Oleh : Ary H
Mediaoposisi.com- Seorang ustadz pernah bertanya, "Jika kita hidup di zaman Nabi Musa, kira-kira mau menjadi pengikut Musa atau Fir'aun?"

Pertanyaan ini tentu dijawab dengan, "Tidaaak!" secara serentak oleh para hadirin.

Pertanyaan ini seolah merupakan hal yang sepele. Namun di dalamnya terkandung tsabat (keteguhan) dan istiqomah (konsistensi) di atas jalan kebenaran.

Secara kasat mata, Musa a.s. bukanlah siapa-siapa. Ia adalah seorang anak yang ditemukan di sungai yang mengalir. Masyarakat pun tak mengenal ayah dan ibunya. Sedangkan Fir'aun adalah seorang penguasa tertinggi, bahkan saking kuasanya ia disembah oleh para pengikutnya. Semua titahnya adalah mutlak benar dan tiada salah di mata para pengikut setianya.

Musa a.s. bukanlah pemuda berharta. Sebelum mendatangi Fir'aun ia adalah seseorang yang menggembalakan ternak milik mertuanya. Sedangkan Fir'aun adalah seorang penguasa yang memiliki harta berlimpah, yang bisa membeli siapapun, termasuk mengendalikan opini dan persenjataan.

Musa a.s. tak memiliki pasukan. Ia mendatangi Fir'aun hanya ditemani oleh Harun a.s. Sedangkan Fir'aun memiliki ribuan pasukan dengan persenjataan yang lengkap. Termasuk pasukan tukang sihir yang mutakhir dan dapat diandalkan pada masanya. 

Secara kasat mata, seolah Musa a.s. adalah nothing sedangkan Fir'aun adalah everything. Semua hal bisa dikendalikan oleh Fir'aun. Ia bisa mengeluarkan kebijakan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang diduga akan mengancam kekuasaannya. Hanya karena ramalan bahwa ada seorang lelaki yang akan menjatuhkan kekuasaannya, maka semua bayi laki-laki yang terlahir harus dibunuh.

Sebuah kebijakan yang sangat biadab.

Akan tetapi di atas semua kebiadaban itu, mayoritas rakyat tak berbuat apa-apa. Lebih baik mencari aman di bawah kezaliman Fir'aun, daripada melawan tirani yang zalim.

Fir'aun merupakan simbol kezaliman pada masa lalu. Bisa jadi semua itu berulang dengan nama pemeran yang berbeda. Karena Historia Docet -kita belajar dari sejarah- atau Historia Vitae Magistra -sejarah adalah guru bagi kehidupan-. Apalagi sejarah Fir'aun merupakan kisah yang Allah Ta'ala sajikan di dalam Al Quran. Tentunya terkandung banyak ibrah di dalamnya.

Saat kezaliman ala Fir'aun berulang, tentu semua insan akan ditanya mengenai perannya masing-masing. Para penulis muslim, tentu akan ditanya di Akhirat kelak tentang apa yang dituliskan olehnya.

Karena itulah, seorang penulis muslim harus memastikan, di atas apakah ia akan berpijak.
Sejatinya, sebagai seorang muslim tentunya kalimah "La Ilaha Illallah Muhammadun Rasulullah" yang dijadikan pijakan. Yang kedua persaksian ini melahirkan ketaqwaan kepada Allah Swt.

Menelaah perintah dan larangan Allah, kemudian menjadikannya sebagai pijakan dalam menata kata.

Tentu tidak mudah saat kebenaran terkungkung dalam karakter yang terbunuh. Namun jika tak disuarakan dan dituliskan, ia akan mati lebih lama. Tak ada lagi kehidupan, tak ada lagi harapan, karena seolah kezaliman telah menempati puncak kejayaannya.

Sungguh tidak layak jika ada penulis muslim yang malah melingkarkan perutnya di seputar jari jemari kezaliman. Kemudian ia menuliskan apapun sesuai suapan yang masuk ke perutnya.

Benar-benar tak layak jika ada penulis muslim yang malah mendekatkan mulutnya di dekat kursi kezaliman. Kemudian ia menjilat-jilat apa yang mendudukinya hanya demi segenggam rupiah.

Kata-kata merupakan buah pikiran. Tentunya ia memiliki asas yang dijadikan pijakan. Bukankah keimanan merupakan satu-satunya yang layak dijadikan pijakan?

Misalkan, di saat ajaran Islam dan kaum muslim tersudut karena narasi terorisme yang sangat tak adil. Semestinya seorang penulis muslim tampil melakukan pembelaan terhadap ajaran Islam.

Selain tentunya ia pun menjelaskan bahwa tindakan biadab terorisme itu tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Sungguh mengecewakan jika ada penulis muslim yang malah menari-nari serta menabuh genderang kecurigaan yang lebih besar atas agamanya sendiri.

Kemudian menggiring opini dan membangun pembenaran seolah terorisme itu hanya terlahir dari Islam dan umatnya. Padahal di saat yang bersamaan, pikiran dan kata-katanya tumpul untuk melekatkan narasi terorisme itu kepada selain Islam dan kaum muslim.

Sangat mengecewakan ketika penulis muslim menstigma negatif kain bertuliskan kalimah tauhid. Tetapi pada saat yang sama ia membisu ketika bendera agresor Israel dikibarkan dengan ceria.

Sebagaimana Fir'aun, kezaliman para penjaga kapitalisme atas dunia Islam pun pasti berakhir. Sedangkan dosa kata-kata yang memfitnah, menyudutkan, mempersekusi, membully serta menggiring opini negatif terhadap Islam akan terus mengalir hingga hari Kiamat.

Allah Swt berfirman,
"Dan dia (Fir'aun) dan bala tentaranya berlaku sombong, di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami."
(TQS. Al Qashsah : 39)

Oleh karena itulah, sebelum terlambat. Para penulis muslim yang terhormat, marilah kita bela Islam sesuai kapasitas kita. Jangan malah ikut-ikutan mencitraburukkan Islam. Karena jari-jari kita akan bicara di Yaumul Hisab kelak, mengenai kata-kata apakah yang telah ia tuliskan. Semoga Allah Ta'ala memudahkan setiap urusan kita. Aamiin.[MO/sr]

Posting Komentar