Oleh : Nurina Purnama Sari, Aktivis Dakwah

Mediaoposisi.com-  Setiap kali ada berita bom gereja, disaat itu pula saya merasa lunglai dan sakit hati. Bukan hanya karena jatuhnya korban manusia yang tak bersalah. Tetapi juga karena untuk kesekian kali, agama ini menjadi tertuduh lagi. Masih dengan narasi lama yang hampir sama, hanya berbeda pelaku saja. 

Polri baru saja merilis profil pelaku pemboman tiga gereja di Surabaya. 2-3 bukti foto yang diambil dan akun facebook yang bersangkutan menampilkan foto keluarga Muslim pada umumnya. Lengkap foto suami, istri dan empat anak-anaknya. Dalam beberapa foto keluarga tersebut, memperlihatkan anggota keluarga mengenakan identitas keislamannya. 

Istri  mengenakan gamis serta kerudung menutup dada, serta dua anak perempuan yang mengenakan kerudung pula. Apa yang salah dengan foto tersebut? tentu tidak ada yang salah. Namun bisa jadi identitas keislamannya kelak akan dipersalahkan sejak Polri resmi merilis foto keluarga tersebut.

Kasus pengeboman tiga gereja di Surabaya menjadikan kita takut sekaligus waspada akan terulang kejadian yang serupa, jelas itu kejahatan nyata. Namun yang lebih jahat lagi, jika narasi media berita terus menerus membangun opini seakan-akan profil keluarga seperti pelaku layak dicurigai.

Salah satu media tersebut adalah Kompas misalnya, 

(https://regional.kompas.com/read/2018/05/14/02082781/warga-sekitar-kaget-terduga-peledakan-bom-di-surabaya-itu-ternyata-dita ) yang menuliskan hasil wawancara warga, saya kutip di sini. 

Dari penuturan Pak RW tadi, dia juga sering shalat berjamaah, ikut pengajian yang ada di kampung, sama orang sekitar juga mau ngobrol,” 
kata Armuji. “Istrinya juga sehari-hari enggak pake cadar, biasa aja. Makanya, Pak RW dan saya tadi sempat sedikit kaget, begitu polisi menunjukkan bahan dan bom rakitan juga barang bukti lain dari penggeledahan di dalam rumah,” lanjut dia. 

Armuji lantas mengimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada dengan lingkungan sekitar dan tetap menjaga suasana tetap kondusif. “Kalau dulu kan, orang-orang seperti itu kebanyakan bercadar, jenggot panjang, celana cingkrang, tapi sekarang kan enggak. Makanya, harus tetap waspada meski tidak boleh berburuk sangka terlebih dahulu,” pungkasnya.

Izinkan saya untuk menyimpulkan, label kejahatan itu kini bukan hanya disematkan pada keluarga pelaku. Tapi juga menyerang jutaan keluarga Muslim Indonesia yang membawa identitas keislaman yang sama. Bukan kejahatan fisik memang, tapi kejahatan melalui narasi. 

Menyebarkan fitnah dan membangun opini di masyarakat jika ada satu keluarga Muslim, ditandai dengan identitas fisik mereka (misalnya bercelana cingkrang, jenggot, peci) yang Muslimahnya mengenakan cadar atau gamis berikut kerudung  tak lupa dengan kaos kakinya. 

Jumlah anak pun jadi sorotan. Keluarga Muslim yang memiliki anak lebih dari dua, yang jika anak perempuannya dibiasakan memakai kerudung ketika keluar rumah,wajib ditandai dengan label radikal. 

Aktivitas keluarga yang rajin ke masjid untuk shalat berjamaah, rajin datang kajian, rajin berdakwah. Maka tak segan-segan masyarakat akan memberi stigma negatif terhadap profil keluarga Muslim semacam itu, bahkan secara terang benderang melabeli mereka sebagai ‘keluarga teroris’. 

Pada akhirnya, wabah Islamophobia kini menjangkiti rakyat Indonesia. Yang namanya wabah, cepat menularnya. Wabah akut itu membawa keluarga Muslim menjadi korban fitnah kali ini. Padahal sejatinya, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan itu sendiri. 

Kenapa? karena fitnah mampu membunuh korban yang terfinah secara pelan-pelan. Yang pada akhirnya membuat umat Islam takut kepada ajaran Islam itu sendiri dan malu menampilkan identitas keislaman mereka lagi. Itulah yang membuat umat Islam merasa cukup menjadi Muslim yang benar sebatas  memiliki akhlak yang baik saja.

Padahal,  jika iman itu cukup ditaruh di atas sajadah, tidak mungkin Rasulullah SAW susah payah hijrah dari Makkah ke Madinah, mendirikan Daulah Islam di Madinah di mana posisi Rasulullah SAW pada saat itu bukan hanya sebagai nabi, tapi juga sebagai kepala negara. 

Rasulullah SAW mengatur sekaligus mengajarkan tata cara pemerintahan, politik, ekonomi, serta sosial kemasyarakatan. Dan itulah yang kini dipelajari oleh banyak keluarga Muslim saat ini. Mereka memiliki  kesadaran untuk memiliki pemahaman Islam yang menyeluruh, dengan rajin datang ke masjid serta meraup ilmu dari kajian-kajian Islami. Mempertebal iman agar tidak cukup menjadi Muslim abangan dengan cara rajin mengkaji kitab kitab ulama dan mendakwahkannya. 

Geliat inilah yang terbaca oleh musuh-musuh Islam. Mereka tidak rela Islam bangkit melalui kesadaran umatnya. Karena mereka sadar, Islam tak sekadar agama tetapi juga sebuah ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan. 

Dan kebangkitan Islam adalah hal yang tidak mereka inginkan. Berbagai upaya mereka lakukan untuk menghadang kebangkitan tersebut, salah satunya dengan memainkan isu war on terrorism. Selaras dengan itu  mereka membangun opini yang menimbulkan  Islamophobia  di tengah-tengah masyarakat.

Apapun fitnah yang menempa keluarga Muslim kini, sejatinya membuat kita makin yakin akan perkataan Rasulullah SAW ketika itu lisan beliau berkata : 

Sungguh, simpul-simpul Islam ('uraa al-islam) akan terlepas satu demi satu. Setiap kali satu simpul ('urwah) terlepas, orang-orang bergantung pada simpul berikutnya. Yang pertama terlepas adalah al-hukm (pemerintahan/hukum) dan yang terakhir adalah shalat.” [HR. Ahmad]. 

Dan sejak runtuhnya Daulah Khilafah Islam di Turki pada tahun 1924, umat Islam sudah terlepas dari hukum-hukum Islam. Dan kini simpul terakhir yang ingin mereka hancurkan ialah shalat, dengan menandai orang-orang yang rajin datang ke masjid untuk shalat sebagai cikal bakal teroris.

Kini makin terang benderanglah arah dan tujuan opini terorisme ini. Semata-mata dibuat untuk menyasar umat Islam yang mencoba bangkit dengan kesadaran keislamannya dan mendiskreditkan ajaran Islam, termasuk khilafah. Demi Allah, khilafah itu ajaran Islam yang mulia. Tidak pantas disandingkan dengan terorisme dan radikalisme. 

Dan benarlah sabda yang keluar dari lisan Rasulullah SAW bahwa kelak akan ada masanya umat ini menggenggam Islam seperti menggenggam bara api. Mudah-mudahan Allah SWT mampu meneguhkan diri kita dan keluarga kita di jalan Allah semata.[MO/sr]




Posting Komentar