Oleh : Lathifatul Izza 

Mediaoposisi.com- Pendidikan merupakan suatu sarana agar terciptanya generasi yang unggul dan intelektual, mampu membawa bangsanya kepada peradaban yang gemilang. Dalam dunia pendidikan, terdapat subjek dan objek pendidikan. 

Subjek atau pelaku dari pendidikan itu adalah guru dan murid, dua pelaku tersebut selalu berhubungan dengan dunia pendidikan dan tidak bisa dipisahkan. Sedangkan objek dari pendidikan adalah kelas, media pembelajaran. Subjek dan objek dalam pendidikan keduanya harus berkesinambungan.  

Zaman ketika islam masih berjaya, pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting, saat itu banyak ulama bermunculan, dan intelektual dalam berbagai bidang juga tidak sedikit. 

Rakyat berlomba- lomba untuk belajar hingga tingkat tinggi, karena pada saat itu biaya pendidikan juga digratiskan, segala kebutuhan terpenuhi, dan rakyat juga sejahtera. 

Selain siswa, guru atau pengajar ketika itu juga sangat dihormati, Negara menjamin kesejahteraan guru, gaji yang ditetapkan pun tidak main- main, sehingga saat itu guru tidak perlu dipusingkan dengan pemenuhan kebutuhan hidup sehari- hari, mereka hanya fokus bagaimana agar ilmu yang diamalkan bisa diterima siswa dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari- hari. 

Dari kegemilangan islam itu, kita mengenal Abbas ibnu firnas, ilmuwan yang mencetuskan ide pertama kali tentang pembuatan pesawat terbang. Itu jauh sebelum kita mengenal wright bersaudara yang populer itu. 

Itu wajar karena yang diajarkan di sekolah- sekolah baik umum maupun swasta, banyak yang tidak mengajarkan dan mengenalkan ilmuwan islam, padahal terbukti dalam sejarah, output yang dihasilkan dari peradaban islam terbukti jelas, mampu mencerdaskan masyarakat. 

Kita bandingkan dengan peradaban saat ini, sangat berbanding terbalik, banyak orang pintar, bahkan cerdas, tetapi kepintaran mereka seakan tidak dihargai di negeri sendiri. 

Atau karya mereka tidak difasilitasi, sehingga yang terjadi banyak sarjana pengangguran, dan mereka pun tak bisa mengamalkan ilmu yang dimilikinya. 

Sehingga adanya sekolah kejuruan yang tujuan awalnya adalah bisa langsung mendapatkan pekerjaan, akan tetapi pada akhirnya juga sama, mereka harus banting tulang untuk mendapatkan pekerjaan, semua dituntut harus kreatif, hingga seorang sarjana pun juga begitu, bahkan mungkin lebih banyak lagi.

Kapitalisme berasal dari kata “capital” yaitu uang, dan mendapat imbuhan “ isme” karena nama ideologi, ini bisa kita lihat sekarang, standard yang dipakai didalamnya adalah berupa materi/uang. 

Semua urusan bisa mudah dengan adanya uang, hingga belajar sampai tingkat tinggipun inginnya mendapat pekerjaan yang layak, dan banyaknya orang pintar tak membuat masalah satu persatu pudar akan tetapi masalah terus tersebar. 

Jati diri sekolah atau perguruan tinggi yang seharusnya jadi wadah dan gudangnya kaum in telektual yang diharapkan bisa membangun peradaban yang besar, akhirnya harus ikut dan tergerus dengan keadaan zaman, tugas yang menumpuk tak membuat ilmu terus bertambah akan tetapi selalu hilang karena tujuan awal dan pengaruh dari adanya sistem yang ada di negeri ini.[MO/sr]

Posting Komentar