Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com- NU rupanya berbuat ulah, kali ini statemen kontroversial kembali muncul dari ormas hijau rasa “pelat merah” ini. Pelakunya lagi lagi Said Agil Siradj (SAS) yang dikenal dekat dengan Jokowi.

Sosok “Anti Jenggot” ini menilai bahwa Kemenag seharusnya mengeluarkan stempel haram bagi penceramah yang tidak baik, tanpa tedeng aling aling ia lantas menyebut sosok ulama yang dikriminalisasi, Habieb Rizieq Syihab (HRS).

"Yang tidak baik lah yang harus dikeluarkan misalkan Habib Rizieq, misalkan. Saya tidak sependapat intinya (soal 200 nama), harusnya adalah dikeluarkan warning jangan undang jika yang tidak baik berceramah, berdakwah seperti misal Habib Rizieq.” Ungkap Said.

Said lantas menuding HRS sebagai ulama yang tidak patut dicontoh masyarakat Indonesia.

“Kasih kriteria lah jangan undang misal yang masih mengkritik Pancasila, saat dakwah ngomong kotor, misuh misuh, caci maki, memfitnah, menghasut, provokasi, ujaran kebencian," lanjutnya.

Hal yang berbahaya dari NU saat ini, selain dekatnya mereka dengan Negara Kafir Harbi Amerika Serikat adalah pengagungan terhadap kelompoknya sendiri. SAS tanpa menujukkan bukti yang argumentatif dengan beraninya menuding HRS sebagai ulama tak baik.

Tudingan SAS terhadap ulama kelompok lain patut disayangkan, pasalnya NU sebagai ormas Islam “senior” seharusnya menjaga ukhuwah Islamiyah bukan merusak persatuan umat. Said tak mencerminkan bagaimana seharusnya ormas Islam senior dalam menghadapi perbedaan pendapat.

Tindakan yang memalukan bila senior tak mampu menjadi contoh untuk juniornya, seperti FPI, HTI, PKS. Para junior telah banyak mengadakan pertemuan lintas ormas serta menjaga ukhuwah Islamiyah. Dari pengamatan Mediaoposisi.com, haram bagi junior untuk menuding ulama bukan ormasnya sebagai ulama tidak baik.

Tak heran, bila muncul anggapan bahwa NU pimpinan SAS mengalami paradox toleransi, doyan menyuarakan toleransi terhadap non Muslim tapi tidak untuk sesama muslim, khususnya ormas “kemarin sore” yang berbeda pandangan dengan NU.

Kecendrungan ini harus diwaspadai oleh umat Islam serta NU yang hanif. Pasalnya, NU selangkah menuju fasisme religious. Paham pengagungan kelompoknya sendiri yang dibalut penampilan “Islamis” ini bukanlah puncak gunung es, tapi awal dari pendakian menuju gunung es “Perpecahan Umat”.[MO]

Posting Komentar