. Namun sebaliknya, mereka juga tidak boleh terlalu bebas sebagaimana halnya orang Nashrani yang mengenal tradisi “rahbaniyyah” atau kehidupan kependetaan yang menolak secara ekstrim dimensi jasad dalam kehidupan manusia.

Baca Juga : Waspada Islam Moderat

Meluruskan Paradigma
Jika kita cermati, maka sesungguhnya penggunaan Surat al-Baqarah: 143 untuk menjustifikasi ‘Islam Wasathiyah/Moderat’ merupakan argumentasi yang dipaksakan. Karena jika kita mengaitkan makna ‘ummatan wasathan’ dengan tafsir ulama terdahulu, maka akan kita dapati yang dimaksud ‘ummatan wasathan’ dimaknai sebagai umat pilihan atau umat terbaik.

Imam ath-Thabary misalnya mengartikan kata ‘awsath’ dengan khiyar yakni yang terbaik dan pilihan. Sehingga status sebagai umat terbaik itu tidak  bisa dilepaskan dengan risalah Islam yang diberikan kepada mereka. Sayd Quthb memaknai ‘ummatan wasathan’ sebagai umat yang adil dan pilihan serta menjadi saksi atas manusia seluruhnya. Maka umat Islam menjadi penegak keadilan di tengah-tengah manusia.

Sedangkan Ibnu Katsir menyatakan, Allah telah menjadikan umat ini sebagai ‘ummah wasath’ dengan memberikan pengkhususan dan keistimewaan pada mereka berupa syariah yang paling sempurna, tuntunan yang paling lurus serta jalan yang paling jelas. Status mulia itu dapat disandang manakala mereka menjalankan dan mengamban risalah tersebut.

Dengan demikian, dapat difahami bahwa ‘Islam Wasathiyah/Moderat’ bukanlah pemahaman yang datang dari Islam dan tidak dikenal dalam Islam. Dalam Islam tidak ada klasifikasi Islam Wasathiyah/Moderat, Islam Ramah, Islam Radikal atau Islam ekstrimis.

Karena Islam  adalah agama (diin) yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatur hubungan antar manusia dengan Allah, dengan sesamanya, dan dengan dirinya sendiri. Inilah yang disebut Islam Kaffah atau menyeluruh.[MO/mm]

Posting Komentar